"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Rm Banu - Maret 2020 (11)

Memuliakan

Rabu, 19 Agustus 2020 11:35

Ditulis oleh

Ingatan saya menerawang ketika keluarga kami mendapat ater-ater, yaitu makanan lengkap dalam ceting bambu berisi nasi lengkap dengan sayur kentang-krecek, tempe, bihun goring, telur, dan ayam goreng. Ater-ater adalah makanan yang dikirim dari keluarga yang sedang hajatan, setelah keluarga kita menyumbang. Itu adalah kebiasaan yang sudah diwarisi lama sebagai bagian dari tradisi jawa, ketika mempunyai hajat (ewuh).

Entah ingatan saya tiba-tiba ke sana. Mungkin karena suatu ketika, kami se-keluarga makan bersama dengan menu ater-ater itu. Dan, di atas amben (bale bambu) kami duduk mengelilingi menu yang ada. Pada kesempatan itu, bapak, sebagai kepala keluarga, dipersilahkan mengambil makanan terlebih dahulu.

Melihat bapak mengambil lebih dahulu menjadi sebuah kewajaran yang biasa, bahkan dengan rasa kerelaan sepenuhnya. Sebuah pengakuan tanpa perlu penjelasan bahwa bapak layak mendapat kesempatan lebih dahulu, karena bapak adalah bapak keluarga. Beliau adalah kepala keluarga kami.

Dalam tata kehidupan sosial yang lebih luas, kita melihat “bapak-bapak” yang lain, yang tak selalu pria. Yang kita akui dan dengan rela hati kita dahulukan. Beliau-beliau adalah para pemimpin yang kita pilih dengan gembira dan diutus untuk didaulat menjadi pengayom kita semua. Maka, dalam aneka acara formal maupun informal, kita terdorong untuk tetap mendahulukan beliau.

Mengapa kita melakukan itu? Karena kita ingin menghormati, dan lebih lagi karena kita ingin memuliakan beliau. Bahkan, secara terbuka dalam aneka sambutan pun istilah itu tampak tiap kali yang berbicara menyebut kalimat: kepada yang terhormat ….. yang kami muliakan.

Kadar rasa memuliakan beliau yang kita anggap sebagai pengayom ini yang muncul ketika merenungkan seluruh bacaan hari ini (Bil 21:4-9 & Yph 8:21-30). Umat Israel yang semakin kelelahan dalam perjalanan keluar dari Mesir mulai mengeluh, sehingga disuruh ular-ular tedung memagut mereka. Maka, Musa membuat ular tedung dari tembaga yang ditinggikan. Sehingga, Israel yang terpagut ular menjadi sembuh tiap kali memandang ular itu. Dalam bacaan Injil, kita pun diingatkan perlunya meninggikan Dia supaya kita tahu bahwa Dia-lah utusan Tuhan.

Dalam rumah kita pun, salib atau gambar Dia kita pasang tinggi sebagai tanda kita memuliakan Allah.

Menjadi renungan tersendiri di jaman yang semakin maju ini, banyak wajah kita pajang di applikasi social media kita. Wajah itu adalah artis, idola atau bahkan foto kita sendiri. Dengan cara tertentu, kita pun melakukannya karena ingin memuliakan, yang berarti menempatkan di tempat yang istimewa. Apakah salah? Tentu bukan soal salah dan benar renungan kita. Hanya sebuah pertanyaan, bila sedemikian besar kagum kita pada mereka, apakah demikian besar pula kagum kita kepada Dia? Dan, apakah kita telah memberi tempat mulia dengan pantas untuk Nya?

Dalam situasi hari ini yang rawan karena COVID-19, kita menemu situasi istimewa dimana kita semua mengalami isolasi mandiri. Yang biasa aktif dan bekerja, pun tiba-tiba seolah menjadi pengangguran. Semua orang tiba-tiba merasa tak berdaya dengan keadaan ini. Namun, situasi ini juga menjadi saat istimewa untuk mengolah secara spiritual kenyataan, bahwa memang kita hanyalah ciptaan yang tak berdaya tanpa Dia. Bukankah selayaknya kita memuliakan Nya?

