"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Ingatan saya menerawang ketika keluarga kami mendapat ater-ater, yaitu makanan lengkap dalam ceting bambu berisi nasi lengkap dengan sayur kentang-krecek, tempe, bihun goring, telur, dan ayam goreng. Ater-ater adalah makanan yang dikirim dari keluarga yang sedang hajatan, setelah keluarga kita menyumbang. Itu adalah kebiasaan yang sudah diwarisi lama sebagai bagian dari tradisi jawa, ketika mempunyai hajat (ewuh).

Entah ingatan saya tiba-tiba ke sana. Mungkin karena suatu ketika, kami se-keluarga makan bersama dengan menu ater-ater itu. Dan, di atas amben (bale bambu) kami duduk mengelilingi menu yang ada. Pada kesempatan itu, bapak, sebagai kepala keluarga, dipersilahkan mengambil makanan terlebih dahulu.

Melihat bapak mengambil lebih dahulu menjadi sebuah kewajaran yang biasa, bahkan dengan rasa kerelaan sepenuhnya. Sebuah pengakuan tanpa perlu penjelasan bahwa bapak layak mendapat kesempatan lebih dahulu, karena bapak adalah bapak keluarga. Beliau adalah kepala keluarga kami.

Dalam tata kehidupan sosial yang lebih luas, kita melihat “bapak-bapak” yang lain, yang tak selalu pria. Yang kita akui dan dengan rela hati kita dahulukan. Beliau-beliau adalah para pemimpin yang kita pilih dengan gembira dan diutus untuk didaulat menjadi pengayom kita semua. Maka, dalam aneka acara formal maupun informal, kita terdorong untuk tetap mendahulukan beliau.

Mengapa kita melakukan itu? Karena kita ingin menghormati, dan lebih lagi karena kita ingin memuliakan beliau. Bahkan, secara terbuka dalam aneka sambutan pun istilah itu tampak tiap kali yang berbicara menyebut kalimat: kepada yang terhormat ….. yang kami muliakan.

Kadar rasa memuliakan beliau yang kita anggap sebagai pengayom ini yang muncul ketika merenungkan seluruh bacaan hari ini (Bil 21:4-9 & Yph 8:21-30). Umat Israel yang semakin kelelahan dalam perjalanan keluar dari Mesir mulai mengeluh, sehingga disuruh ular-ular tedung memagut mereka. Maka, Musa membuat ular tedung dari tembaga yang ditinggikan. Sehingga, Israel yang terpagut ular menjadi sembuh tiap kali memandang ular itu. Dalam bacaan Injil, kita pun diingatkan perlunya meninggikan Dia supaya kita tahu bahwa Dia-lah utusan Tuhan.

Dalam rumah kita pun, salib atau gambar Dia kita pasang tinggi sebagai tanda kita memuliakan Allah.

Menjadi renungan tersendiri di jaman yang semakin maju ini, banyak wajah kita pajang di applikasi social media kita. Wajah itu adalah artis, idola atau bahkan foto kita sendiri. Dengan cara tertentu, kita pun melakukannya karena ingin memuliakan, yang berarti menempatkan di tempat yang istimewa. Apakah salah? Tentu bukan soal salah dan benar renungan kita. Hanya sebuah pertanyaan, bila sedemikian besar kagum kita pada mereka, apakah demikian besar pula kagum kita kepada Dia? Dan, apakah kita telah memberi tempat mulia dengan pantas untuk Nya?

Dalam situasi hari ini yang rawan karena COVID-19, kita menemu situasi istimewa dimana kita semua mengalami isolasi mandiri. Yang biasa aktif dan bekerja, pun tiba-tiba seolah menjadi pengangguran. Semua orang tiba-tiba merasa tak berdaya dengan keadaan ini. Namun, situasi ini juga menjadi saat istimewa untuk mengolah secara spiritual kenyataan, bahwa memang kita hanyalah ciptaan yang tak berdaya tanpa Dia. Bukankah selayaknya kita memuliakan Nya?

