Rm Banu April 2020 (25)
BURUH
Rabu, 19 Agustus 2020 12:49
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Buruh, pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya dari Pemberi Kerja atau pengusaha atau majikan. Wikipedia
Awalnya, hubungan antara buruh dan majikan terjadi hanya antara individu buruh dengan majikan semata. Sehingga, para buruh diperas oleh majikan dengan 20 jam kerja di tempat kerja yang buruk keadaannya. Sehingga terjadilah perlawanan pada tahun 1806. Hingga pada tahun 1881, terbentuklah persatuan para tukang kayu di Chicago dengan nama United Brotherhood of Carpernters and Joiners of America. Inilah awal serikat buruh yang kemudian merebak ke seluruh Negara.
5 September 1882, ada 20.000 orang melakukan parade Hari Buruh pertama di New York yang membawa spanduk dengan tulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi.
Dari tulisan singkat ini, kita simpulkan bahwa sebuah perubahan terjadi melalui proses yang panjang. Kedua, perubahan itu terjadi ketika mimpi beberapa orang disatukan sebagai suara yang sama. Dan, ketika kesepakatan itu terjadi, suara itu tak lagi hanya menjadi gaggasan para buruh saja. Namun, para majikan pun turut sepakat bahwa kesejahteraan buruh pun penting dan menjadi tanggung jawab dari para majikan pula. Akhirnya, kesepakatan itu sudah menjadi mimpi bersama demi tata kehidupan bersama yang lebih baik.
Hari ini, Jumat Pekan Paskah III kita disuguhi Injil dari Yohanes 6:52-59. Dalam bacaan ini, Gusti Yesus mengatakan kepada banyak orang (juga kita pembaca) bahwa semua harus makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, untuk mendapatkan hidup yang kekal.
Bacaan ini masih melanjut dan terkait dengan perkara hari-hari kemarin, yaitu Roti Hidup yang dari Surga.
Menjadi renungan bagi kita manakala mengenangkan Hari Buruh yang sering disebut sebagai May Day ini. Perjuangan para buruh untuk mendapatkan kesejahteraan hidup, dirumuskan dengan formula: 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Formula ini membuat para buruh tidak lagi bekerja 20 jam sehari.
Pertanyaan spontan kita adalah, dimana waktu untuk berdoa? Agar, kita tidak lupa untuk mencari Roti Hidup yang dari Surga itu? Supaya kita tidak hanya sejahtera ragawi karena hanya makan roti dunia saja.
Saya kira, kita semua sepakat untuk tetap berdoa dalam 3 bagian waktu itu. Entah ketika bekerja, istirahat atau sedang rekreasi, kita sisipkan doa kita. Hal ini sesuai dengan nasehat saleh St Benedictus yang mewariskan jalan hidup mistik, yaitu Ora Et Labora (berdoa dan bekerja).
St Benedictus mengajarkan bahwa antara kerja (baca: seluruh aktifitas manusiawi kita, apapun itu) dan doa (baca: upaya membangun relasi dengan Pencipta, Tuhan kita) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Bahkan, bekerja dengan baik, jujur, dan benar adalah wujud dari sembah sujud (doa) kita kepada Bapa. Sebab, apalah gunanya doa yang tekun namun tidak mewujud dalam perilaku hidup sehari-hari? Dengan demikian, kita sedang belajar bahwa hubungan kita selalu berbentuk segi tiga yang terdiri dari aku - dia dan DIA. Maka, hubungan baik aku dengan Dia selalu terasa dalam hubungan ku dengan orang lain.
Dalam masa pandemi COVID-19 ini pun, kita selalu diajak untuk tidak lupa dengan DOA. Doa ini bukan soal duduk diam di depan Salib dan berdoa. Tetapi, dalam kesempatan apapun, manakala batin ini tergerak untuk berdoa; maka kita hening dalam batin dan mengucapkan doa. Dengan cara ini, kita sedang ada dalam upaya untuk terus menerus menjalin hubungan batin dengan Dia, sang pencipta kita semua.
Mari bersama-sama memohon berkat Allah, supaya hari ini kita bisa mengawali bulan Rosario dan sekaligus merayakan Hati Kudus Tuhan Yesus, di hari Jumat pertama ini. Semoga Tuhan memberkati segala upaya kita. Amin
Berkah dalem
KEKAL
Rabu, 19 Agustus 2020 12:45
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasai Indonesia) kekal berarti tetap (tidak berubah, tidak bergeser, dan sebagainya) selama-lamanya; abadi; lestari.
