Satu ketika, ada sebuah toko yang padat pembeli sedang memilah dan memilih barang jualannya. Sementara banyak orang mengernyit heran, karena menurut mereka barang yang dijual di toko itu harganya adalah mahal. Rupanya, sudah beberapa waktu sebelumnya, toko itu memberitakan akan adanya diskon besar untuk semua item.
Dari contoh ini, kita diingatkan akan adanya kecenderungan dalam diri kita untuk mempercayai kabar yang diharapkan. Serupa dengan mereka yang hobby belanja, akan sangat peka dengan berita diskon. Sehingga, spontan ada dorongan untuk segera membeli barang yang sudah sekian lama diamati. Dan, tak sempat mengkritisi apakah memang harga yang disematkan adalah harga yang wajar. Atau, harga tersebut telah dinaikkan dulu sebelum di-diskon?
Hal ini juga berlaku untuk perkara yang berbeda. Sebab, sekali lagi, kita semua mempunyai kecenderungan untuk segera mempercayai kabar yang kita harapkan terjadi. Sehingga, ada banyak kisah orang tertipu dengan SMS yang memberitahu bahwa kita mendapat undian berhadiah.
Hari ini, Selasa Biasa Pekan Paskah II, kita diajak merenungkan Yohanes 3:7-15, yang menjadi kelanjutan kisah kemarin tentang Nikodemus sebagai Pemimpin Agama Yahudi yang bingung dengan kabar dari Gusti Yesus. Bagaimana mungkin, seseorang yang sudah tua dilahirkan kembali?
Dalam Injil hari ini, Gusti Yesus menandaskan kembali bahwa ajaran itu berasal dari apa yang Dia lihat. Namun, Nikodemus tetap tidak percaya. Sehingga, Gusti Yesus pun menegaskan lagi dengan pernyataan: bagaimana mungkin Nikodemus percaya akan perkara surgawi, andai untuk perkara duniawi saja Nikodemus tidak percaya?
Kita pun kemudian perlu merenungkan, sejauh mana kita telah memeluk iman kepercayaan kita? Apakah sungguh kita sudah percaya kepada-Nya? Sebab, bagi yang percaya kepada-Nya, akan menyerahkan dirinya seutuhnya dalam penyelenggaraan Allah. Mereka yang percaya kiranya dimampukan untuk menepis ketakutan dan kekhawatiran, supaya hatinya dipenuhi damai sejahtera. Dan, pada akhirnya kita pun beroleh hidup yang kekal.
Dalam pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, tidak mudah untuk mengembangkan kepercayaan dan kepasrahan sebagai wujud orang ber-IMAN. Namun, situasi ini membuat kita tertantang untuk terus menerus memperbaharui iman kita. Walau hati kita jenuh karena terbatasi perjumpaannya, tak bisa menyambut komuni kudus, tak bisa bekerja seperti biasa; namun berkat IMAN yang kita pegang, kita tidak kehilangan harapan.
Kita terus kreatif menghadapi situasi ini dengan memegang kidung harapan dan iman. Kita terus menatap masa depan dengan harapan agar hidup kita lebih baik dari saat ini. Mari kita eratkan gandeng tangan kita, sebab Tuhan terus berkarya melalui siapapun kita yang terus berharap dalam iman.
Tuhan memberkati kita semua. Amin
Berkah dalem
