"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Buruh, pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya dari Pemberi Kerja atau pengusaha atau majikan. Wikipedia

Awalnya, hubungan antara buruh dan majikan terjadi hanya antara individu buruh dengan majikan semata. Sehingga, para buruh diperas oleh majikan dengan 20 jam kerja di tempat kerja yang buruk keadaannya. Sehingga terjadilah perlawanan pada tahun 1806. Hingga pada tahun 1881, terbentuklah persatuan para tukang kayu di Chicago dengan nama United Brotherhood of Carpernters and Joiners of America. Inilah awal serikat buruh yang kemudian merebak ke seluruh Negara.

5 September 1882, ada 20.000 orang melakukan parade Hari Buruh pertama di New York yang membawa spanduk dengan tulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi.

Dari tulisan singkat ini, kita simpulkan bahwa sebuah perubahan terjadi melalui proses yang panjang. Kedua, perubahan itu terjadi ketika mimpi beberapa orang disatukan sebagai suara yang sama. Dan, ketika kesepakatan itu terjadi, suara itu tak lagi hanya menjadi gaggasan para buruh saja. Namun, para majikan pun turut sepakat bahwa kesejahteraan buruh pun penting dan menjadi tanggung jawab dari para majikan pula. Akhirnya, kesepakatan itu sudah menjadi mimpi bersama demi tata kehidupan bersama yang lebih baik.

Hari ini, Jumat Pekan Paskah III kita disuguhi Injil dari Yohanes 6:52-59. Dalam bacaan ini, Gusti Yesus mengatakan kepada banyak orang (juga kita pembaca) bahwa semua harus makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, untuk mendapatkan hidup yang kekal.
Bacaan ini masih melanjut dan terkait dengan perkara hari-hari kemarin, yaitu Roti Hidup yang dari Surga.

Menjadi renungan bagi kita manakala mengenangkan Hari Buruh yang sering disebut sebagai May Day ini. Perjuangan para buruh untuk mendapatkan kesejahteraan hidup, dirumuskan dengan formula: 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Formula ini membuat para buruh tidak lagi bekerja 20 jam sehari.
Pertanyaan spontan kita adalah, dimana waktu untuk berdoa? Agar, kita tidak lupa untuk mencari Roti Hidup yang dari Surga itu? Supaya kita tidak hanya sejahtera ragawi karena hanya makan roti dunia saja.

Saya kira, kita semua sepakat untuk tetap berdoa dalam 3 bagian waktu itu. Entah ketika bekerja, istirahat atau sedang rekreasi, kita sisipkan doa kita. Hal ini sesuai dengan nasehat saleh St Benedictus yang mewariskan jalan hidup mistik, yaitu Ora Et Labora (berdoa dan bekerja).

St Benedictus mengajarkan bahwa antara kerja (baca: seluruh aktifitas manusiawi kita, apapun itu) dan doa (baca: upaya membangun relasi dengan Pencipta, Tuhan kita) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Bahkan, bekerja dengan baik, jujur, dan benar adalah wujud dari sembah sujud (doa) kita kepada Bapa. Sebab, apalah gunanya doa yang tekun namun tidak mewujud dalam perilaku hidup sehari-hari? Dengan demikian, kita sedang belajar bahwa hubungan kita selalu berbentuk segi tiga yang terdiri dari aku - dia dan DIA. Maka, hubungan baik aku dengan Dia selalu terasa dalam hubungan ku dengan orang lain.

Dalam masa pandemi COVID-19 ini pun, kita selalu diajak untuk tidak lupa dengan DOA. Doa ini bukan soal duduk diam di depan Salib dan berdoa. Tetapi, dalam kesempatan apapun, manakala batin ini tergerak untuk berdoa; maka kita hening dalam batin dan mengucapkan doa. Dengan cara ini, kita sedang ada dalam upaya untuk terus menerus menjalin hubungan batin dengan Dia, sang pencipta kita semua.

Mari bersama-sama memohon berkat Allah, supaya hari ini kita bisa mengawali bulan Rosario dan sekaligus merayakan Hati Kudus Tuhan Yesus, di hari Jumat pertama ini. Semoga Tuhan memberkati segala upaya kita. Amin

Berkah dalem

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasai Indonesia) kekal berarti tetap (tidak berubah, tidak bergeser, dan sebagainya) selama-lamanya; abadi; lestari.

Sebagai manusia yang hidup, kita selalu mencari perubahan yang membawa kita menjadi manusia yang lebih baik. Untuk perkara yang remeh dan biasa, seperti contohnya adalah mandi dan berganti baju, kita lakukan pun demi perubahan untuk menjadi lebih baik. Paling tidak, perubahan itu adalah perubahan dari yang tampak, yang sifatnya luaran.