Sebagai manusia yang hidup, kita selalu mencari perubahan yang membawa kita menjadi manusia yang lebih baik. Untuk perkara yang remeh dan biasa, seperti contohnya adalah mandi dan berganti baju, kita lakukan pun demi perubahan untuk menjadi lebih baik. Paling tidak, perubahan itu adalah perubahan dari yang tampak, yang sifatnya luaran.
Belum lagi adalah upaya kita untuk membuat perubahan dalam diri kita, yaitu sikap dan perilaku kita. Pada dasarnya, kita semua ingin berubah menjadi lebih baik. Tidak ada dari kita yang ingin agar yang buruk itu kekal abadi dalam diri kita.
Banyak cara kita lakukan demi terjadinya perubahan itu. Mulai dengan Sekolah formal dari tingkat Dasar hingga Perguruan Tinggi, kita lakukan. Juga, ada yang melengkapinya dengan mengikuti rekoleksi, retret atau aneka seminar motivasi diri. Bahkan, ada banyak juga yang mengupayakan dengan tekun berdoa, mengikuti Ekaristi, devosi dan merenungkan Kitab Suci.
Namun, segala upaya itu tak jarang mengerucut pada pengalaman putus asa. Karena, menjadi lebih BAIK itu seolah menjadi mimpi yang tak pernah usai. Masih saja, kita mengalami duka karena kejatuhan pada perkara yang sama.
Berbeda dengan kisah pertobatan Saulus di Damaskus. Kisah pertobatan Paulus rasanya instant, cepat sekali. Menjad tanya kemudian, mengapa pertobatan saya lambat sekali? Bahkan, aneka upaya rasanya sia-sia.
Apakah menjadi anak yang baik di mata Tuhan adalah mimpi mustahil untuk diwujudkan; sehingga, masih saja banyak orang terluka karena saya? Ini adalah pertanyaan yang senantiasa menghantui.
Dalam olah rohani, kita bisa ditarik dalam jurang frustrasi sehingga kita kemudian memutuskan untuk tak lagi peduli (cuek/indifferent) dengan segala macam usaha membangun kesalehan hidup. Kita diyakinkan jika cacat dan dosa ini, memang kekal adanya.
Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil diambil dari Yohanes 6:44-51. Injil masih bicara tentang Roti Hidup. Gusti Yesus masih bicara kepada orang banyak, namun titik tekannya adalah bahwa siapapun yang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.
Sabda ini menjadi penghiburan untuk kita semua agar terus bertahan dan mencari roti hidup itu. Kita hanya bisa mengarahkan diri kepada-Nya dari hari ke hari. Ketekunan kita mungkin tidak menampakkan hasil yang berarti (signifikan) seperti pertobatan Saulus di Damaskus, atau kisah suci lainnya yang mentakjubkan.
Sebaliknya, kita mungkin adalah jenis yang sangat lambat perubahannya. Bahkan, sampai dengan usia kita yang tak lagi muda, kita masih bergulat dengan dosa yang sama. Namun, memang demikianlah hidup. Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan diri kepada-Nya dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari sampai bertahun-tahun. Dengan menggenggam satu harapan, yaitu bisa mencecap Roti Hidup yang dari Surga, yaitu Kristus itu sendiri.
Agar kita tidak putus asa dan merasa bahwa dosa kita adalah kekal, jangan biarkan pikiran kita ditenggelamkan pada memori masa lalu yang membuat kita merasa sia-sia. Sebaliknya, jangan pula kita biarkan pikiran kita menerawang yang indah tentang apa yang akan terjadi di masa depan, sehingga kita merasa putus asa. Sebab, yang sejati adalah HARI INI.
Maka, dalam situasi apapun seperti pandemi COVID-19 ini pun, yang bisa kita lakukan adalah hari ini. Mari kita gunakan hari ini untuk membuat keputusan-keputusan yang baik, agar batin kita senantiasa terarah kepada-Nya. Sehingga, kita mencecap Roti Hidup yang dari Surga dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, semoga kita semua menjadi anak-anak Tuhan yang menyenangkan hati-Nya karena kita tetap bertahan memegang harapan kendati kekawatiran dunia senantiasa mengintip dan mengancam kita. Berkat Tuhan menyertai.
Berkah dalem
PEREMPUAN
Rabu, 19 Agustus 2020 12:43
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Hari ini, Rabu Pekan Paskah III ( Yoh 6:35-40 ), dan juga Pewartaan St Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja. Dengan sengaja, judul renungan ini saya pilih kata Perempuan.