Dengan tetap tekun mendoakan para pemimpin, tenaga medis, dan semua relawan atau bahkan turut serta menjadi relawan yang terukur (siap dengan kondisi dan situasi yang dihadapi, siap dengan segala kelengkapan yang diperlukan) adalah cara kita memuliakan Dia sebagai orang ber-iman. Sebab, dengan cara itu, kita terus membangun percaya bahwa Tuhan bekerja dan menggunakan kita sebagai alat-Nya.

Tetap kreatif, tinggal di rumah, Tuhan memberkati

Berkah Dalem

 
Telunjuk di antara 5 jari

Rabu, 19 Agustus 2020 11:31

Ditulis oleh

5 jari jumlah yang ada di tangan kita. Ada 1 yang berfungsi sebagai telunjuk, yang biasa kita pakai untuk menunjuk sesuatu. Pun demikian, demi etika dan kesopanan, tak jarang kita menunjuk sesuatu menggunakan jempol dengan posisi jari yang lain terlipat ke dalam.

Hal ini seolah menjadi ajakan agar kita semua semakin bisa menyadari diri bahwa, kita semua tanpa kecuali mempunyai kecenderungan untuk menunjuk yang lain. Menunjuk kita lakukan dalam banyak perkara. Kita menunjuk yang lain, entah karena bermaksud untuk menyalahkan atau untuk memberi pekerjaan. Dengan menggunakan jempol untuk menunjuk, kita diajak untuk menimbang masak sebelum menunjuk yang lain.

Perlu kita sadari, bahwa kecenderungan menunjuk beriringan dengan kecenderungan untuk mendapatkan kenyamanan. Bila bisa dibuat mudah kenapa dibuat rumit, adalah contoh slogan yang bisa menggambarkan kecenderung kita ingin hidup nyaman. Apa lagi, bila kita bertemu dengan orang yang suka berbagi wacana namun dalam pelaksanaannya, malah dia tidak hadir. Contoh itu makin tampak jelas.

Dengan demikian, ada dua kecenderungan yang perlu kita renungkan hari ini; yaitu kecenderungan menunjuk dan kecenderungan hidup nyaman.

Bacaan hari ini, kita merenungkan tentang orang tua yang dituakan, yang seharusnya menjadi panutan namun memberi contoh yang tidak baik (Bac I: Daniel 13:1-62). Orang Tua yang dijadikan Hakim justru memberi kesaksian palsu untuk mencari keuntungan pribadi. Maka, Hakim itu sudah menggunakan kuasanya menunjuk untuk mendapatkan kenyamanan hidup.

Namun, bagi orang yang percaya, Allah peduli. Seperti kata Mzm hari ini, Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan (Mzm 23). Dan terbukti, kepada orang yang bersalah pun Gusti Yesus tidak menjatuhkan hukuman. Perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan akan dilempari batu oleh banyak orang, dibebaskan-Nya (Yoh 8:1-11). Gusti Yesus hanya berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Gusti Yesus sejatinya mempunyai kapasitas menjadi hakim kita semua. Walau demikian, kuasa itu tidak digunakan-Nya. Menjadi jelas bahwa kita pun perlu untuk merenung, mengapa kuasa saya melampaui Dia. Bahkan ketika jabatan sebagai Hakim pun tak melekat dalam diri kita, kita bertindak seolah yang maha kuasa dengan menuduh dan melempar tanggung jawab kepada orang lain.

Dalam situasi ketika corona merebak belakangan ini, kita perlu untuk lebih hati-hati. Jangan sampai kita saudari/saudara yang mempunyai gejala terjangkit, malahan tak berani mengakui. Sebab, ia sudah terlanjur merasa diri menyandang aib memalukan. Jangan sampai mereka merasa telah diputuskan nasibnya, seolah tak ada jalan keluar. Jangan sampai, mereka merasa sepi sendirian tanpa pertolongan.

Marilah terus tetap menebarkan suasana positif dalam situasi ini. Semoga dengan demikian, kita tidak kehilangan kemanusiaan kendati harus menjaga jarak satu dengan yang lain.

