Cetak halaman ini

Ngulir budi adalah istilah Jawa yg menjadi gambaran tentang manusia yang berupaya dan terus berupaya, demi mencapai sesuatu hasil.

Memang, kita semua manusia dikaruniai akal, budi, rasa dan kehendak untuk mengatasi masalah. Selanjutnya, manusia bekerjasama satu sama lain untuk mengatasi apa yang disebut sebagai masalah bersama.

Masalah para murid usai penyaliban adalah mereka putus asa dan merasa jika semua perjalanan ini sia-sia.

Usai kematian Gusti Yesus, para murid kembali ke pekerjaan sehari-hari mereka, seperti Petrus dalam bacaan hari ini yang kembali menjadi Nelayan ( Yoh 21:1-14). Entah karena apa, semalam-malaman ia menebarkan jala namun tanpa mendapat ikan. Hingga, ada seseorang yang meminta mereka tebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Dan, dapatlah mereka ikan hingga hampir koyak jalanya. Saat itulah, mereka sadar bahwa yang di pinggir pantai itu adalah Tuhan Yesus.

Inilah cara yang dipilih oleh Gusti Yesus untuk menenguhkan iman para murid, dengan menampakkan diri dalam bacaan seminggu ini.

Membaca Injil hari ini, menjadi permenungan bagi saya, bahwa manusia boleh mengikuti rasa, akal, budi dan kehendaknya. Namun, ternyata yang berguna adalah mengikuti rasa, kehendak Dia.

Maka adalah kewajiban kita untuk mendengarkan bisikan dalam batin, dan mengarahkan budi, rasa dan kehendak kepada Nya. Dengan demikian, dari sejak awal hingga akhir, sebisa mungkin yang bekerja adalah Dia. Kita hanyalah hmba, alat Nya saja.

Ternyata hal itu tidak mudah, manakala masih ada kepentingan dalam diri untuk menonjol dan keinginan untuk dikenal. Dalam kondisi ini, kehendak kita yang dominan bekerja dan diri sendiri yang ingin diwartakan.

Dalam bacaan hari ini, Petrus pun spontan membuka baju dan berenang ke pantai karena ingin segera bertemu dengan Kristus, kekasih hati yang dirindu. Dan, nantinya kita akan melihat para murid yang ada dalam lingkar dalam Yesus Kristus menjadi rasul pewarta dan saksi kebangkitan. Sebab, kenyataan kebangkitan membuat mereka berani menyalibkan Ego mereka.

Hati mereka sudah terarah kepada langit. Sebab, mereka sada jika memiliki dunia hanyalah sia-sia belaka.

Dalam pandemi COVID-19, kita rayakan Paskah yang sederhana. Namun, justru makna Paskah semakin membuat kita bisa saling mengasihi dan berbela rasa. Ketika, kita saling peduli satu sama lain karena bencana yang sama kita rasa bersama.

Semoga Paskah ini membuat iman, harapan dan kasih kita semakin menyala dan mengecilkan ego kita masing-masing.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem

Nilai butir ini
(0 pemilihan)

Terkini dari Yohanes K. Sugiyarta