Dari etimologi-nya (asal kata), perempuan berasal dari kata empu yang berarti adalah orang yang mahir/berkuasa, kepala, hulu atau yang paling besar. Kata perempuan mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya ‘sapaan hormat pada perempuan’, sebagai pasangan dari kata tuan yang adalah sapaan hormat pada lelaki. Namun, lebih lazim di telinga kita istilah tuan & nyonya.
Dalam penggunaan sehari-hari, kata perempuan mengalami penurunan (degradasi) nilai makna. Sehingga, kata wanita lebih sering digunakan dari pada kata perempuan. Untungnya, dalam sejarah birokrasi di Indonesia, istilah kementrian untuk urusan wanita telah mengalami perubahan dari yang awalnya bernama Menteri Negara Peranan Wanita (1983) sekarang diganti dengan nama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2011 s.d sekarang). Semoga, hal ini pun mengubah cara pandang kita tentang kata perempuan, untuk lebih tinggi dibanding kata wanita.
Kata perempuan tiba-tiba menjadi menarik, karena hari ini kita mengenang St Katarina dari Siena (silahkan mencari versi lebih lengkap sejarah beliau, https://www.imankatolik.or.id/kalender/29Apr.html). St Katarina sejak kecil tidak dikenal karena kepandaiannya, namun lebih karena kesalehannya. Setelah dewasa, dia mengabdikan diri dalam ordo tertier (ordo ketiga) St Dominikus. Namun, hidupnya yang saleh menjadi pusat perhatian seluruh biara hingga membawanya ke jabatan pemimpin biara itu.
Bahkan, dia berperan besar dalam mengoreksi cara hidup imam-imam dan pimpinan Gereja waktu itu yang tidak menampilkan diri secara baik. Dia juga yang berhasil meyakinkan Paus untuk pergi dari Avignon (Perancis) dan pulang ke Roma (Italy) sebagai kota abadi dan pusat Gereja.
Jasa St Katarina besar sekali untuk perubahan Gereja menjadi lebih baik. Itu tidak lepas dari disiplin doa dan puasanya yang keras. Hingga St Katarina dikaruniai Stigmata (luka-luka Tuhan Yesus). Karena permohonannya sendiri, stigmata itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Namun, semua tampak secara jelas ketika beliau menutup mata dalam keabadian.
Tak terbilang perempuan yang menorehkan kesucian dan menjadi pupuk iman sehingga Gereja tetap bertahan hingga sekarang. Sehingga, peran perempuan dalam Gereja Katolik tidak pernah bisa diremehkan. Apalagi, tentu adalah sosok Bunda Maria yang mendapat tempat istimewa dalam Gereja Katolik. Sebab, begitu banyak peran beliau termasuk penampakan beliau (kehadiran usai beliau naik ke Surga) untuk menjaga iman Gereja Katolik.
Menjadi permenungan kita, mengapa semua itu bisa terjadi? Kiranya Injil hari ini menjadi terang untuk menjawab pertanyaan itu. ”Akulah Roti hidup!” Kalimat ini kemudian diikuti dalam bagian selanjutnya, dengan pernyataan Gusti Yesus bahwa semua yang telah diberikan Bapa kepada Gusti Yesus jangan ada yang hilang.
Lalu kita mengerti mengapa ada St Katarina dari Siena, yang perannya sangat besar di abad ke-14. Dia hadir sebagai alat-Nya, untuk menjaga kesucian Gereja dan penunjuk jalan yang benar pada masanya.
Dalam cara berbeda, kita melihat banyak perempuan yang masih terus berperan dalam Gereja kita. Tanpa terkecuali adalah peran dari ibu kita masing-masing. Sebab dari para ibu itulah, kita belajar tentang hidup dan iman sebelum kita kemudian mencari makna hidup dari perjalanan kita hingga usia tua. Air susu para ibu yang memberi kita kehidupan, dan terus mengalir dalam darah dan daging kita hingga hari ini.
Para ibu, yang bertaruh nyawa melahirkan kita. Dan, juga para ibu yang di awal usia kita, membesarkan dan mengajari kita. Kendati tak jarang kita melukai mereka, para ibu tetap setia menyiapkan makanan dan pakain untuk kita. Maka, saatnya kita pun belajar dari Perempuan terdekat kita tentang arti dari harapan, ketekunan dan kesetiaan.
