"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Pernah satu kali, ketika menyaksikan pelantikan dokter, bapak Pendeta yang duduk di sebelah saya membisik berkata;”Lihat Romo. Mereka yang jadi dokter, bapak, ibu atau bapak-ibunya juga dokter. Tapi, anak-anak saya tak satupun yang ingin menjadi Pendeta.” Saya jawab dengan singkat,”Sama Pak…” 

“Ahh… Romo..” Kata bapak Pendeta itu sambil pelan memukul bahu saya.

Ketika ada seorang anak melakukan sesuatu yang mengagumkan, terdorong hati ini untuk bertanya: siapa orang tuanya? Siapa kakek-neneknya? Bila kita menemu garis lurus yang menurut kita bisa menjelaskan sehingga anak itu bisa melakukan sesuatu yang mengagumkan, kita lalu tenang dan maklum untuk berkata: wajarlah kalau begitu. Begitu pula sebaliknya, kita akan menjadi heran ketika melihat anak itu biasa saja sedangkan dia lahir dari sebuah keluarga yang hebat.

Bacaan hari ini (Kej 17: 3-9, Yohanes 8: 51-59) berkisah yang kurang lebih sama. Bangsa Israel sangat bangga dengan bapa leluhurnya, Abraham. Yang menerima janji dari Allah Yahwe, untuk menjadi Bapa sejumlah besar bangsa. Oleh sebab itu, mereka sangat sakit hati ketika Yesus berkata; Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu, ia telah melihatnya dan ia bersukacita.

Kita bisa membayangkan kemarahan itu. Bapa Abraham telah dicoreng dan direndahkan oleh Yesus yang menurut mereka umurnya pun belum genap 50 tahun. Akan tetapi, Abraham yang telah diakui sebagai Bapa segala Bangsa, ternyata lebih kecil dari pada Yesus. Lebih sakit lagi hati Israel, sebab mereka tahu bahwa Yesus hanyalah anak tukang kayu.

Dalam konteks hidup jaman ini, sering terdengar bahwa Gereja lambat dalam bersikap terkait sesuatu. Sikapnya tidak sigap seperti yang diharapkan oleh kebanyakan dari kita semua. Di sini, saya mengerti bahwa tidak mudah menangkap maksud Tuhan melalui peristiwa. Serupa bangsa Israel yang tergagap untuk bisa mengerti maksud dari sabda dan karya Tuhan Yesus, waktu itu. Banyak dari orang Israel yang menolak Yesus.

Bagi sebagian Israel yang menerima dengan mengikuti Yesus kemana-mana, pun mereka salah mengerti kehendak-Nya. Sehingga, ketika Yesus Kristus harus sengsara memanggul salib tak ada satu pun murid yang menemani. Hanya sang ibu, Ibu Maria yang turut sampai kaki salib.

Berada dalam situasi ketika virus Corona menjadi pandemi di seluruh dunia, membuat kita juga bertanya: apa ini? Dari mana virus ini, dari Tuhan kah? Salah dan dosa siapakah, sehingga kita mengalami ini? Tuhaaan apa mau-Mu, belum cukupkah derita ini ?

Seliweran di telinga dan hati kita, telaah maupun tafsir dari banyak orang yang mencoba memberitahu kita apa di balik semua ini. Namun demikian, tetap tenang dan terus mengkaji dalam hening adalah langkah bijak saat ini. Kita percaya bahwa bila tiba saatnya, kita semua akan mengerti semua ini.

Lebih baik, kita menaruh perhatian bila ada saudari-saudara yang membutuhkan pertolongan yang ada di sekitar kita. Agar mereka tetap bersuka cita karena di dalam situasi yang tidak mudah ini, mereka tidak merasa sendirian. Apalagi para tenaga medis yang sampai saat ini terus bekerja melayani. Tak lupa juga para Pemimpin kita (Pemerintah & Agama), yang juga terus berupaya agar Bangsa kita bebas dari Pandemi.

Ini pesan yang paling jelas tampak dan perlu dukungan kita bersama. Mari kita semakin eratkan gandeng tangan dalam doa dan upaya. Semoga sungguh, suka cita itu bisa kita rasakan bersama-sama dengan semakin banyak orang.
Tuhan berkati
Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Tidak ada Allah lain Imanuel »