"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Tuguran kali ini semakin terasa maknanya. Ketika Gusti Yesus yang sendirian di Taman Gestsemani, semakin terasa sepinya.

Tak seperti Kamis Putih tahun-tahun lalu, bergiliran kita berjaga di depan Sakramen Mahakudus. Malam ini, Dia tersimpan rapi di Tabernakel. Sendirian saja..

Pagi ini, Yesus Kristus dijemput paksa oleh Tentara Roma. Dibawa ke Pengadilan, tanpa kawan. Sendirian saja..

Sore hari, kita akan mengenangkan ketika Tuhan Yesus menapaki kisah sengsara; memanggul salib mendaki ke puncak Golgota. Sakit, siksa, terluka sampai wafat. Dan, sekali lagi Tuhan Yesus sendirian..

Sepi, dan sedih sekali rasanya..

Kesepian semakin menggigit tatkala melihat Gereja tanpa hiasan seperti biasa. Nada dan lagu pun tiada menghias udara. Organ dan gamelan, sejenak mengiringi keheningan perayaan.

Hari Raya tanpa perayaan.. sungguh menyedihkan.

Namun, sungguhkah Tuhan merasa sepi dan sedih seperti yang kita rasakan?

Gereja memilih kisah Sengsara versi Injil Yohanes untuk direnungkan pada Jumat Agung ini. Dalam kutipan Injil Yohanes yang menjadi bacaan Kamis Putih, dikisahkan jika Tuhan Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.

Dia sudah tahu! Artinya: semua sudah dimengerti dan diterima oleh Yesus. Semua yang akan terjadi, sudah ada dalam rencana Nya. Secara sederhana sebagai manusia, saya mengerti seperti sakit yang kita alami. Ketika tanpa sengaja pantat kita menduduki paku, kita akan berteriak kaget dan mungkin marah. Namun, saat jarum suntik menembus pantat kita untuk memasukkan obat, kita menerima sakitnya dengan tenang. Serupa sakitnya, namun beda rasanya.

Maka, dalam kisah Sengsaranya, Yohanes pun mau berkisah bahwa Yesus memang terluka, terhina, dan sakit. Namun, Salib tidak membuatnya menderita. Sebab Salib adalah cara kematian yang dipilih sesuai rencana Nya. Dengan mati di kayu Salib, Dia tergantung antara langit dan bumi. Menjadi cara nyata untuk menempatkannya di tempat yang tinggi. Dia memang mati di kayu salib. Namun kemudian, Dia akan bangkit sebagai bukti bahwa Dia telah mengalahkan maut. Dan, sebagai bukti bahwa jalan kasih telah mengalahkan kegelapan.

Salib tak lagi menjadi lambang kesia-siaan yang membuat kita putus asa. Namun, memandang salib membuat kita terpesona akan rencana kasih Allah untuk menyelamatkan manusia. Dengan caranya itu, Dia telah memberikan jalan kasih untuk kita, sehingga kita bisa mengalahkan kuasa kegelapan.

Selamat merenungkan Jumat Agung, di rumah kita masing-masing. Mari kita buka Kisah Sengsara menurut Yohanes, sembari kita memandang salib yang ada di rumah kita masing-masing. Salam dan doa.

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « KEBERSAMAAN KESEDIHAN - Emaus »