Renungan kali ini, saya akan menyebut langsung bacaan hari ini, Jumat Pekan Paskah II ( Yohanes 6:1-15 ). Injil berisi kisah tentang mukjizat, Gusti Yesus menggandakan roti.
Mukjizat itu terjadi setelah Yesus melihat orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Dia, sampai ke seberang danau Galilea. Yesus bertanya kepada para murid,”Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?” Pertanyaan ini dijawab oleh Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup utuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!”
Dari dialog ini, kita bisa langsung menemukan perbedaan sikap dari Yesus dan para murid.
Ketika Gusti Yesus ingin memberi mereka makan, para murid berpikir bagaimana caranya sebab mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan yang cukup untuk orang sebanyak itu? Pikiran para murid sangat masuk akal, dan wajar sekali. Kita mungkin juga akan melontarkan gagasan serupa, bila ada di posisi mereka.
Namun, para murid ditunjukkan bila manusia Yesus yang ada di hadapan mereka bukanlah manusia biasa. Dia adalah sang Putra yang kuasa membuat mukjizat sehingga orang banyak itu bisa makan, bahkan masih ada sisa 12 bakul penuh berisi potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah semua orang itu makan.
Para murid sedang ditunjukkan bahwa dalam kekurangan dan keterbatasan mereka, tetap diajak untuk berbagi dan memikirkan nasib banyak orang. Mukjizat itu rasanya masih terus terjadi hingga hari ini, sebab kita masih suka mendengar kesaksian di jaman modern ini bagaimana orang yang berbagi namun tidak merasa berkekurangan. Sebaliknya, banyak kisah juga ketika orang yang terus berhemat dan mencoba menumpuk harta malah terus merasa kurang.
Dalam pandemi COVID-19 ini, tak dipungkiri rasa cemas dan kawatir membuat kita spontan memikirkan kebutuhan diri sendiri. Sehingga, kita paham ketika banyak orang memborong makanan seperti sebuah perlombaan. Namun, kita belajar dari Guru kita untuk tidak memikirkan nasib diri sendiri. Situasi yang tidak mudah seperti hari ini, justru menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin peka melihat tetangga kiri kanan kita. Bila sekiranya ada yang perlu mendapatkan bantuan, ini saatnya kita melakukan ajaran Guru, Tuhan kita.
Sebab, sekali lagi, kita memang tinggal di dunia namun kita bukan milik dunia. Selayaknya kita belajar mengikuti Guru dan teladan kita, yang mengajarkan hitungan dan sikap cinta kasih dalam wujud kerelaan untuk berbagi. Ini adalah bahasa Surga. Dengan demikian, semoga di atas bumi seperti di dalam Surga.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
