"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Pernah punya pengalaman diutus? Pasti kita semua pernah. Entah untuk tugas penting yang rahasia sifatnya, seperti memesan kue ulang tahun; atau sekedar pergi ke warung untuk membeli bumbu dapur. Apapun itu, perutusan adalah tugas yang menempatkan kita sebagai utusan.

Menjadi utusan, berarti kita telah dipilih karena dianggap bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Dan demi tugas itu, kita juga dibekali untuk menggenapi apa yang sudah kita miliki.

Hari ini, Gusti Yesus menampakkan diri kepada 11 murid yang lain ( Mrk 16:9-15), karena kesebelas murid itu tidak percaya dengan cerita Maria Magdalena, dan juga cerita dari 2 murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus. Kesebelas murid itu sedang berkabung dan menangis, sehingga kisah dari teman mereka seolah dongeng di siang bolong. Maka, Gusti Yesus mencela kedegilan hati mereka, yang tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Tak kita pungkiri bahwa kebangkitan orang mati adalah keelokan yang sulit terselami, manakala hati dipenuhi dengan sedih dan duka. Berita gembira kebangkitan seolah bertemu pintu rapat terkunci, sehingga tak bisa menepis rasa sedih yang sedang menyelimuti hati.

Serupa dengan pengalaman sehari-hari kita. Saat hati ini dirundung duka, berita gembira tidak bisa kita terima dengan lapang dada. Justru kegembiraan malah membuat semakin sesak dada yang sedang penuh dengan tangisan duka.

Di sini kita belajar, bahwa mengubah duka menjadi gembira adalah lompatan sikap dari kita. Serupa dengan lompatan-lompatan lainnya, perlu banyak energy kita keluarkan dan gerak kaki yang kuat, dan mungkin kita akan mendarat dengan sakit karena kaki terantuk batu atau tangan harus mencengkeram apapun yang ada di depan kita. Namun bagi yang berani melompat, akan sadar bahwa dia sudah berpindah tempat. Berpindah dari duka kepada suka cita.

Gusti Yesus menampakkan diri kepada para murid dalam rentetan berbeda, untuk menarik mereka melompat keluar dari duka menuju pada suka cita. Memelekkan mata agar tak berhenti pada ratapan sedih karena kehilangan, namun menjadi nyanyian suka cita karena harapan yang terus menyala. Sebab, Kristus disalib untuk bangkit mulia, bukan untuk mati sia-sia.

Sebab itu, di akhir Injil hari ini, Gusti Yesus mengutus mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injjil (kabar gembira) kepada segala makhluk!

Dalam situasi yang membosankan karena wajah tertutup masker, dan berjarak karena physical distancing; kita tetap diutus untuk melompat dari rasa tidak berdaya menjadi pribadi yang penuh suka cita dan mewartakannya kemana-mana. Mari bergandengan tangan menebarkan suka cita Injil. Membagi gembira di manapun kita ada. Tuhan memberkati.

Amin

Berkah dalem

Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « USAHA & HASIL PERJUMPAAN »