Cetak halaman ini

Bagi orang kebanyakan, sinyal adalah hal pertama yang dicari ketika berada di tempat yang baru sebab, pada hakikatnya semua orang ingin terhubung dengan yang lain.
Update status, komen, like maupun subscribe adalah cara yang dipakai sebagai penanda bahwa kita sudah terhubung. Dan, ada yang sangat gelisah dan kesepian manakala signal tidak ada, walaupun dia sedang berada dalam kerumunan keluarganya.
Sinyal atau signal berarti adalah tanda atau isyarat. Ternyata dari dulu, manusia memang sudah akrab dengan tanda-tanda. Bahkan, untuk mengingat sebuah peristiwa manusia menciptakan manumen, prasasti, atau tugu dsb sebagai tanda. Nama pun diberikan kadang mencerminkan terjadinya proses kelahiran yang empunya nama. Foto yang dipajang di dinding pun ada menjadi tanda.
Semua tanda itu, menjadi penghubung kita dengan peristiwa yang pernah terjadi entah berapa lama yang lalu. Tanda itu membuat kenangan, bayangan, dan imaginasi kita bertaburan dengan leluasa memenuhi kerinduan batin. Tanda yang tanpa dimaui membuat kita tertawa sendiri atau, tiba-tiba menitikkan air mata.
Mengait pada COVID-19 yang merebak belakangan ini, kita juga meraba tanda apakah di balik semua ini? Ada rasa ngeri, kawatir, takut dan was-was melihat banyaknya korban. Namun, ada pula rasa haru, tangis dan kepedulian melihat tim kesehatan yang bekerja keras menjalankan tugas.
Hari ini, Hari Biasa Pekan Prapaskah IV, Gusti Yesus dikisahkan pergi lagi ke Kana dan Galilea. Dua tempat dimana Gusti Yesus pernah membuat tanda dan mukjizat. “JIka kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”, kata Gusti Yesus…
Dalam masa krisis seperti ini, rasanya sulit menahan kalimat permohonan agar Tuhan membuat mujizat, tidak keluar dari mulut dan batin kita. Inginnya, kita memohon terus agar mujizat itu terjadi lagi dan segeralah krisis ini pergi. Tetapi, kenapa rasanya malu merengek mujizat itu kepada Tuhan ya?
Seolah meminta tanda membuat saya merasa malu bila nanti dikatakan sebagai orang yang kurang percaya. Kurang percaya bahwa Gusti ada bersama saya, entah apapun situasinya. Seperti pegawa istana dalam bacaan hari ini, dia memohon agar anaknya dihidupkan. Gusti hanya bersabda dan pegawai istana itu percaya, maka sembuhlah anaknya dan hidup!
Saya seperti sedang diingatkan untuk percaya saja. Terus berupaya dan berdoa, dan terus percaya. Gusti juga turut bekerja bagi mereka yang bekerja. Gusti juga turut mencari, bagi mereka yang mencari solusi. Gusti juga turut menangis, bagi mereka yang sedang dilanda kesedihan. Gusti ada bersama kita.
Saudari-saudara, janganlah kecemasan dan ketakutan membuat kita lupa bersuka cita, sebab sesungguhnya Tuhan menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorai, dan penduduknya penuh kegirangan (Yes 65:17-21)
Mari saling mendoakan dan membagi semangat penuh sorak sorai dari rumah kita masing-masing, sebab Tuhan beserta kita.
Amin
Berkah Dalem

Nilai butir ini
(0 pemilihan)

Terkini dari Yohanes K. Sugiyarta