Berkah dalem

 
Kemuliaan Allah

Rabu, 19 Agustus 2020 11:29

Ditulis oleh

Keelokan kehidupan yang terjadi dalam hidup ini menjadi mukjijat bagi yang mengalaminya. Di dalam situasi sulit belakangan ini, ada pekerja OJOL menemu keelokan hidup ketika mendapat order mengantar makanan namun ternyata makanan itu tidak untuk sesungguhnya diantar ke alamat yang tertera.

Yang memesan justru membilang sambil menunjuk plastik yang digantung di pagar,"Uang untuk antar makanan ada di dalam tas plastik itu. Lalu, makanannya tidak usah diantarkan. Tapi, silahkan bapak bagi kemana terserah. Ada beberapa bungkus di dalamnya. Semoga berguna ya pak..."

Itu adalah kalimat yang tidak pernah diduga akan dia dengar. Pekerja OJOL itu sampai terdiam dan kebingungan. Helm dilepas dan dipakai berulang. Dan, pelan, tangan kanannya mengusap ujung mata, berusaha menghapus jejak air mata.

Peristiwa tak terduga yang menggembirakan Sukma adalah peristiwa keelokan dunia, manakala kasih berbicara dan kemanusiaan menjadi utama.

Di saat ketika semua diminta untuk isolasi mandiri dan melakukan pengambilan jarak fisik (physical distancing) demi menjaga sehat masing-masing, ada yang tetap bergerak untuk berbagi kasih dan membela kemanusiaan.

Isolasi mandiri untuk menjaga sehat pribadi dan bersama, tidak mematahkan kreatifitas untuk peduli dan berbagi.

Kisah lain, ada sekelompok orang yang patungan di Solo Baru lalu di "deposit" kan ke seorang penjual makanan kaki lima. Perhari diminta memasak 40 bungkus dan dibagikan kepada yang membutuhkan. Dengan cara ini, yang berjualan tetap mendapat pemasukan sedang yang membutuhkan makanan terpenuhi kebutuhannya.

Di Jakarta, pekerja OJOL dipekerjakan oleh BAZNAS untuk membersihkan FASUM dengan diberi upah. Sehingga, pekerja OJOL yang minim orderan tetap pulang membawa uang. Dan, FASUM terjaga kebersihannya karena disemprot disinfectan.

Serupa bacaan Minggu V Prapaskah (Yoh 11:1-45).Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan, dan berpesan: barang siapa percaya akan melihat kemuliaan Allah.
Dengan kepercayaan itu, terjadilah mukjijat yaitu bangkitnya Lazarus.

Saudari dan saudara, mari kita pun membangun kepercayaan yang sama bahwa keelokan Allah yang menjadi tanda kemuliaan-Nya, masih terjadi sampai dengan hari ini.

Belum lagi, kiprah dari beberapa saudara yang bertekun tiap hari mengirim telor dan buah kepada tenaga medis yang bekerja keras. Tak semua gerak ini terekam dan terberitakan. Tak jarang, yang terjadi adalah dalam kesenyapan isolasi mandiri.

Namun, percayalah bahwa di luar rumah kita ada banyak keelokan terjadi yang menunjukkan bahwa kemuliaan Allah masih ada, di jaman ini

Tuhan memberkati.

Berkah dalem

Equality before the Law

Rabu, 19 Agustus 2020 11:27

Ditulis oleh

Equality before the law adalah istilah yang kerap kita dengar manakala kita mengikuti persidangan. Arti dari istilah itu, kira-kira, adalah kesetaraan di hadapan hukum.

Kita semua setara di hadapan hukum. Oleh sebab itu semua punya hak untuk diperlakukan sama di hadapan hukum. Di hadapan hukum, semua perlu memegang asas praduga tak bersalah sebelum vonis hukum dijatuhkan.

Renungan hari ini (Yoh 7: 40-53), berkisah tentang upaya penangkapan Yesus atas prakarsa orang Farisi dan Imam Kepala. Akan tetapi, para penjaga tidak ada yang berani menangkapnya. Dan, Nicodemus pun mengingatkan agar Yesus ditanya dulu sebelum Ia dihakimi.

