"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Hari ini, tema renungan masih tentang suka cita. Malahan dalam liturgi, hari ini adalah Hari Raya Suka Cita.

Bila mengenang pengalaman suka cita dalam hidup kita, ditemukan banyak bentuk pengalaman suka cita berbeda-beda.

Alkisah, ada anak kecil yang yang merengek sambil mempertontonkan tangisan histeris di kampungnya. Pasalnya, di kampung sedang ada tontonan dan, seperti biasa, ada banyak penjual mainan. Anak itu merengek dibelikan mainan ke ibunya. Dan, ketika ibunya diam saja, anak itu menangis tak ketulungan sambil mengejar ibunya kemana saja si ibu pergi. Si ibu hanya berjalan tanpa menanggapi tangisan si anak.

Si ibu sebentar pergi ke satu rumah tetangga, sebentar kemudian ke rumah tetangga lainnya. Lama kemudian, si ibu mengajak anak yang menangis keini ke tukang mainan. Ini adalah tanda-tanda baik.

Tangis anak itu mereda. Dan, melihat si ibu memberikan uang ke tukang mainan, itu kabar gembira tak terkira. Apalagi saat tukang mainan mengambil mainan yang dimaui dan menyorongkan ke anak tadi, langsung wajahnya berbinar dengan suka cita.

Lalu si anak dengan gagah datang ke teman-temannya, sambil menunjukkan mainan barunya. Dia lupa bahwa tangisannya sudah menjadi tontonan gratis sepanjang waktu tadi.

Itulah suka cita yang dikabarkan dalam renungan saya. Anak yang menangis sudah gembira, dan dengan gembira pula membagi kegembiraannya ke teman-temannya. Tapi, dia tidak menceritakan bagian si ibu yang pergi dari rumah tetangga yang satu ke yang lainnya. Dia tidak tahu, untuk apa ibunya pergi ke rumah tetangga.

Dia tidak tahu bahwa, ibunya pergi ke rumah tetangga untuk mencari pinjaman uang.

Hari ini, Kabar Suka Cita menjadi Hari Raya (Luk 1:26-38). Di balik kabar suka cita ini, kita juga perlu untuk melihat kenyataan bahwa Ibu Maria harus mengambil resiko, hamil di luar nikah. Ini adalah keputusan ber-resiko besar. Apalagi ia sudah ber-tunangan. Di bagian yang lain, kita membaca bagaimana tunangannya pun berencana meninggalkan Ibu Maria diam-diam.

Kita bisa simpulkan bahwa di balik kabar suka cita, ada korban luar biasa. Serupa korban si ibu, demi suka cita si anak di atas.

Dalam situasi terkahir ini, di balik kabar suka cita karena ada sdri/sdr yang sembuh dari COVID-19, kita juga mendengar berita kabar meninggalnya beberapa tenaga medis. Untuk upaya penemuan vaksin yang berguna untuk menangkal virus ini, ada banyak orang bekerja keras dan menanggung resiko terpapar penyakit itu.

Di balik suasana calm down atau lock down demi keselamatan banyak orang, ada banyak pribadi tetap terus bergerak secara terukur demi turut serta menjaga kesehatan dan mengurangi dampak buruk COVID-19.

Itu semua korban, yang menjadi kabar suka cita paling dekat dalam pengalaman kita saat COVID-19 mencemaskan banyak orang.

Mari, bersama Paus Fransiskus, mendoakan doa Bapa Kami pada Rabu (25/3/2020) jam 12.00 untuk mengenangkan Bunda Maria mendapat kabar suka cita bersamaan dengan doa Angelus

Semoga, kita semua disatukan dalam rasa hati yang sama yaitu, rasa kasih, sayang, persaudaraan yang universal. Semoga banyak pihak yang terlibat dikuatkan, demi menangkal COVID-19.

Doa-doa kita semua, akan menjadi pula kabar suka cita dalam bentuk yang berbeda.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Amin

Berkah Dalem

Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Bangunlah... Antara TAHU & MAU »