Kami para Imam di Keuskupan Agung Semarang, mengadakan rekoleksi mandiri sejak kemarin sore (6/4/2020), menggunakan bahan yang dikirimkan oleh bapa Uskup supaya nanti sore (7/4/2020) bisa mengikuti misa Krisma dan Pembaharuan Janji Imamat online.
Belum pernah, rekoleksi secara online terjadi di KAS ini. Menjadi saat istimewa untuk mengenang kembali makna rekoleksi, yang berasal dari 2 kata:re (kembali) dan koleksi (collection: mengumpulkan). Rekoleksi adalah saat penuh rahmat untuk mengumpulkan kembali, sekian pengalaman sebagai bahan pengolahan untuk pemulihan spiritual (rohani).
Menggunakan bahan yang disediakan, kami diajak memutar kembali pengalaman-pengalaman masa lalu untuk mencari makna hidup, yang membantu kami untuk menemukan kembali jejak Allah dalam hidup ini.
Rasa saya, bacaan-bacaan hari ini pun berkisah perkara yang sama, tokoh bacaan hari ini juga sedang rekoleksi. Yesaya (Bacaan I, Yes 49:1-6) bercerita pengalaman keter-panggilan nya sejak dalam kandungan. Dan, susah payah Ia menemani Israel dan mengatakan bahwa sia-sia bila mereka hanya menegakkan suku-suku Yakub.
Tetapi, mereka harus menjadi TERANG bagi bangsa-bangsa.
Dalam bacaan Injil (Yoh 13:21-33.36-38) kembali, Yesus Kristus menunjukkan beberapa isyarat akan kisah sengsara-Nya. Banyak yang mengasihi-Nya, namun kepada murid terkasih, Yesus Kristus menunjukkan Yudas Iskariot sebagai yang akan mengkhianati. Dan, Petrus pun meyakinkan Yesus jika dia sanggup membela Yesus sampai akhir dengan menyerahkan nyawanya. Namun Yesus menanggapi niatan Petrus dengan mengatakan, jika Petrus akan menyangkal Dia sebelum ayam bekokok 3 kali.
Yesus sedang memberi isyarat, bila Dia akan sendirian saja menyambut kisah sengsara bengis itu…
Seluruh bacaan ini membuat kita merenung, apakah memang akhir dari semua kisah adalah sia-sia belaka? Sungguhkah, semua tiada arti?
Hari ini Gereja juga mengenangkan St Yohanes Pembaptis de la Salle. Dikisahkan bahwa beliau keturunan bangsawan kaya raya. Namun, harta tak membelenggunya untuk memikir melulu diri sendiri dan perkara duniawi.
Dia terpanggil untuk memberikan diri secara lebih lagi. Dan, itulah yang dilakukannya dengan melayani mereka yang membutuhkan, secara khusus dengan pelayanan pendidikan, karya mendesak pada waktu itu.
Dalam situasi ketika COVID-19 seliweran di sekitar kita, kita juga masih menemukan kisah mereka yang berbelarasa. Bahkan, kita pun turut peduli dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sama seperti yang dilakukan oleh St Yohanes Pembaptis, dalam wujud yang berbeda.
Pertanyaannya, mengapa kita perlu peduli dan berbagi dalam situasi ini? Kita lakukan semua itu, karena Kita semua sedang berusaha meneladan ajaran Sang Guru Sejati: mengasihi sesama..
Bila sampai dengan hari ini, kita masih melihat wujud nyata kepeduliaan dan kasih, maka tanpa ragu kita mengatakan bahwa tiada yang sia-sia. Bahkan, kematian Yesus Kristus di kayu Salib, tidak membuat ajaran CINTA itu menjadi padam. Tak pula membuat ajaran untuk TOLONG MENOLONG menjadi sirna. Justru, adalah sia-sia hidup mereka yang tak pernah sempat memikirkan orang lain dan ber-belarasa...
Semoga, nama Tuhan dimuliakan dalam semua upaya baik kita semua. Amin
Berkah dalem