Namun, ternyata Nicodemus pun mendapat tuduhan bersekongkol dengan Yesus. Nicodemus dituduh sebagai sesama orang Galilea, maka Nicodemus membela Yesus.

Cuplikan kisah ini memberi gambaran kepada kita bahwa kita pun tak jarang melakukan hal yang sama. Kita sudah menghakimi sebelum kita mengetahui betul duduk persoalannya.

Situasi terkini dengan merebaknya covid-19 dengan banyak berita yang mengiringi, menyebabkan tumbuh rasa saling curiga di antara kita. Kita yang dulu sangat gembira ber-sosial, belakangan menjadi was-was bertemu orang.

Kita sadar sedang tinggal dalam situasi dimana pandemi COVID-19 terasa semakin dekat dan nyata di kiri-kanan kita.

Fenomena lock down kampung sudah terjadi, dengan menutup akses masuk ke kampung. Mula awal maksudnya adalah untuk meminimalkan persebaran covid-19. Apalagi dengan adanya anjuran social distancing.

Apakah kita juga tahu bahwa istilah social distancing sudah di-revisi menjadi physical distancing (pengambilan jarak secara fisik, 2 M dgn yang lain)? Sebab, physical distancing menjadi upaya yang lebih memastikan kita tidak tertular ketika ada air keluar dari mulut sewaktu bersin, batuk atau berbicara.

Fenomena lock down kampung ini, semoga tidak membuat kita menyingkirkan banyak sahabat, kerabat dan saudara. Semoga, upaya menutup akses ke kampung tidak menimbulkan kesalahpahaman karena ada yang merasa tertolak. Janganlah upaya ini, membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan dan solidaritas. Sebuah naluri untuk saling membantu yang kita warisi dari para pendahulu

Semoga, kita tidak menjadi hakim tanpa pengadilan yang menjatuhkan vonis tanpa proses seperti orang Farisi.

Mari tetap berhati-hati, saling menjaga dan waspada namun tetap menjaga persaudaraan di antara kita.

Amin
Berkah dalem

 
Mengapa kamu tidak percaya…

Rabu, 19 Agustus 2020 11:24

Ditulis oleh

Sebelum memberikan berkat Urbi et Orbi, Bapa Paus mengajak kita merenungkan sabda yang diambil dari Markus 4: 35-41. Bapa Paus membawa saya masuk dalam kesadaran bahwa situasi kali ini serupa sangat dengan bacaan yang dikutip.

Saat ini, memang kita sedang ada dalam perahu yang sama dan menghadapi badai yang sama. Oleh sebab itu, ini bukan saat untuk menyelamatkan diri sendiri. Namun, bersama-sama kita menghadapinya. Dalam perahu yang satu ini, kita semua menghadapi badai yang sama; yaitu virus Corona COVID-19. Dengan apa yang terjadi, kita semua mengalami kecemasan dan ketakutan yang sama.

Mengapa kamu tidak percaya? Adalah pertanyaan yang dilontarkan kepada para Murid yang membangunkan Tuhan Yesus kala badai terjadi. Sebab, manakala badai terjadi, Tuhan Yesus justru tidur di buritan belakang. Serupa dengan para Murid, kita pun bersama-sama datang dan bertanya mengapa Engkau tidur dan diam saja, Tuhan?

Mengapa kamu tidak percaya, adalah pertanyaan Tuhan Yesus yang berulang kali disebut oleh Bapa Paus dan ditujukan kepada kita semua. Tidur Tuhan Yesus adalah doa. Bukti kepercayaan yang utuh kepada kehendak Bapa. Kepercayaan itu membuahkan harapan akan segala yang baik akan terjadi, entah apapun itu.

Mengapa kamu tidak percaya? Menjadi pertanyaan yang kembali mengemuka dan diajak oleh Bapa Paus untuk kita renungkan bersama. Ini bukan saat penghakiman Tuhan, melainkan ini saat kita membuat penghakiman (baca: pilihan) menurut Bapa Paus. Mana yang hendak kita pilih untuk kita perjuangkan dalam hidup ini? Manakah yang hendak kita cari dalam situasi seperti ini? Masihkah kita akan abai dengan Dia?