Semoga, dalam masa pandemi ini pun, kita tetap penuh harapan dan tekun setia berusaha. Jangan sampai kita pupus di tengah jalan, karena harapan menguap dari dalam diri kita. Bunda Maria dan para Santa (juga Santo), yang menjadi nama baptis kita, pun akan menolong andai kita tekun memohon agar menjadi pembawa doa kita kepada Yesus Kristus, juru selamat kita.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
LAPAR & HAUS
Rabu, 19 Agustus 2020 12:42
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Pernahkah melihat, atau mungkin malah mengalami sendiri, ketika hadir dalam resepsi dan semua makanan yang disajikan tampilannya menggugah selera? Strategi yang dilakukan adalah, semua makanan diambil sedikit-sedikit dengan maksud untuk mencicipi. Setelah sampai di ujung meja, ternyata piring penuh sekali dan akhirnya, makanan tidak habis disantap.
Tentang makanan, ternyata ada yang makan untuk menjaga kesehatan namun ada yang makan karena memang senang makan. Malahan, ada yang makan sekedar untuk mencari kesenangan. Artinya, ketika stress dia akan mencari makan untuk menghibur diri.
Hari ini, Selasa Pekan Paskah III, bacaan Injil diambil dari Yohanes 6:30-35. Yang menjadi bahasan dalam Injil hari ini pun soal makanan, yaitu roti dari surga. Kepada orang banyak itu, Gusti Yesus mengatakan bila bukan Musa yang memberi mereka roti dari surga, melainkan Bapa.
Roti yang dari surga adalah roti yang berasal dari Allah dan itu memberi hidup. Ketika mereka meminta roti yang bisa memberi hidup itu, Gusti Yesus menajwab, ”Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Serupa dengan orang banyak itu, kita pun merindu untuk mendapatkan roti yang bisa memberi hidup. Sebab, makanan yang kita makan sehari-hari memang mengenyangkan akan tetapi tidak menjamin bisa memberi kita hidup selamanya. Sedangkan roti yang ditawarkan oleh Gusti Yesus adalah roti yang menjamin kita tidak akan haus dan lapar lagi.
Maka, marilah kita datang dan percaya kepada-Nya. Jangan sia-siakan hidup kita dengan menghambur-hamburkan waktu dan kesempatan, melulu hanya untuk mencari makanan yang nanti akan membuat kita lapar dan haus lagi. Sebab, segala sesuatu yang materi dan duniawi ini sifatnya hanyalah sementara saja.
Dalam pandemi COVID-19 ini pun, kita harus yakin dan percaya bahwa akan segera usai pada waktunya. Janganlah was-was dan khawatir memenuhi batin kita terus menerus. Namun, dengan kreatif kita mencari cara agar kita tetap suka cita dan terus menyala api harapan dalam diri kita. Marilah bertolong-tolongan untuk menemukan roti surga, sehingga hidup kita tetap penuh warna dan suka cita.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
TRANSENDEN
Rabu, 19 Agustus 2020 12:39
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Ber-imaginasi atau mengkhayal adalah aktifitas yang saya yakin, kita semua pernah melakukannya. Entah, kita lakukan sendirian di kamar sendiri, atau mungkin kita lakukan beramai-ramai. Entah dalam lamunan, atau dengan bercanda bersama teman-teman.
Dalam imaginasi, ada yang membayang menjadi superhero, sosok pahlawan dengan kekuatan super yang menolong banyak orang dan disegani. Atau, membayang menjadi putri cantik yang satu saat dipinang oleh pangeran kekasih hati.
Setelah sekian waktu berjalan, khayalan masa kecil itu ternyata ada yang mewujud menjadi kenyataan ketika sudah dewasa.
Pada dasarnya, kita semua suka mengkhayal. Ini kita lakukan untuk mencari sedikit kelegaan karena kita ingin sejenak keluar dari kesumpekan yang sedang kita alami saat ini. Maka, mungkin banyak dari kita sudah membayangkan akan melakukan piknik atau sekedar kuliner makanan kesukaan kita setelah COVID-19 enyah dari kita. Rasanya, menyenangkan sekali membayangkan bisa bebas melakukan apa yang kita sukai dari pada sekedar di rumah karena corona.
Imaginasi adalah daya kreatif manusia, yang membuktikan bahwa kita mempunyai daya transenden. Transenden adalah kemampuan manusia untuk berpikir mengenai segala sesuatu yang melampaui apa yang bisa kita indera saat ini. Sehingga, orang yang memegang HP bisa tertawa sendiri hanya karena sedang chatting dengan temannya. Bagi yang melihat, tentu mengherankan ada orang tertawa sendirian. Namun, bagi yang sedang chatting, obrolan di dunia maya ini terasa sangat nyata. Bahkan, seolah lawan bicara itu hadir nyata di hadapannya. Itulah transendensi, melampaui yang kasat mata, sehingga teman yang entah ada dimana seolah hadir nyata di hadapannya.