Belum lagi adalah upaya kita untuk membuat perubahan dalam diri kita, yaitu sikap dan perilaku kita. Pada dasarnya, kita semua ingin berubah menjadi lebih baik. Tidak ada dari kita yang ingin agar yang buruk itu kekal abadi dalam diri kita.

Banyak cara kita lakukan demi terjadinya perubahan itu. Mulai dengan Sekolah formal dari tingkat Dasar hingga Perguruan Tinggi, kita lakukan. Juga, ada yang melengkapinya dengan mengikuti rekoleksi, retret atau aneka seminar motivasi diri. Bahkan, ada banyak juga yang mengupayakan dengan tekun berdoa, mengikuti Ekaristi, devosi dan merenungkan Kitab Suci.

Namun, segala upaya itu tak jarang mengerucut pada pengalaman putus asa. Karena, menjadi lebih BAIK itu seolah menjadi mimpi yang tak pernah usai. Masih saja, kita mengalami duka karena kejatuhan pada perkara yang sama.

Berbeda dengan kisah pertobatan Saulus di Damaskus. Kisah pertobatan Paulus rasanya instant, cepat sekali. Menjad tanya kemudian, mengapa pertobatan saya lambat sekali? Bahkan, aneka upaya rasanya sia-sia.

Apakah menjadi anak yang baik di mata Tuhan adalah mimpi mustahil untuk diwujudkan; sehingga, masih saja banyak orang terluka karena saya? Ini adalah pertanyaan yang senantiasa menghantui.

Dalam olah rohani, kita bisa ditarik dalam jurang frustrasi sehingga kita kemudian memutuskan untuk tak lagi peduli (cuek/indifferent) dengan segala macam usaha membangun kesalehan hidup. Kita diyakinkan jika cacat dan dosa ini, memang kekal adanya.

Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil diambil dari Yohanes 6:44-51. Injil masih bicara tentang Roti Hidup. Gusti Yesus masih bicara kepada orang banyak, namun titik tekannya adalah bahwa siapapun yang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.

Sabda ini menjadi penghiburan untuk kita semua agar terus bertahan dan mencari roti hidup itu. Kita hanya bisa mengarahkan diri kepada-Nya dari hari ke hari. Ketekunan kita mungkin tidak menampakkan hasil yang berarti (signifikan) seperti pertobatan Saulus di Damaskus, atau kisah suci lainnya yang mentakjubkan.

Sebaliknya, kita mungkin adalah jenis yang sangat lambat perubahannya. Bahkan, sampai dengan usia kita yang tak lagi muda, kita masih bergulat dengan dosa yang sama. Namun, memang demikianlah hidup. Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan diri kepada-Nya dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari sampai bertahun-tahun. Dengan menggenggam satu harapan, yaitu bisa mencecap Roti Hidup yang dari Surga, yaitu Kristus itu sendiri.

Agar kita tidak putus asa dan merasa bahwa dosa kita adalah kekal, jangan biarkan pikiran kita ditenggelamkan pada memori masa lalu yang membuat kita merasa sia-sia. Sebaliknya, jangan pula kita biarkan pikiran kita menerawang yang indah tentang apa yang akan terjadi di masa depan, sehingga kita merasa putus asa. Sebab, yang sejati adalah HARI INI.

Maka, dalam situasi apapun seperti pandemi COVID-19 ini pun, yang bisa kita lakukan adalah hari ini. Mari kita gunakan hari ini untuk membuat keputusan-keputusan yang baik, agar batin kita senantiasa terarah kepada-Nya. Sehingga, kita mencecap Roti Hidup yang dari Surga dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, semoga kita semua menjadi anak-anak Tuhan yang menyenangkan hati-Nya karena kita tetap bertahan memegang harapan kendati kekawatiran dunia senantiasa mengintip dan mengancam kita. Berkat Tuhan menyertai.

Berkah dalem

 

Hari ini, Rabu Pekan Paskah III ( Yoh 6:35-40 ), dan juga Pewartaan St Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja. Dengan sengaja, judul renungan ini saya pilih kata Perempuan.

Dari etimologi-nya (asal kata), perempuan berasal dari kata empu yang berarti adalah orang yang mahir/berkuasa, kepala, hulu atau yang paling besar. Kata perempuan mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya ‘sapaan hormat pada perempuan’, sebagai pasangan dari kata tuan yang adalah sapaan hormat pada lelaki. Namun, lebih lazim di telinga kita istilah tuan & nyonya.