Mengapa kamu tidak percaya? Virus Corona COVID-19 telah mengambil hidup kita, merusak rencana kita, menggalkan jadwal dan pekerjaan kita. Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan. Sebab, harapan kita terus ada karena kita percaya Bapa punya kehendak baik atas kita semua.

Kita tidak boleh kehilangan harapan atas hidup ini. Berkat Urbi et Orbi diberikan kepada kita dengan harapan agar kita mendapatkan indulgensi penuh. Kita siapkan diri kita menghadapi segala kemungkinan di masa depan dengan tetap menggenggam harapan yang penuh.

Tuhan Berkati. Amin

 
Harapan

Rabu, 19 Agustus 2020 11:23

Ditulis oleh

Dalam situasi krisis karena virus corona yang semakin lama, semakin dekat rasanya; membuat kita merasa bahwa bahaya bukan lagi wacana. Bahaya itu serasa makin hari semakin nyata.

Dalam situasi ini, kita terus membangun optimisme dengan hitungan manusiawi menurut aneka sumber informasi yang kita temui. Akan tetapi, ketika optimisme itu tidak terjadi maka kita akan berubah menjadi orang-orang yang pesimis.

Oleh sebab itu, sebagai orang ber-iman, yang kita pegang adalah harapan. Harapan ada dasarnya adalah iman/keyakinan. Serupa kisah lama, kendati tak tahu apakah besok akan bangun, namun malam ini kita nyalakan alarm.

Iman kita mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Tuhan Allah yang maha baik yang meperhatikan kita manusia, ciptaan-Nya. Bahkan, kendati kematian yang kita alami, harapan itu membuat kita memandang kematian sebagai pengalaman yang membahagiakan.

Dari sebab itu, iman membuat kita tak pernah kehilangan harapan. Maka, tengah malam ini (27/3/2020) jam 24.00 wib, kita satukan seluruh diri kita bersama Bapa Paus untuk berdoa di halaman Basilika St Petrus dengan kemungkinan untuk mendapatkan indulgensi penuh (pengampunan atas dosa) serta harapan agar krisis karena corona segera bisa kita lalui, dengan tetap menggenggam harapan dalam diri kita.

Tuhan maha baik, dan tetap baik menjagai kita semua.

Amin
Berkah Dalem

 
Siapakah Aku?

Jumat, 27 Maret 2020 08:18

Ditulis oleh

Sebagai orang Jawa (tradisi ketimuran), naluri yang ada dalam diri kita mengajak kita untuk ber-saudara dengan sebanyak mungkin orang. Maka, bila kita bertemu dengan orang yang baru, cenderung kita akan bertanya: dari mana? Kemudian di daerah yang disebutkan itu, kita akan mengingat punya kenalan siapa.

Selanjutnya, Kita akan menghubung-hubungkan garis saudara atau pertemanan kita. Dan, kita akan merasa senang bila ternyata kenalan baru ini mempunyai hubungan saudara dengan saudara kita, atau hubungan pertemanan dengan teman kita. Pada intinya, kita senang bila kita menemukan hal yang bisa membuat kedekatan kita menjadi lebih dekat lagi.

Rasanya, jiwa sosial orang Timur erat ditandai dengan mencari kesamaan di antara kita semua. Kesamaan itu lalu berlanjut dengan mencari hal lain yang serupa, semisal hobby, kesenangan, pekerjaan, atau cara pandang politik dan seterusnya.

Kesamaan yang ditemukan membuat kita merasa semakin mengenal dan dekat. Sehingga obrolan/diskusi semakin gayeng (heboh) kendati baru saja bertemu.

Hubungan pun makin meningkat sampai menjadi sebentuk relasi yang menyentuh emosi. Emosi atau rasa yang membuat kita mengakui, kita saudara dan saling peduli satu sama lain.

Sebaliknya bila tidak saling kenal, maka kita pun enggan bertegur sapa atau saling mendekat.