Hari ini, Senin Paskah III dengan Injil dari Yohanes 6:22-29, Gusti Yesus pun sedang mengajak semua orang untuk ber-transenden-si. Usai Gusti Yesus mempergandakan roti, esoknya banyak orang terus mengikuti Gusti Yesus. Bahkan, ketika Gusti Yesus sudah pergi pun, mereka terus mencari. Dan, setelah berjumpa, Gusti Yesus bicara:”…Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu..”
Ini adalah nasehat sekaligus teguran. Sebab, Gusti Yesus tahu bahwa mereka mencari Dia hanya untuk mendapat makanan tanpa harus bekerja. Mendapat makanan tanpa perlu bekerja, rasanya itu adalah keadaan ideal yang membahagiakan. Namun, Gusti Yesus memaksa mereka agar tidak berhenti menjadi bahagia oleh hal-hal yang sebatas bisa diindera, yaitu yang materi dan duniawi saja.
Melainkan, mereka dipaksa untuk mencari bahagia yang abadi, melampaui segala bentuk yang materi. Oleh sebab itu, mereka semua diajak untuk bekerja demi makanan yang akan bertahan sampai hidup kekal. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mengerjakan pekerjaan yang membawa kepada hidup kekal itu?
Tiada lain, caranya adalah dengan melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah, yaitu dengan percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Percaya berarti kita melakukan apa yang diajarkan oleh Dia, seperti yang dikatakan dalam bagian lain Injil kita : Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu (Yoh 13:14).
Oleh sebab itu, mari terus kreatif menggunakan daya transenden (melamun, ber-imaginasi) untuk mencari cara meraih hidup kekal dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, dari pada kita terjebak dalam dunia materi yang sering justru membuat kita was-was dan khawatir.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
PANGLING
Rabu, 19 Agustus 2020 12:37
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Hari ini, Minggu Paskah III dengan Injil dari Lukas 24:13-35. Dalam versi berbeda, kembali kita diajak mengkontemplasikan perjalanan 2 orang murid ke Emaus.
Kita tahu, usai menyaksikan kematian sang Guru mereka menjadi lemah lunglai dan putus harapan. Sehingga, mereka memutuskan pulang kampong ke Emaus. Saking sedihnya, mereka tidak sadar bila di perjalanan mereka ditemani oleh sang Guru sejati.
Tak beda dengan pengalaman kita. Manakala kita sedang fokus dengan satu perkara, kita bisa tidak melihat hal yang lain. Fokus itu seolah sudah menguasai seluruh indera kita, dan mematikan rasa kita untuk yang lain. Kecuali, adalah perkara yang sedang menjadi fokus perhatian kita.
Bahkan, terjadi juga seorang yang dikenal pandai pun tiba-tiba menjadi seolah ‘pandir’ karena sedang ada dalam situasi yang begitu menghentak kesadaran, pengalaman shock. Waktu seolah berhenti berdetak, dan pandangan tiba-tiba kabur. Pikiran terasa buntu, sehingga nalar tak mampu berpikir apalagi mengambil keputusan.
Oleh sebab itu, ada nasehat yang berbunyi kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34). Tidak ada guna kita kuatir akan hari esok, sebab hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Ini adalah nasehat bijak yang berguna untuk kita mengendalikan diri. Sehingga, kita tidak dikuasai oleh kekuatiran dunia.
Jangan sampai, pengalaman 2 orang murid yang pergi ke Emaus ini menimpa kita semua: pengalaman pangling dengan Gusti Yesus. Saking batin kita dikuasai oleh kesedihan, kita tidak mampu melihat Gusti hadir dan menyapa kita semua, dan menjadi teman seperjalanan.
Itulah pentingnya arti sahabat yang bisa menjadi teman seperjalanan. Teman yang bisa saling mengingatkan, meneguhkan dan tak sungkan memberi teguran. Agar kita tidak larut, apalagi terperosok, dalam dunia sehingga kita pangling dengan asal dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan Allah kita.
Dari sebab itu, dalam kekawatiran dunia karena pandemic COVID-19 ini, mari kita sama-sama berupaya menjadi sahabat bagi yang lain. Harapannya, kita bisa menjadi teman seperjalanan yang bisa membantu untuk terus menjaga nyala api harapan. Semoga kita semua dimampukan menjadi berkat bagi sesama.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
SINGA dari GURUN
Rabu, 19 Agustus 2020 12:36
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Hari ini adalah Pesta St Markus (Penulis Injil), dengan Injil dari Markus 16:15-20. Tentang Markus, lambangnya adalah Singa, raja gurun pasir, yang diambil dari permulaan Injilnya yang menyinggung soal gurun pasir.
