"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Sejak semula, manusia dicipta unik sebagai pribadi. Bahkan ketika dia adalah anak kembar, tetap saja ada yang unik; membuat yang satu berbeda dengan yang lain. Keberbedaan itu membuat kita perlu membangun hidup dalam kebersamaan. Bahkan bila seseorang sangat mampu dalam segalanya, dia tetap membutuhkan orang lain. Orang lain yang berperan sebagai asisten, karyawan, suruhan; atau orang yang menjadi partner dalam diskusi dst.

Pada hakikatnya, tidak mungkin orang bisa hidup soliter (sendiri) mutlak, dan tidak pernah berjumpa dengan orang lain sama sekali.

Namun, memang adalah benar bahwa hidup bersama tak selalu menyukakan. Ada saja hal yang bisa menjadi alasan untuk berduka dalam menekuni hidup bersama. Keunikan pribadi sering menjadi sebab adanya ketidakcocokan, yang kemudian berujung pada perpecahan.

Karena perbedaan adalah kenyataan yang tak bisa kita hindarkan, apa yang perlu kita usahakan bila demikian?

Dalam bacaan I, Yesaya (50:4-9a) mengajak kita untuk berserah kepada Allah. Tuhan membuka telinga dan membuatnya peka dari waktu ke waktu, membantu kita mengerti apa yang sedang terjadi dengan bijaksana. Tuhan pula yang memberi lidah seorang murid, sehingga dengan perkataan kita bisa memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Tuhan pula yang menolong kita ketika berperkara, dan tidak mendapat malu.

Oleh sebab itu, kita perlu meneguhkan hati seperti gunung batu, karena Allah menolong kita. Sepanjang kita bertekun dalam kepasrahan dan doa.

Itu kiranya mengapa dengan tenang, Tuhan Yesus dalam INJIL (Mat 26:4-25) menunjukkan Yudas Iskariot yang akan menghantarkan Nya menjemput maut. Dan, dengan tenang pula Yesus Kristus tetap hidup bersama dengan para murid, tanpa kecuali Yudas Iskariot.

Sejak Minggu Prapaskah V, salib dan semua patung diselubungi kain ungu. Menjadi isyarat bagi kita bahwa mulai saat itu, Gusti Yesus sendirian. Sifat ke-Allah-an Nya pergi, menyisakan sifat manusiawi nya Yesus Kristus. Dengan demikian, kita bisa membayangkan pergulatan Gusti Yesus.

Sebagai manusia yang utuh dengan pikiran dan perasaan, Dia tetap hidup bersama dengan Yudas yang akan menyerahkan Nya kepada maut. Dan, kita melihat bagaimana Yesus tetap biasa, seolah tak terjadi apa-apa.

Inilah terjemahan paling nyata dari kepasrahan iman sehingga sanggup berkata, JADILAH SETURUT KEHENDAK MU. Manusia Yesus, berserah dan pasrah kepada Bapa sebab tau, kehendak Bapa adaah baik. Di balik siksa, luka, dan pedihnya Salib; ada berkat keselamatan di sana.

Kita juga mempunyai hidup bersama sebagai manusia. Di sini kita belajar, pentingnya membangun iman yang pasrah, iman yang berserah. Tak semua berjalan seperti yang kita mau. Tak semua hal terjadi seperti yang kita ingini. COVID-19 ini pun perkara yang tak pernah kita harap dan duga. Namun, semua sudah terjadi.

Maka, dalam situasi seperti ini, bukan kekawatiran dan ketakutan yang kita diskusikan. Namun, bagaimana membangun harapan yang perlu diupayakan.

Melihat banyak orang melakukan kebaikan, membuat harapan kita semakin besar sebab ternyata Allah tetap terus berkarya. Allah terus bekerja melalui banyak tangan yang ada di kiri kanan kita. Bila demikian, di balik semua ini pasti tetap ada harapan dan suka cita.

Mari, berlomba-lomba membuat kebaikan agar kita pun tak hilang harapan dan suka cita hidup ini. Amin

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « REKOLEKSI TUGURAN »