Kita melihat bahwa segala sesuatu ada ber-pasangan, dalam hidup ini. Ada kiri, maka ada kanan. Ada terang, maka ada gelap. Ada siang, maka ada malam. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada kebaikan, dan ada yang kejahatan dst.
Hal serupa juga menjadi pembicaraan Gusti Yesus dengan Nikodemus, sebagai kelanjutan kisah kemarin dalam Injil hari ini: Yohanes 3:16-21 (Rabu biasa Pekan Paskah II).
Bila kenyataan hidup ini adalah berpasangan, jelas artinya bahwa hidup manusia selalu berhadapan dengan pilihan. Dan, pilihan seperti apa yang dibuat oleh manusia, itulah yang akan menyelamatkan atau membinasakannya. Namun, sudah menjadi kecenderungan umum bahwa manusia memilih hal yang menguntungkannya atau memudahkannya. Sehingga, kalau bisa duduk santai, mengapa harus berkeringat dan bersusah payah? Bila memikirkan diri sendiri lebih enak, ngapain perlu memikirkan nasib orang lain?
Dalam perbincangan antara Gusti Yesus dengan Nikodemus, kita diajak naik level dalam melhat kenyataan hidup ini. Pilihan bukan diletakkan, hanya pada perkara senang dan tidak senang saja. Tetapi, pilihan dilihat dalam kerangka tujuan akhir hidup manusia, yaitu pada perkara BENAR dan TIDAK BENAR.
Sebab, melakukan yang benar di hadapan Allah adalah pilihan yang akan membawa manusia pada terang. Supaya manusia tahu mana yang benar dan salah, Anak-Nya yang tunggal dikaruniakan kepada kita. Dialah terang yang diutus ke tengah kita, agar kita yang percaya kepada Nya memperoleh hidup kekal, dan tidak binasa.
Kendati demikian, kita semua tetap ada dalam bayang-bayang kebinasaan. Kita masih menyukai kegelapan dari pada pergi kepada terang itu. Sepanjang kita masih menyukai yang jahat, kita akan membenci terang supaya perbuatan yang jahat itu tetap tersembunyi. Itulah mengapa, ketika manusia berpindah ke kehidupan kekal dikatakan ada sukma yang tinggal di tempat gelap. Karena ketika masih ada di dunia, dia lebih menyukai kegelapan dari pada terang.
Dari sini, kita mengerti bahwa kegelapan setelah kematian bukanlah hukuman dari Allah, namun karena manusia itu sendiri dari semula tidak menyukai terang. Sedangkan Allah adalah sumber terang itu sendiri. Bagaimana mungkin, seseorang yang biasa tinggal dalam kegelapan bisa nyaman berjumpa dengan yang terang benderang? Bukankah, ia harus belajar mengenal terang itu dari sejak sekarang, agar nanti pun bisa tinggal bersama dengan Sang Terang Sejati dalam keabadian?
Sehingga, dalam pembicaraan dengan Nikodemus pun, Gusti Yesus mengatakan jika Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Dari sebab itu, marilah sejenak kita merenungkan hidup kita masing-masing. Menilik diri kita dalam keheningan yang dalam. Melihat kembali semua pilihan yang telah kita lakukan. Apakah saya lebih menyukai terang dari pada gelap, atau justru sebaliknya saya lebih memilih yang jahat?
Dalam situasi pandemi COVID-19 ini pun, pilihan itu tetap terbuka bagi kita semua. Dan, marilah kita memohon kepada Allah sang Terang Sejati; agar kita mencari dan tetap memilih yang benar dan yang baik, dari pada yang menyenangkan dan yang kita sukai. Kendati, untuk memilih yang benar dan yang baik, kita perlu berkeringat dan berlelah-lelah. Sebab kita tahu, dengan memilih yang benar, kita sedang menuju kepada Terang yang abadi.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah Dalem