Dengan tetap tekun mendoakan para pemimpin, tenaga medis, dan semua relawan atau bahkan turut serta menjadi relawan yang terukur (siap dengan kondisi dan situasi yang dihadapi, siap dengan segala kelengkapan yang diperlukan) adalah cara kita memuliakan Dia sebagai orang ber-iman. Sebab, dengan cara itu, kita terus membangun percaya bahwa Tuhan bekerja dan menggunakan kita sebagai alat-Nya.

Tetap kreatif, tinggal di rumah, Tuhan memberkati

Berkah Dalem

 

5 jari jumlah yang ada di tangan kita. Ada 1 yang berfungsi sebagai telunjuk, yang biasa kita pakai untuk menunjuk sesuatu. Pun demikian, demi etika dan kesopanan, tak jarang kita menunjuk sesuatu menggunakan jempol dengan posisi jari yang lain terlipat ke dalam.

Hal ini seolah menjadi ajakan agar kita semua semakin bisa menyadari diri bahwa, kita semua tanpa kecuali mempunyai kecenderungan untuk menunjuk yang lain. Menunjuk kita lakukan dalam banyak perkara. Kita menunjuk yang lain, entah karena bermaksud untuk menyalahkan atau untuk memberi pekerjaan. Dengan menggunakan jempol untuk menunjuk, kita diajak untuk menimbang masak sebelum menunjuk yang lain.

Perlu kita sadari, bahwa kecenderungan menunjuk beriringan dengan kecenderungan untuk mendapatkan kenyamanan. Bila bisa dibuat mudah kenapa dibuat rumit, adalah contoh slogan yang bisa menggambarkan kecenderung kita ingin hidup nyaman. Apa lagi, bila kita bertemu dengan orang yang suka berbagi wacana namun dalam pelaksanaannya, malah dia tidak hadir. Contoh itu makin tampak jelas.

Dengan demikian, ada dua kecenderungan yang perlu kita renungkan hari ini; yaitu kecenderungan menunjuk dan kecenderungan hidup nyaman.

Bacaan hari ini, kita merenungkan tentang orang tua yang dituakan, yang seharusnya menjadi panutan namun memberi contoh yang tidak baik (Bac I: Daniel 13:1-62). Orang Tua yang dijadikan Hakim justru memberi kesaksian palsu untuk mencari keuntungan pribadi. Maka, Hakim itu sudah menggunakan kuasanya menunjuk untuk mendapatkan kenyamanan hidup.

Namun, bagi orang yang percaya, Allah peduli. Seperti kata Mzm hari ini, Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan (Mzm 23). Dan terbukti, kepada orang yang bersalah pun Gusti Yesus tidak menjatuhkan hukuman. Perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan akan dilempari batu oleh banyak orang, dibebaskan-Nya (Yoh 8:1-11). Gusti Yesus hanya berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Gusti Yesus sejatinya mempunyai kapasitas menjadi hakim kita semua. Walau demikian, kuasa itu tidak digunakan-Nya. Menjadi jelas bahwa kita pun perlu untuk merenung, mengapa kuasa saya melampaui Dia. Bahkan ketika jabatan sebagai Hakim pun tak melekat dalam diri kita, kita bertindak seolah yang maha kuasa dengan menuduh dan melempar tanggung jawab kepada orang lain.

Dalam situasi ketika corona merebak belakangan ini, kita perlu untuk lebih hati-hati. Jangan sampai kita saudari/saudara yang mempunyai gejala terjangkit, malahan tak berani mengakui. Sebab, ia sudah terlanjur merasa diri menyandang aib memalukan. Jangan sampai mereka merasa telah diputuskan nasibnya, seolah tak ada jalan keluar. Jangan sampai, mereka merasa sepi sendirian tanpa pertolongan.

Marilah terus tetap menebarkan suasana positif dalam situasi ini. Semoga dengan demikian, kita tidak kehilangan kemanusiaan kendati harus menjaga jarak satu dengan yang lain.

Berkah dalem

 

Keelokan kehidupan yang terjadi dalam hidup ini menjadi mukjijat bagi yang mengalaminya. Di dalam situasi sulit belakangan ini, ada pekerja OJOL menemu keelokan hidup ketika mendapat order mengantar makanan namun ternyata makanan itu tidak untuk sesungguhnya diantar ke alamat yang tertera.

