"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Ber-imaginasi atau mengkhayal adalah aktifitas yang saya yakin, kita semua pernah melakukannya. Entah, kita lakukan sendirian di kamar sendiri, atau mungkin kita lakukan beramai-ramai. Entah dalam lamunan, atau dengan bercanda bersama teman-teman. 

Dalam imaginasi, ada yang membayang menjadi superhero, sosok pahlawan dengan kekuatan super yang menolong banyak orang dan disegani. Atau, membayang menjadi putri cantik yang satu saat dipinang oleh pangeran kekasih hati.
Setelah sekian waktu berjalan, khayalan masa kecil itu ternyata ada yang mewujud menjadi kenyataan ketika sudah dewasa.

Pada dasarnya, kita semua suka mengkhayal. Ini kita lakukan untuk mencari sedikit kelegaan karena kita ingin sejenak keluar dari kesumpekan yang sedang kita alami saat ini. Maka, mungkin banyak dari kita sudah membayangkan akan melakukan piknik atau sekedar kuliner makanan kesukaan kita setelah COVID-19 enyah dari kita. Rasanya, menyenangkan sekali membayangkan bisa bebas melakukan apa yang kita sukai dari pada sekedar di rumah karena corona.

Imaginasi adalah daya kreatif manusia, yang membuktikan bahwa kita mempunyai daya transenden. Transenden adalah kemampuan manusia untuk berpikir mengenai segala sesuatu yang melampaui apa yang bisa kita indera saat ini. Sehingga, orang yang memegang HP bisa tertawa sendiri hanya karena sedang chatting dengan temannya. Bagi yang melihat, tentu mengherankan ada orang tertawa sendirian. Namun, bagi yang sedang chatting, obrolan di dunia maya ini terasa sangat nyata. Bahkan, seolah lawan bicara itu hadir nyata di hadapannya. Itulah transendensi, melampaui yang kasat mata, sehingga teman yang entah ada dimana seolah hadir nyata di hadapannya.

Hari ini, Senin Paskah III dengan Injil dari Yohanes 6:22-29, Gusti Yesus pun sedang mengajak semua orang untuk ber-transenden-si. Usai Gusti Yesus mempergandakan roti, esoknya banyak orang terus mengikuti Gusti Yesus. Bahkan, ketika Gusti Yesus sudah pergi pun, mereka terus mencari. Dan, setelah berjumpa, Gusti Yesus bicara:”…Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu..”

Ini adalah nasehat sekaligus teguran. Sebab, Gusti Yesus tahu bahwa mereka mencari Dia hanya untuk mendapat makanan tanpa harus bekerja. Mendapat makanan tanpa perlu bekerja, rasanya itu adalah keadaan ideal yang membahagiakan. Namun, Gusti Yesus memaksa mereka agar tidak berhenti menjadi bahagia oleh hal-hal yang sebatas bisa diindera, yaitu yang materi dan duniawi saja.

Melainkan, mereka dipaksa untuk mencari bahagia yang abadi, melampaui segala bentuk yang materi. Oleh sebab itu, mereka semua diajak untuk bekerja demi makanan yang akan bertahan sampai hidup kekal. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mengerjakan pekerjaan yang membawa kepada hidup kekal itu?

Tiada lain, caranya adalah dengan melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah, yaitu dengan percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Percaya berarti kita melakukan apa yang diajarkan oleh Dia, seperti yang dikatakan dalam bagian lain Injil kita : Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu (Yoh 13:14).

Oleh sebab itu, mari terus kreatif menggunakan daya transenden (melamun, ber-imaginasi) untuk mencari cara meraih hidup kekal dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, dari pada kita terjebak dalam dunia materi yang sering justru membuat kita was-was dan khawatir.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « PANGLING LAPAR & HAUS »