Pada masanya, Gusti Yesus pun mengalami hal serupa. Ada sebagian yang mengenal Dia namun banyak pula yang tidak mengenalnya. Ada yang ingin mengikuti-Nya, namun ada pula yang ingin membunuh-Nya. (Injil hari ini, Yoh 7:1-2.10.25-30)

Menjadi pertanyaan untuk kita, apakah kita pun mengenal Dia? Kita bayangkan, andai Gusti Yesus bertanya kepada kita satu-satu: Siapakah Aku?

Apakah jawab saya?

Bila saya menjawab, saya mengenal Dia; aapakah saya juga melakukan apa yang menjadi perintah Nya?

Dalam situasi saat ini, ketika banyak orang cemas dan kawatir karena COVID-19, adakan kesempatan nyata mewujudkan kasih dan persaudaraan dengan berupaya untuk membagi semangat positif untuk orang-orang terdekat dan sekitar kita. Bila ada berita yang negatif, kita coba tahan dan renungkan bila hendak membagikan berita itu. Sebab, kita sungguh perlu tahu, siapa yang akan membaca berita ini. Mari terus saling mendukung upaya menghapus COVID-19, sebagai wujud kasih dan persaudaraan di antara kita.

Mendukung dengan berdoa (entah sambil nyalakan lilin atau tidak) adalah upaya yang tak kalah pentingnya. Hari ini, berama Bapa Paus kita berdoa jam 24.00 (jam 18.00 waktu Italy) dan menerima berkat Urbi et Orbi sambil berharap kemungkinan untuk mendapat indulgensi penuh.

Tuhan menjagai kita semua, dan mari tetap membangun rasa ber-saudara kendati sudah jarang berjumpa.

Tuhan memberkati
Berkah dalem

Antara TAHU & MAU

Rabu, 19 Agustus 2020 11:16

Ditulis oleh

Suatu ketika ada yang bertanya, mengapa kita harus mengikuti Yesus yang sering diajarkan sebagai jalan,kebenaran dan hidup? Bukankah kita ini dicipta bebas untuk menentukan jalan hidup kita masing-masing?

Apalagi di era komunikasi digital seperti ini. Banyak bacaan yang bisa kita pakai. Bacaan terusan dari sosial media pun banyak yang keren. Sedang, membaca Kitab Suci itu membosankan, tulisannya kecil dan tidak ada gambarnya.
*

Sebetulnya, adalah serupa jelajah alam di sebuah gunung dengan puncak gunung sebagai finish-nya.

Kita diberi kebebasan untuk menentukan arah dan jalan yang mau kita lewati. Namun, kita tidak tahu, di depan apakah ada jalan yang bisa membawa kita menuju puncak atau tidak. Apalagi gunung ini mempunyai hutan yang sangat lebat.

Dari sebab itu, Tuhan Yesus memberi jalan dengan sabda: Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Barangsiapa mengikuti Aku akan menemukan hidup yang kekal

Jadi, ini adalah pilihan. Menentukan jalan sendiri yang berujung penyesalan karna sudah salah jalan. Atau, sejak sekarang terus belajar mengenali Tuhan Yesus agar kita selamat sampai tujuan. Pilih yang mana?

Kita tahu bahwa semua Agama mempunyai Kitab Suci. Kita tahu, Kitab itu disebut Suci karena menuntun manusia menuju keselamatan abadi.

Namun, tak selalu kita mau untuk membacanya demi menemu Sang Sumber Hidup itu sendiri... Janganlah kita menjadi Ahli Kitab yang ditegor Gusti Yesus dalam bacaan hari ini (Yoh 5:31-47).

Ahli Kitab itu menyelidiki Kitab Suci dan mereka menemu nubuat tentang Gusti Yesus. Namun, mereka tidak mau datang kepada-Nya. Serupa kita, yang mengenal siapa Gusti Yesus karna Baptisan, namun tidak mau datang dan mengikuti Dia.

Kita juga tahu ada aneka nasehat bijak selama Pandemi Corona (COVID-19) ini. Kita diajak menebarkan berita positif yang membangun optimisme, namun masih banyak yang posting berita menakutkan yang membesarkan ketakutan. Kita tahu dalam menggunakan sosial media, kebenaran informasi (validitas) diperlukan, namun kita kadang masih latah untuk meneruskan berita yang kita sendiri belum yakin kebenarannya.