Yang memesan justru membilang sambil menunjuk plastik yang digantung di pagar,"Uang untuk antar makanan ada di dalam tas plastik itu. Lalu, makanannya tidak usah diantarkan. Tapi, silahkan bapak bagi kemana terserah. Ada beberapa bungkus di dalamnya. Semoga berguna ya pak..."

Itu adalah kalimat yang tidak pernah diduga akan dia dengar. Pekerja OJOL itu sampai terdiam dan kebingungan. Helm dilepas dan dipakai berulang. Dan, pelan, tangan kanannya mengusap ujung mata, berusaha menghapus jejak air mata.

Peristiwa tak terduga yang menggembirakan Sukma adalah peristiwa keelokan dunia, manakala kasih berbicara dan kemanusiaan menjadi utama.

Di saat ketika semua diminta untuk isolasi mandiri dan melakukan pengambilan jarak fisik (physical distancing) demi menjaga sehat masing-masing, ada yang tetap bergerak untuk berbagi kasih dan membela kemanusiaan.

Isolasi mandiri untuk menjaga sehat pribadi dan bersama, tidak mematahkan kreatifitas untuk peduli dan berbagi.

Kisah lain, ada sekelompok orang yang patungan di Solo Baru lalu di "deposit" kan ke seorang penjual makanan kaki lima. Perhari diminta memasak 40 bungkus dan dibagikan kepada yang membutuhkan. Dengan cara ini, yang berjualan tetap mendapat pemasukan sedang yang membutuhkan makanan terpenuhi kebutuhannya.

Di Jakarta, pekerja OJOL dipekerjakan oleh BAZNAS untuk membersihkan FASUM dengan diberi upah. Sehingga, pekerja OJOL yang minim orderan tetap pulang membawa uang. Dan, FASUM terjaga kebersihannya karena disemprot disinfectan.

Serupa bacaan Minggu V Prapaskah (Yoh 11:1-45).Tuhan Yesus tergerak oleh belas kasihan, dan berpesan: barang siapa percaya akan melihat kemuliaan Allah.
Dengan kepercayaan itu, terjadilah mukjijat yaitu bangkitnya Lazarus.

Saudari dan saudara, mari kita pun membangun kepercayaan yang sama bahwa keelokan Allah yang menjadi tanda kemuliaan-Nya, masih terjadi sampai dengan hari ini.

Belum lagi, kiprah dari beberapa saudara yang bertekun tiap hari mengirim telor dan buah kepada tenaga medis yang bekerja keras. Tak semua gerak ini terekam dan terberitakan. Tak jarang, yang terjadi adalah dalam kesenyapan isolasi mandiri.

Namun, percayalah bahwa di luar rumah kita ada banyak keelokan terjadi yang menunjukkan bahwa kemuliaan Allah masih ada, di jaman ini

Tuhan memberkati.

Berkah dalem

Equality before the law adalah istilah yang kerap kita dengar manakala kita mengikuti persidangan. Arti dari istilah itu, kira-kira, adalah kesetaraan di hadapan hukum.

Kita semua setara di hadapan hukum. Oleh sebab itu semua punya hak untuk diperlakukan sama di hadapan hukum. Di hadapan hukum, semua perlu memegang asas praduga tak bersalah sebelum vonis hukum dijatuhkan.

Renungan hari ini (Yoh 7: 40-53), berkisah tentang upaya penangkapan Yesus atas prakarsa orang Farisi dan Imam Kepala. Akan tetapi, para penjaga tidak ada yang berani menangkapnya. Dan, Nicodemus pun mengingatkan agar Yesus ditanya dulu sebelum Ia dihakimi.

Namun, ternyata Nicodemus pun mendapat tuduhan bersekongkol dengan Yesus. Nicodemus dituduh sebagai sesama orang Galilea, maka Nicodemus membela Yesus.

Cuplikan kisah ini memberi gambaran kepada kita bahwa kita pun tak jarang melakukan hal yang sama. Kita sudah menghakimi sebelum kita mengetahui betul duduk persoalannya.

