"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Suatu malam gelap, ada serombongan pemuda terpaksa melewati rerimbunan pohon bambu. Tak ada pilihan lain, harus lewat di situ supaya bisa segera sampai tujuan. Semua ketakutan, kecuali ada satu pemuda yang tetap teguh matanya. Tangannya mengusap dan meremas dada. Yang lain kemudian bertanya, mengapa dia lakukan itu? Ini adalah cara doa kepada Yang Mahakuasa, yang diajarkan simbahku, jawab si pemuda tadi.

Kisah itu menjadi pengingat bagi saya, bahwa kita semua sudah dikenalkan dengan Tuhan sejak kita masih kecil. Dengan cara yang berbeda, terpatri di batin ini sosok pencipta yang Agung, yang layak dimuliakan di tempat yang tinggi. Bayangan itu begitu indah dan mempesona, sehingga setiap Minggu saya turut dengan banyak saudara dari mana-mana, merayakannya di Gereja. Di sana, kisah tentang Tuhan itu dikumandangkan lagi oleh Romo.

Bacaan hari ini (Dan 3:14-28 & Yoh 8:31-42) pun berkisah tentang pergulatan memegang iman dan kebenaran.
Bacaan pertama, berkisah bagaimana Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengenangkan Tuhan yang diwariskan oleh leluhurnya ketika menghadapi api dari Raja Nebukadnezar. Mereka dibakar supaya mengkhianati Tuhannya, namun malahan mereka berjalan jalan di tengah api yang menyala.
Dalam Injil, Gusti Yesus juga menegaskan bahwa siapapun yang memegang sabda-Nya akan mengalami suka cita dan kemerdekaan. Merdeka dalam hal ini adalah bebas dari keinginan dan rasa manusia yang membuat kita tidak bebas untuk mengasihi. Orang-orang Israel yang mengaku cinta kepada Allah dan keturunan Abraham, terusik dengan kehadiran Yesus. Semua tindakan kasih Yesus pun tak sanggup meyakinkan mereka. Bahkan, tumbuh niat dalam hati mereka untuk membunuh Yesus.

Dari sejak kecil, samar-samar Allah sudah kita tahu dan kenali. Makin hari, Allah itu makin tampak dan makin jelas. Gambaran Dia yang dulu jauh, terasa semakin dekat dan nyata. Itu semua terjadi dan dialami, oleh semua yang terus bertekun dalam doa dan pasrah kepada Nya.

Dan, sebaliknya, Allah terasa semakin jauh dan tak jelas, bagi mereka yang terus memikirkan dan mendiskusikan Allah, namun tanpa berdoa.

Dalam situasi dengan Corona di seputaran kita, ada yang semakin teguh imannya namun ada pula yang semakin ragu: Tuhan ada dimana? Ada yang semakin hati-hati dan waspada dalam hidup, namun ada pula yang semakin tak peduli dengan hidupnya.

Isolasi mandiri dan corona, menjadi saat yang sungguh istimewa untuk masing-masing kita bertanya: Allah yang seperti apa yang aku Imani? Apakah Allah itu jelas dan terus aku pegang sebagai andalan, atau sesekali saja, ketika butuh aku pergi kepada-Nya? Dan, lebih lagi, apakah Allah yang kita Imani itu, pun kita wariskan kepada anak kita dengan baik? Semoga kita merasakan semakin bisa bersyukur dengan apa yang ada, berterima kasih dengan apa yang kita miliki. Dan, kita semua semakin yakin bahwa Allah sungguh beserta kita. Amin

Tuhan memberkati
Berkah Dalem

Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: Garis Keturunan »