"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Desa mawa cara, Negara mawa tata adalah ungkapan Jawa yang kalau diterjemahkan bebas, kira-kira bunyinya adalah: Desa memiliki aturan, Negara mempunyai hukum. 

Namun, ungkapan ini juga mau mengatakan bahwa tiap daerah mempunyai adat kebiasaan yang berbeda. Sebagai contoh adalah, orang Jogja dikatakan sebagai orang yang halus dalam ber-bahasa dan makanannya adalah gudeg. Padahal kita tahu, tak semua orang Jogja adalah seperti itu. Itulah stereotype atau cap atau labeling.

Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil ( Yohanes 3:31-36 ) bercerita soal kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, sebagai Dia yang berasal dari atas. Artinya adalah Dia tidak berasal dari bawah, atau bumi.

Serupa ungkapan Jawa di atas, Desa mawa cara, Negara mawa tata, berasal dari atas berarti mempunyai ciri berbeda dengan yang berasal dari bawah, atau bumi atau Dunia.

Yang berasal dari bumi/Dunia, dia termasuk pada bumi dan akan berkata-kata dalam bahasa bumi. Yang berasal dari Surga ada di atas bumi. Dan, akan memberi kesaksian tentang apa yang dilihatnya, dan yang didengarnya. Siapakah mereka yang berasal dari Surga? Mereka adalah yang menerima karunia ROH dan percaya kepada Dia.

Namun, sejatinya hal ini tidak mudah. Apalagi, ketika ada pandemi yang kita tidak tahu akan berakhir kapan. Situasi ini mudah sekali menyulut rasa takut dan kawatir kita. Kita gampang digelisahkan oleh banyak perkara. Informasi dan berita, membuat kita berpikir dan bertanya namun tak selalu menemu jawabannya. Sehingga, takut dan kawatir itu semakin besar.

Padahal, rasa takut dan kawatir itu tidak ada untungnya. Sebab, rasa takut dan kawatir itu tidak mengubah apapun. Jadi, mengapa takut dan kawatir dipelihara? Bukankah lebih baik kita mempertebal rasa percaya kita bahwa Allah akan membuat semuanya menjadi baik. Karena, kita semua mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang maharahim.

Oleh sebab itu, kita semua pun berupaya membuat kebaikan dalam situasi tak menentu ini. Kita saling berlomba melakukan kebaikan, dengan peduli dan rela berbagi. Alasannya adalah, karena Allah yang kita Imani telah lebih dahulu mengasihi kita sehingga, kita mengikuti ajaran-Nya dengan mengasihi sesama.
Itu juga alasannya, kendati Misa terselenggara online, kita tetap setia mengikuti dengan rasa haru. Karena kita tidak mau, obor iman kita kehabisan minyak. Dan, nyala apinya mati tertiup angin ketakutan dan kekhawatiran.

Saudari dan saudara, kita semua berasal dari atas. Maka, marilah kita berpikir dan bertindak dengan cara dari atas. kita bukan dari bumi, maka janganlah ketakutan dan kekhawatiran Dunia menghanyutkan kita hingga tenggelam. Seolah-olah, kita kita tidak mengenal Tuhan.

Mari terus eratkan gandeng tangan kita, siapapun kita, dimanapun berada. Agar nyala api iman dan harapan ini tak pernah padam. Amin

Tuhan memberkati

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « PASANGAN Masih dari SURGA »