Situasi terkini dengan merebaknya covid-19 dengan banyak berita yang mengiringi, menyebabkan tumbuh rasa saling curiga di antara kita. Kita yang dulu sangat gembira ber-sosial, belakangan menjadi was-was bertemu orang.

Kita sadar sedang tinggal dalam situasi dimana pandemi COVID-19 terasa semakin dekat dan nyata di kiri-kanan kita.

Fenomena lock down kampung sudah terjadi, dengan menutup akses masuk ke kampung. Mula awal maksudnya adalah untuk meminimalkan persebaran covid-19. Apalagi dengan adanya anjuran social distancing.

Apakah kita juga tahu bahwa istilah social distancing sudah di-revisi menjadi physical distancing (pengambilan jarak secara fisik, 2 M dgn yang lain)? Sebab, physical distancing menjadi upaya yang lebih memastikan kita tidak tertular ketika ada air keluar dari mulut sewaktu bersin, batuk atau berbicara.

Fenomena lock down kampung ini, semoga tidak membuat kita menyingkirkan banyak sahabat, kerabat dan saudara. Semoga, upaya menutup akses ke kampung tidak menimbulkan kesalahpahaman karena ada yang merasa tertolak. Janganlah upaya ini, membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan dan solidaritas. Sebuah naluri untuk saling membantu yang kita warisi dari para pendahulu

Semoga, kita tidak menjadi hakim tanpa pengadilan yang menjatuhkan vonis tanpa proses seperti orang Farisi.

Mari tetap berhati-hati, saling menjaga dan waspada namun tetap menjaga persaudaraan di antara kita.

Amin
Berkah dalem

 

Sebelum memberikan berkat Urbi et Orbi, Bapa Paus mengajak kita merenungkan sabda yang diambil dari Markus 4: 35-41. Bapa Paus membawa saya masuk dalam kesadaran bahwa situasi kali ini serupa sangat dengan bacaan yang dikutip.

Saat ini, memang kita sedang ada dalam perahu yang sama dan menghadapi badai yang sama. Oleh sebab itu, ini bukan saat untuk menyelamatkan diri sendiri. Namun, bersama-sama kita menghadapinya. Dalam perahu yang satu ini, kita semua menghadapi badai yang sama; yaitu virus Corona COVID-19. Dengan apa yang terjadi, kita semua mengalami kecemasan dan ketakutan yang sama.

Mengapa kamu tidak percaya? Adalah pertanyaan yang dilontarkan kepada para Murid yang membangunkan Tuhan Yesus kala badai terjadi. Sebab, manakala badai terjadi, Tuhan Yesus justru tidur di buritan belakang. Serupa dengan para Murid, kita pun bersama-sama datang dan bertanya mengapa Engkau tidur dan diam saja, Tuhan?

Mengapa kamu tidak percaya, adalah pertanyaan Tuhan Yesus yang berulang kali disebut oleh Bapa Paus dan ditujukan kepada kita semua. Tidur Tuhan Yesus adalah doa. Bukti kepercayaan yang utuh kepada kehendak Bapa. Kepercayaan itu membuahkan harapan akan segala yang baik akan terjadi, entah apapun itu.

Mengapa kamu tidak percaya? Menjadi pertanyaan yang kembali mengemuka dan diajak oleh Bapa Paus untuk kita renungkan bersama. Ini bukan saat penghakiman Tuhan, melainkan ini saat kita membuat penghakiman (baca: pilihan) menurut Bapa Paus. Mana yang hendak kita pilih untuk kita perjuangkan dalam hidup ini? Manakah yang hendak kita cari dalam situasi seperti ini? Masihkah kita akan abai dengan Dia?

Mengapa kamu tidak percaya? Virus Corona COVID-19 telah mengambil hidup kita, merusak rencana kita, menggalkan jadwal dan pekerjaan kita. Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan. Sebab, harapan kita terus ada karena kita percaya Bapa punya kehendak baik atas kita semua.

Kita tidak boleh kehilangan harapan atas hidup ini. Berkat Urbi et Orbi diberikan kepada kita dengan harapan agar kita mendapatkan indulgensi penuh. Kita siapkan diri kita menghadapi segala kemungkinan di masa depan dengan tetap menggenggam harapan yang penuh.

Tuhan Berkati. Amin