"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Hari ini, Minggu Paskah III dengan Injil dari Lukas 24:13-35. Dalam versi berbeda, kembali kita diajak mengkontemplasikan perjalanan 2 orang murid ke Emaus.

Kita tahu, usai menyaksikan kematian sang Guru mereka menjadi lemah lunglai dan putus harapan. Sehingga, mereka memutuskan pulang kampong ke Emaus. Saking sedihnya, mereka tidak sadar bila di perjalanan mereka ditemani oleh sang Guru sejati.

Tak beda dengan pengalaman kita. Manakala kita sedang fokus dengan satu perkara, kita bisa tidak melihat hal yang lain. Fokus itu seolah sudah menguasai seluruh indera kita, dan mematikan rasa kita untuk yang lain. Kecuali, adalah perkara yang sedang menjadi fokus perhatian kita.

Bahkan, terjadi juga seorang yang dikenal pandai pun tiba-tiba menjadi seolah ‘pandir’ karena sedang ada dalam situasi yang begitu menghentak kesadaran, pengalaman shock. Waktu seolah berhenti berdetak, dan pandangan tiba-tiba kabur. Pikiran terasa buntu, sehingga nalar tak mampu berpikir apalagi mengambil keputusan.

Oleh sebab itu, ada nasehat yang berbunyi kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34). Tidak ada guna kita kuatir akan hari esok, sebab hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Ini adalah nasehat bijak yang berguna untuk kita mengendalikan diri. Sehingga, kita tidak dikuasai oleh kekuatiran dunia.

Jangan sampai, pengalaman 2 orang murid yang pergi ke Emaus ini menimpa kita semua: pengalaman pangling dengan Gusti Yesus. Saking batin kita dikuasai oleh kesedihan, kita tidak mampu melihat Gusti hadir dan menyapa kita semua, dan menjadi teman seperjalanan.

Itulah pentingnya arti sahabat yang bisa menjadi teman seperjalanan. Teman yang bisa saling mengingatkan, meneguhkan dan tak sungkan memberi teguran. Agar kita tidak larut, apalagi terperosok, dalam dunia sehingga kita pangling dengan asal dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan Allah kita.

Dari sebab itu, dalam kekawatiran dunia karena pandemic COVID-19 ini, mari kita sama-sama berupaya menjadi sahabat bagi yang lain. Harapannya, kita bisa menjadi teman seperjalanan yang bisa membantu untuk terus menjaga nyala api harapan. Semoga kita semua dimampukan menjadi berkat bagi sesama.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « SINGA dari GURUN TRANSENDEN »