Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasai Indonesia) kekal berarti tetap (tidak berubah, tidak bergeser, dan sebagainya) selama-lamanya; abadi; lestari.
Sebagai manusia yang hidup, kita selalu mencari perubahan yang membawa kita menjadi manusia yang lebih baik. Untuk perkara yang remeh dan biasa, seperti contohnya adalah mandi dan berganti baju, kita lakukan pun demi perubahan untuk menjadi lebih baik. Paling tidak, perubahan itu adalah perubahan dari yang tampak, yang sifatnya luaran.
Belum lagi adalah upaya kita untuk membuat perubahan dalam diri kita, yaitu sikap dan perilaku kita. Pada dasarnya, kita semua ingin berubah menjadi lebih baik. Tidak ada dari kita yang ingin agar yang buruk itu kekal abadi dalam diri kita.
Banyak cara kita lakukan demi terjadinya perubahan itu. Mulai dengan Sekolah formal dari tingkat Dasar hingga Perguruan Tinggi, kita lakukan. Juga, ada yang melengkapinya dengan mengikuti rekoleksi, retret atau aneka seminar motivasi diri. Bahkan, ada banyak juga yang mengupayakan dengan tekun berdoa, mengikuti Ekaristi, devosi dan merenungkan Kitab Suci.
Namun, segala upaya itu tak jarang mengerucut pada pengalaman putus asa. Karena, menjadi lebih BAIK itu seolah menjadi mimpi yang tak pernah usai. Masih saja, kita mengalami duka karena kejatuhan pada perkara yang sama.
Berbeda dengan kisah pertobatan Saulus di Damaskus. Kisah pertobatan Paulus rasanya instant, cepat sekali. Menjad tanya kemudian, mengapa pertobatan saya lambat sekali? Bahkan, aneka upaya rasanya sia-sia.
Apakah menjadi anak yang baik di mata Tuhan adalah mimpi mustahil untuk diwujudkan; sehingga, masih saja banyak orang terluka karena saya? Ini adalah pertanyaan yang senantiasa menghantui.
Dalam olah rohani, kita bisa ditarik dalam jurang frustrasi sehingga kita kemudian memutuskan untuk tak lagi peduli (cuek/indifferent) dengan segala macam usaha membangun kesalehan hidup. Kita diyakinkan jika cacat dan dosa ini, memang kekal adanya.
Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil diambil dari Yohanes 6:44-51. Injil masih bicara tentang Roti Hidup. Gusti Yesus masih bicara kepada orang banyak, namun titik tekannya adalah bahwa siapapun yang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.
Sabda ini menjadi penghiburan untuk kita semua agar terus bertahan dan mencari roti hidup itu. Kita hanya bisa mengarahkan diri kepada-Nya dari hari ke hari. Ketekunan kita mungkin tidak menampakkan hasil yang berarti (signifikan) seperti pertobatan Saulus di Damaskus, atau kisah suci lainnya yang mentakjubkan.
Sebaliknya, kita mungkin adalah jenis yang sangat lambat perubahannya. Bahkan, sampai dengan usia kita yang tak lagi muda, kita masih bergulat dengan dosa yang sama. Namun, memang demikianlah hidup. Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan diri kepada-Nya dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari sampai bertahun-tahun. Dengan menggenggam satu harapan, yaitu bisa mencecap Roti Hidup yang dari Surga, yaitu Kristus itu sendiri.
Agar kita tidak putus asa dan merasa bahwa dosa kita adalah kekal, jangan biarkan pikiran kita ditenggelamkan pada memori masa lalu yang membuat kita merasa sia-sia. Sebaliknya, jangan pula kita biarkan pikiran kita menerawang yang indah tentang apa yang akan terjadi di masa depan, sehingga kita merasa putus asa. Sebab, yang sejati adalah HARI INI.
Maka, dalam situasi apapun seperti pandemi COVID-19 ini pun, yang bisa kita lakukan adalah hari ini. Mari kita gunakan hari ini untuk membuat keputusan-keputusan yang baik, agar batin kita senantiasa terarah kepada-Nya. Sehingga, kita mencecap Roti Hidup yang dari Surga dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, semoga kita semua menjadi anak-anak Tuhan yang menyenangkan hati-Nya karena kita tetap bertahan memegang harapan kendati kekawatiran dunia senantiasa mengintip dan mengancam kita. Berkat Tuhan menyertai.
Berkah dalem