Prapaskah 2020 ini, kita masih menggenggam semangat untuk bertobat, terlibat, dan menjadi berkat. Dari rumah kita masing-masing, kita terus berupaya berubah untuk menjadi orang yang suka membagikan semangat yang positif. Ini adalah wujud keterlibatan nyata kita. Agar semua, boleh menemukan jalan, kebenaran dan hidup: secara khusus untuk tim medis yang masih terus berupaya keras demi selamat kita semua.

Semoga Tuhan memberkati kita semua

Amiinn
Berkah dalem

Kabar Suka Cita

Rabu, 19 Agustus 2020 11:15

Ditulis oleh

Hari ini, tema renungan masih tentang suka cita. Malahan dalam liturgi, hari ini adalah Hari Raya Suka Cita.

Bila mengenang pengalaman suka cita dalam hidup kita, ditemukan banyak bentuk pengalaman suka cita berbeda-beda.

Alkisah, ada anak kecil yang yang merengek sambil mempertontonkan tangisan histeris di kampungnya. Pasalnya, di kampung sedang ada tontonan dan, seperti biasa, ada banyak penjual mainan. Anak itu merengek dibelikan mainan ke ibunya. Dan, ketika ibunya diam saja, anak itu menangis tak ketulungan sambil mengejar ibunya kemana saja si ibu pergi. Si ibu hanya berjalan tanpa menanggapi tangisan si anak.

Si ibu sebentar pergi ke satu rumah tetangga, sebentar kemudian ke rumah tetangga lainnya. Lama kemudian, si ibu mengajak anak yang menangis keini ke tukang mainan. Ini adalah tanda-tanda baik.

Tangis anak itu mereda. Dan, melihat si ibu memberikan uang ke tukang mainan, itu kabar gembira tak terkira. Apalagi saat tukang mainan mengambil mainan yang dimaui dan menyorongkan ke anak tadi, langsung wajahnya berbinar dengan suka cita.

Lalu si anak dengan gagah datang ke teman-temannya, sambil menunjukkan mainan barunya. Dia lupa bahwa tangisannya sudah menjadi tontonan gratis sepanjang waktu tadi.

Itulah suka cita yang dikabarkan dalam renungan saya. Anak yang menangis sudah gembira, dan dengan gembira pula membagi kegembiraannya ke teman-temannya. Tapi, dia tidak menceritakan bagian si ibu yang pergi dari rumah tetangga yang satu ke yang lainnya. Dia tidak tahu, untuk apa ibunya pergi ke rumah tetangga.

Dia tidak tahu bahwa, ibunya pergi ke rumah tetangga untuk mencari pinjaman uang.

Hari ini, Kabar Suka Cita menjadi Hari Raya (Luk 1:26-38). Di balik kabar suka cita ini, kita juga perlu untuk melihat kenyataan bahwa Ibu Maria harus mengambil resiko, hamil di luar nikah. Ini adalah keputusan ber-resiko besar. Apalagi ia sudah ber-tunangan. Di bagian yang lain, kita membaca bagaimana tunangannya pun berencana meninggalkan Ibu Maria diam-diam.

Kita bisa simpulkan bahwa di balik kabar suka cita, ada korban luar biasa. Serupa korban si ibu, demi suka cita si anak di atas.

Dalam situasi terkahir ini, di balik kabar suka cita karena ada sdri/sdr yang sembuh dari COVID-19, kita juga mendengar berita kabar meninggalnya beberapa tenaga medis. Untuk upaya penemuan vaksin yang berguna untuk menangkal virus ini, ada banyak orang bekerja keras dan menanggung resiko terpapar penyakit itu.

Di balik suasana calm down atau lock down demi keselamatan banyak orang, ada banyak pribadi tetap terus bergerak secara terukur demi turut serta menjaga kesehatan dan mengurangi dampak buruk COVID-19.

Itu semua korban, yang menjadi kabar suka cita paling dekat dalam pengalaman kita saat COVID-19 mencemaskan banyak orang.