Lebih dari pada itu, Markus juga adalah orang yang pergi ke Mesir dan disebut oleh Hieronimus sebagai bapa para pertapa di gurun pasir Mesir. Dia pergi ke Mesir setelah St Petrus dan Paulus dibunuh oleh Kaisar Nero.
Kutipan Injil hari ini, pun menggambarkan semangat (spiritualitas) dari St Markus yang sangat menghidupi semangat untuk mengabarkan Injil. ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” adalah perintah yang terus menggaung bukan hanya pada jaman Markus ada. Namun, setiap kali kita membaca kalimat itu, kita diingatkan bahwa perintah itu pun terus relevan (sesuai) untuk kita perjuangkan di Jaman ini.
Mewartakan Injil bukan soal membicarakan ayat-ayat yang tertulis di dalam Kitab Suci saja. Akan tetapi, mewartakan Injil berarti mewartakan kabar suka cita, karena Injil berarti adalah Kabar Gembira. Maka, mencari wujud kabar gembira dan mewartakannnya di jaman ini adalah adalah penting, agar kita bisa melaksanakan tugas sebagai murid-murid Nya.
Kabar gembira selalu menantang, dan menarik kita untuk melihat jauh ke masa depan. Bahkan, pandangan mata kita harus melampaui dunia. Agar, kita tidak meletakkan tujuan hidup hanya pada perkara hidup di dunia ini. Sebab, tak ada yang abadi di dunia ini. Oleh sebab itu, suka dan duka dunia ini pun tidak pernah abadi. Itulah alasannya, mengapa orientasi hidup kita terus ada dalam upaya mencari kebahagiaan yang kekal sifatnya.
”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” adalah perintah Yesus Kristus sebelum Ia naik ke surga, menurut tulisan Injil Markus dalam kutipan Injil hari ini.
Perintah Agung ini kekal selamanya. Oleh sebab itu, kita bisa menemukan jejak para pendahulu yang tekun mewartakan kebenaran, keadilan, dan cinta kasih dengan menanggung segala resiko; entah mereka itu adalah awam, imam atau uskup. Bahkan, jelas dalam kisah Santo Santa, mereka sampai menanggung resiko siksa dan kematian demi mewartakan Injil. Dan, kematian mereka menjadi warta suka cita bagi kita semua. Sebab, kematian mereka menjadi peneguh bagi kita bahwa mengabarkan Injil di jaman ini bukanlah sia-sia.
Oleh sebab itu, hari ini ketika COVID-19 masih menjadi berita yang menimbulkan ketakutan dan kekawatiran, kita diteguhkan untuk membuka dan memeluk Injil kita. Bahkan, kita semua diajak menulis kisah perjuangan hidup kita sebagai Injil kita yang hidup pada jaman ini.
Maka, bersyukurlah anda yang tetap menyalakan harapan dan membagikannya kepada banyak orang. Sehingga, banyak orang tetap mempunyai harapan akan hidup yang lebih baik kendati situasi sedang tidak menentu dengan berita PHK, krisis ekonomi, bantuan yang belum cair dari Pemerintah, larangan mudik dan seterusnya. Mari, kita terus mengabarkan kabar suka cita seperti para pendahulu kita semua.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Masih dari SURGA
Rabu, 19 Agustus 2020 12:35
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Renungan kali ini, saya akan menyebut langsung bacaan hari ini, Jumat Pekan Paskah II ( Yohanes 6:1-15 ). Injil berisi kisah tentang mukjizat, Gusti Yesus menggandakan roti.
Mukjizat itu terjadi setelah Yesus melihat orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Dia, sampai ke seberang danau Galilea. Yesus bertanya kepada para murid,”Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?” Pertanyaan ini dijawab oleh Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup utuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!”
Dari dialog ini, kita bisa langsung menemukan perbedaan sikap dari Yesus dan para murid.
Ketika Gusti Yesus ingin memberi mereka makan, para murid berpikir bagaimana caranya sebab mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan yang cukup untuk orang sebanyak itu? Pikiran para murid sangat masuk akal, dan wajar sekali. Kita mungkin juga akan melontarkan gagasan serupa, bila ada di posisi mereka.
