Hari ini, Rabu Pekan Paskah III ( Yoh 6:35-40 ), dan juga Pewartaan St Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja. Dengan sengaja, judul renungan ini saya pilih kata Perempuan.
Dari etimologi-nya (asal kata), perempuan berasal dari kata empu yang berarti adalah orang yang mahir/berkuasa, kepala, hulu atau yang paling besar. Kata perempuan mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya ‘sapaan hormat pada perempuan’, sebagai pasangan dari kata tuan yang adalah sapaan hormat pada lelaki. Namun, lebih lazim di telinga kita istilah tuan & nyonya.
Dalam penggunaan sehari-hari, kata perempuan mengalami penurunan (degradasi) nilai makna. Sehingga, kata wanita lebih sering digunakan dari pada kata perempuan. Untungnya, dalam sejarah birokrasi di Indonesia, istilah kementrian untuk urusan wanita telah mengalami perubahan dari yang awalnya bernama Menteri Negara Peranan Wanita (1983) sekarang diganti dengan nama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2011 s.d sekarang). Semoga, hal ini pun mengubah cara pandang kita tentang kata perempuan, untuk lebih tinggi dibanding kata wanita.
Kata perempuan tiba-tiba menjadi menarik, karena hari ini kita mengenang St Katarina dari Siena (silahkan mencari versi lebih lengkap sejarah beliau, https://www.imankatolik.or.id/kalender/29Apr.html). St Katarina sejak kecil tidak dikenal karena kepandaiannya, namun lebih karena kesalehannya. Setelah dewasa, dia mengabdikan diri dalam ordo tertier (ordo ketiga) St Dominikus. Namun, hidupnya yang saleh menjadi pusat perhatian seluruh biara hingga membawanya ke jabatan pemimpin biara itu.
Bahkan, dia berperan besar dalam mengoreksi cara hidup imam-imam dan pimpinan Gereja waktu itu yang tidak menampilkan diri secara baik. Dia juga yang berhasil meyakinkan Paus untuk pergi dari Avignon (Perancis) dan pulang ke Roma (Italy) sebagai kota abadi dan pusat Gereja.
Jasa St Katarina besar sekali untuk perubahan Gereja menjadi lebih baik. Itu tidak lepas dari disiplin doa dan puasanya yang keras. Hingga St Katarina dikaruniai Stigmata (luka-luka Tuhan Yesus). Karena permohonannya sendiri, stigmata itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Namun, semua tampak secara jelas ketika beliau menutup mata dalam keabadian.
Tak terbilang perempuan yang menorehkan kesucian dan menjadi pupuk iman sehingga Gereja tetap bertahan hingga sekarang. Sehingga, peran perempuan dalam Gereja Katolik tidak pernah bisa diremehkan. Apalagi, tentu adalah sosok Bunda Maria yang mendapat tempat istimewa dalam Gereja Katolik. Sebab, begitu banyak peran beliau termasuk penampakan beliau (kehadiran usai beliau naik ke Surga) untuk menjaga iman Gereja Katolik.
Menjadi permenungan kita, mengapa semua itu bisa terjadi? Kiranya Injil hari ini menjadi terang untuk menjawab pertanyaan itu. ”Akulah Roti hidup!” Kalimat ini kemudian diikuti dalam bagian selanjutnya, dengan pernyataan Gusti Yesus bahwa semua yang telah diberikan Bapa kepada Gusti Yesus jangan ada yang hilang.
Lalu kita mengerti mengapa ada St Katarina dari Siena, yang perannya sangat besar di abad ke-14. Dia hadir sebagai alat-Nya, untuk menjaga kesucian Gereja dan penunjuk jalan yang benar pada masanya.
Dalam cara berbeda, kita melihat banyak perempuan yang masih terus berperan dalam Gereja kita. Tanpa terkecuali adalah peran dari ibu kita masing-masing. Sebab dari para ibu itulah, kita belajar tentang hidup dan iman sebelum kita kemudian mencari makna hidup dari perjalanan kita hingga usia tua. Air susu para ibu yang memberi kita kehidupan, dan terus mengalir dalam darah dan daging kita hingga hari ini.
Para ibu, yang bertaruh nyawa melahirkan kita. Dan, juga para ibu yang di awal usia kita, membesarkan dan mengajari kita. Kendati tak jarang kita melukai mereka, para ibu tetap setia menyiapkan makanan dan pakain untuk kita. Maka, saatnya kita pun belajar dari Perempuan terdekat kita tentang arti dari harapan, ketekunan dan kesetiaan.
Semoga, dalam masa pandemi ini pun, kita tetap penuh harapan dan tekun setia berusaha. Jangan sampai kita pupus di tengah jalan, karena harapan menguap dari dalam diri kita. Bunda Maria dan para Santa (juga Santo), yang menjadi nama baptis kita, pun akan menolong andai kita tekun memohon agar menjadi pembawa doa kita kepada Yesus Kristus, juru selamat kita.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