Mari, bersama Paus Fransiskus, mendoakan doa Bapa Kami pada Rabu (25/3/2020) jam 12.00 untuk mengenangkan Bunda Maria mendapat kabar suka cita bersamaan dengan doa Angelus

Semoga, kita semua disatukan dalam rasa hati yang sama yaitu, rasa kasih, sayang, persaudaraan yang universal. Semoga banyak pihak yang terlibat dikuatkan, demi menangkal COVID-19.

Doa-doa kita semua, akan menjadi pula kabar suka cita dalam bentuk yang berbeda.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Amin

Berkah Dalem

Bangunlah...

Rabu, 19 Agustus 2020 11:13

Ditulis oleh

Bangunlah adalah kata pertama yang dipakai oleh Gusti Yesus ketika menyembuhkan orang lumpuh di kolam Betesda.

Mukjijat terjadi lagi hari ini, sehingga refrein suka cita menggema lagi dalam batin kita yang membaca dan merenungkan sabda. Kita semua diingatkan bahwa Gusti Allah sungguh hadir dan menemani perjalanan kita.

Dari antara kita, ada yang menghayati panggilan sebagai selibater, tidak menikah dan panggilan hidup ber-keluarga. Di atas semua itu, kita semua dipanggil untuk bahagia karena karya baiknya...

Ada kisah ketika seseorang selalu merasa hatinya teriris ketika mengingat sebuah peristiwa. Seluruh waktu terasa gelap dan sesak, manakala teringat pengalaman itu. Marah dalam hati tiba-tiba terasa menggunung seperti mau pecah. Sekian lama, dia tidak bisa melihat suka cita. Sekian lama pula hatinya tak sanggup merenung tentang Gusti Allah yang maha baik.

Namun, ketika hatinya bisa menerima dan mengampuni seketika itu pula suka cita memenuhi hati. Bagaikan taman, hatinya penuh dengan bunga warna warni dan keharuman. Dengan mudah, bibirnya menyunggingkan senyuman dan melontarkan sapaan ramah yang jenaka.

Harinya terasa ringan dan apapun yang terjadi baik yang menyenangkan maupun tidak, hatinya tak lagi gampang was-was dan kawatir..

Bangunlah adalah sabda yang membuat kita terhenyak dan bangkit. Bangunlah menjadi kata yang penuh dengan daya agar kita meninggalkan pikiran manusia kita dan mengikuti Gusti. Sebab, seperti orang lumpuh itu, ketika ia percaya dan bangkit ia disembuhkan Gusti

Sering kita mengatakan sulit. Memberi maaf seolah kita memberi anugerah tak terkira. Padahal, memberi maaf sebetulnya adalah upaya kita menyembuhkan diri sendiri.

Dalam masa pertobatan ini, pergulatan kita adalah dua (2), yaitu pertama membangun penyesalan untuk mendapat pengampunan dan kedua membangun suka cita agar bisa mengampuni.

Maka, bangunlah menjadi ajakan untuk kita semua menjadi sembuh dan mengembalikan hati kita penuh dengan suka cita. Inilah panggilan hakiki kita semua.

Banyak karya baik Gusti Allah mengalir bagaikan air (bacaan I, Yeh 47:1-9.12) yang membuat kita ber suka cita. Namun, penderitaan manusia (Yoh 5:1-16) membuat kita sulit bersuka cita mengidungkan pujian Mazmur hari ini

Sdri/sdr... Kendati Corona masih meliputi media sosial dan berita, mari bangunlah jangan kehilangan suka cita. Agar hati kita tidak dipenuhi rasa was-was dan kawatir. Kita doakan para pejuang kita, tim medis yang berjibaku demi kesehatan kita semua kendati kelelahan dan minim alat perlindungan diri. Kita doakan juga semua saudara yang bekerja harian, yang membuat mereka terpaksa pergi dari rumah. Semoga semua mengupayakan PHBS (Pola Hidup Bersih & Sehat) dengan baik.

Dengan percaya dan suka cita, kita doakan semua agar tetap bergembira dan sehat menjalani semua tugas dan pekerjaan agar Corona segera dituntaskan.

Tuhan memberkati kita semua

Berkah dalem