Namun, para murid ditunjukkan bila manusia Yesus yang ada di hadapan mereka bukanlah manusia biasa. Dia adalah sang Putra yang kuasa membuat mukjizat sehingga orang banyak itu bisa makan, bahkan masih ada sisa 12 bakul penuh berisi potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah semua orang itu makan.
Para murid sedang ditunjukkan bahwa dalam kekurangan dan keterbatasan mereka, tetap diajak untuk berbagi dan memikirkan nasib banyak orang. Mukjizat itu rasanya masih terus terjadi hingga hari ini, sebab kita masih suka mendengar kesaksian di jaman modern ini bagaimana orang yang berbagi namun tidak merasa berkekurangan. Sebaliknya, banyak kisah juga ketika orang yang terus berhemat dan mencoba menumpuk harta malah terus merasa kurang.
Dalam pandemi COVID-19 ini, tak dipungkiri rasa cemas dan kawatir membuat kita spontan memikirkan kebutuhan diri sendiri. Sehingga, kita paham ketika banyak orang memborong makanan seperti sebuah perlombaan. Namun, kita belajar dari Guru kita untuk tidak memikirkan nasib diri sendiri. Situasi yang tidak mudah seperti hari ini, justru menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin peka melihat tetangga kiri kanan kita. Bila sekiranya ada yang perlu mendapatkan bantuan, ini saatnya kita melakukan ajaran Guru, Tuhan kita.
Sebab, sekali lagi, kita memang tinggal di dunia namun kita bukan milik dunia. Selayaknya kita belajar mengikuti Guru dan teladan kita, yang mengajarkan hitungan dan sikap cinta kasih dalam wujud kerelaan untuk berbagi. Ini adalah bahasa Surga. Dengan demikian, semoga di atas bumi seperti di dalam Surga.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Dari SURGA
Rabu, 19 Agustus 2020 12:33
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Desa mawa cara, Negara mawa tata adalah ungkapan Jawa yang kalau diterjemahkan bebas, kira-kira bunyinya adalah: Desa memiliki aturan, Negara mempunyai hukum.
Namun, ungkapan ini juga mau mengatakan bahwa tiap daerah mempunyai adat kebiasaan yang berbeda. Sebagai contoh adalah, orang Jogja dikatakan sebagai orang yang halus dalam ber-bahasa dan makanannya adalah gudeg. Padahal kita tahu, tak semua orang Jogja adalah seperti itu. Itulah stereotype atau cap atau labeling.
Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil ( Yohanes 3:31-36 ) bercerita soal kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, sebagai Dia yang berasal dari atas. Artinya adalah Dia tidak berasal dari bawah, atau bumi.
Serupa ungkapan Jawa di atas, Desa mawa cara, Negara mawa tata, berasal dari atas berarti mempunyai ciri berbeda dengan yang berasal dari bawah, atau bumi atau Dunia.
Yang berasal dari bumi/Dunia, dia termasuk pada bumi dan akan berkata-kata dalam bahasa bumi. Yang berasal dari Surga ada di atas bumi. Dan, akan memberi kesaksian tentang apa yang dilihatnya, dan yang didengarnya. Siapakah mereka yang berasal dari Surga? Mereka adalah yang menerima karunia ROH dan percaya kepada Dia.
Namun, sejatinya hal ini tidak mudah. Apalagi, ketika ada pandemi yang kita tidak tahu akan berakhir kapan. Situasi ini mudah sekali menyulut rasa takut dan kawatir kita. Kita gampang digelisahkan oleh banyak perkara. Informasi dan berita, membuat kita berpikir dan bertanya namun tak selalu menemu jawabannya. Sehingga, takut dan kawatir itu semakin besar.
Padahal, rasa takut dan kawatir itu tidak ada untungnya. Sebab, rasa takut dan kawatir itu tidak mengubah apapun. Jadi, mengapa takut dan kawatir dipelihara? Bukankah lebih baik kita mempertebal rasa percaya kita bahwa Allah akan membuat semuanya menjadi baik. Karena, kita semua mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang maharahim.
Oleh sebab itu, kita semua pun berupaya membuat kebaikan dalam situasi tak menentu ini. Kita saling berlomba melakukan kebaikan, dengan peduli dan rela berbagi. Alasannya adalah, karena Allah yang kita Imani telah lebih dahulu mengasihi kita sehingga, kita mengikuti ajaran-Nya dengan mengasihi sesama.
Itu juga alasannya, kendati Misa terselenggara online, kita tetap setia mengikuti dengan rasa haru. Karena kita tidak mau, obor iman kita kehabisan minyak. Dan, nyala apinya mati tertiup angin ketakutan dan kekhawatiran.
Saudari dan saudara, kita semua berasal dari atas. Maka, marilah kita berpikir dan bertindak dengan cara dari atas. kita bukan dari bumi, maka janganlah ketakutan dan kekhawatiran Dunia menghanyutkan kita hingga tenggelam. Seolah-olah, kita kita tidak mengenal Tuhan.
Mari terus eratkan gandeng tangan kita, siapapun kita, dimanapun berada. Agar nyala api iman dan harapan ini tak pernah padam. Amin
Tuhan memberkati
Berkah dalem
PASANGAN
Rabu, 19 Agustus 2020 12:29
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Kita melihat bahwa segala sesuatu ada ber-pasangan, dalam hidup ini. Ada kiri, maka ada kanan. Ada terang, maka ada gelap. Ada siang, maka ada malam. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada kebaikan, dan ada yang kejahatan dst.
Hal serupa juga menjadi pembicaraan Gusti Yesus dengan Nikodemus, sebagai kelanjutan kisah kemarin dalam Injil hari ini: Yohanes 3:16-21 (Rabu biasa Pekan Paskah II).
Bila kenyataan hidup ini adalah berpasangan, jelas artinya bahwa hidup manusia selalu berhadapan dengan pilihan. Dan, pilihan seperti apa yang dibuat oleh manusia, itulah yang akan menyelamatkan atau membinasakannya. Namun, sudah menjadi kecenderungan umum bahwa manusia memilih hal yang menguntungkannya atau memudahkannya. Sehingga, kalau bisa duduk santai, mengapa harus berkeringat dan bersusah payah? Bila memikirkan diri sendiri lebih enak, ngapain perlu memikirkan nasib orang lain?
Dalam perbincangan antara Gusti Yesus dengan Nikodemus, kita diajak naik level dalam melhat kenyataan hidup ini. Pilihan bukan diletakkan, hanya pada perkara senang dan tidak senang saja. Tetapi, pilihan dilihat dalam kerangka tujuan akhir hidup manusia, yaitu pada perkara BENAR dan TIDAK BENAR.
Sebab, melakukan yang benar di hadapan Allah adalah pilihan yang akan membawa manusia pada terang. Supaya manusia tahu mana yang benar dan salah, Anak-Nya yang tunggal dikaruniakan kepada kita. Dialah terang yang diutus ke tengah kita, agar kita yang percaya kepada Nya memperoleh hidup kekal, dan tidak binasa.
Kendati demikian, kita semua tetap ada dalam bayang-bayang kebinasaan. Kita masih menyukai kegelapan dari pada pergi kepada terang itu. Sepanjang kita masih menyukai yang jahat, kita akan membenci terang supaya perbuatan yang jahat itu tetap tersembunyi. Itulah mengapa, ketika manusia berpindah ke kehidupan kekal dikatakan ada sukma yang tinggal di tempat gelap. Karena ketika masih ada di dunia, dia lebih menyukai kegelapan dari pada terang.
Dari sini, kita mengerti bahwa kegelapan setelah kematian bukanlah hukuman dari Allah, namun karena manusia itu sendiri dari semula tidak menyukai terang. Sedangkan Allah adalah sumber terang itu sendiri. Bagaimana mungkin, seseorang yang biasa tinggal dalam kegelapan bisa nyaman berjumpa dengan yang terang benderang? Bukankah, ia harus belajar mengenal terang itu dari sejak sekarang, agar nanti pun bisa tinggal bersama dengan Sang Terang Sejati dalam keabadian?
Sehingga, dalam pembicaraan dengan Nikodemus pun, Gusti Yesus mengatakan jika Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Dari sebab itu, marilah sejenak kita merenungkan hidup kita masing-masing. Menilik diri kita dalam keheningan yang dalam. Melihat kembali semua pilihan yang telah kita lakukan. Apakah saya lebih menyukai terang dari pada gelap, atau justru sebaliknya saya lebih memilih yang jahat?
Dalam situasi pandemi COVID-19 ini pun, pilihan itu tetap terbuka bagi kita semua. Dan, marilah kita memohon kepada Allah sang Terang Sejati; agar kita mencari dan tetap memilih yang benar dan yang baik, dari pada yang menyenangkan dan yang kita sukai. Kendati, untuk memilih yang benar dan yang baik, kita perlu berkeringat dan berlelah-lelah. Sebab kita tahu, dengan memilih yang benar, kita sedang menuju kepada Terang yang abadi.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah Dalem