Dalam penggunaan sehari-hari, kata perempuan mengalami penurunan (degradasi) nilai makna. Sehingga, kata wanita lebih sering digunakan dari pada kata perempuan. Untungnya, dalam sejarah birokrasi di Indonesia, istilah kementrian untuk urusan wanita telah mengalami perubahan dari yang awalnya bernama Menteri Negara Peranan Wanita (1983) sekarang diganti dengan nama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2011 s.d sekarang). Semoga, hal ini pun mengubah cara pandang kita tentang kata perempuan, untuk lebih tinggi dibanding kata wanita.

Kata perempuan tiba-tiba menjadi menarik, karena hari ini kita mengenang St Katarina dari Siena (silahkan mencari versi lebih lengkap sejarah beliau, https://www.imankatolik.or.id/kalender/29Apr.html). St Katarina sejak kecil tidak dikenal karena kepandaiannya, namun lebih karena kesalehannya. Setelah dewasa, dia mengabdikan diri dalam ordo tertier (ordo ketiga) St Dominikus. Namun, hidupnya yang saleh menjadi pusat perhatian seluruh biara hingga membawanya ke jabatan pemimpin biara itu.

Bahkan, dia berperan besar dalam mengoreksi cara hidup imam-imam dan pimpinan Gereja waktu itu yang tidak menampilkan diri secara baik. Dia juga yang berhasil meyakinkan Paus untuk pergi dari Avignon (Perancis) dan pulang ke Roma (Italy) sebagai kota abadi dan pusat Gereja.

Jasa St Katarina besar sekali untuk perubahan Gereja menjadi lebih baik. Itu tidak lepas dari disiplin doa dan puasanya yang keras. Hingga St Katarina dikaruniai Stigmata (luka-luka Tuhan Yesus). Karena permohonannya sendiri, stigmata itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Namun, semua tampak secara jelas ketika beliau menutup mata dalam keabadian.

Tak terbilang perempuan yang menorehkan kesucian dan menjadi pupuk iman sehingga Gereja tetap bertahan hingga sekarang. Sehingga, peran perempuan dalam Gereja Katolik tidak pernah bisa diremehkan. Apalagi, tentu adalah sosok Bunda Maria yang mendapat tempat istimewa dalam Gereja Katolik. Sebab, begitu banyak peran beliau termasuk penampakan beliau (kehadiran usai beliau naik ke Surga) untuk menjaga iman Gereja Katolik.

Menjadi permenungan kita, mengapa semua itu bisa terjadi? Kiranya Injil hari ini menjadi terang untuk menjawab pertanyaan itu. ”Akulah Roti hidup!” Kalimat ini kemudian diikuti dalam bagian selanjutnya, dengan pernyataan Gusti Yesus bahwa semua yang telah diberikan Bapa kepada Gusti Yesus jangan ada yang hilang.

Lalu kita mengerti mengapa ada St Katarina dari Siena, yang perannya sangat besar di abad ke-14. Dia hadir sebagai alat-Nya, untuk menjaga kesucian Gereja dan penunjuk jalan yang benar pada masanya.

Dalam cara berbeda, kita melihat banyak perempuan yang masih terus berperan dalam Gereja kita. Tanpa terkecuali adalah peran dari ibu kita masing-masing. Sebab dari para ibu itulah, kita belajar tentang hidup dan iman sebelum kita kemudian mencari makna hidup dari perjalanan kita hingga usia tua. Air susu para ibu yang memberi kita kehidupan, dan terus mengalir dalam darah dan daging kita hingga hari ini.

Para ibu, yang bertaruh nyawa melahirkan kita. Dan, juga para ibu yang di awal usia kita, membesarkan dan mengajari kita. Kendati tak jarang kita melukai mereka, para ibu tetap setia menyiapkan makanan dan pakain untuk kita. Maka, saatnya kita pun belajar dari Perempuan terdekat kita tentang arti dari harapan, ketekunan dan kesetiaan.

Semoga, dalam masa pandemi ini pun, kita tetap penuh harapan dan tekun setia berusaha. Jangan sampai kita pupus di tengah jalan, karena harapan menguap dari dalam diri kita. Bunda Maria dan para Santa (juga Santo), yang menjadi nama baptis kita, pun akan menolong andai kita tekun memohon agar menjadi pembawa doa kita kepada Yesus Kristus, juru selamat kita.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem

Pernahkah melihat, atau mungkin malah mengalami sendiri, ketika hadir dalam resepsi dan semua makanan yang disajikan tampilannya menggugah selera? Strategi yang dilakukan adalah, semua makanan diambil sedikit-sedikit dengan maksud untuk mencicipi. Setelah sampai di ujung meja, ternyata piring penuh sekali dan akhirnya, makanan tidak habis disantap.

Tentang makanan, ternyata ada yang makan untuk menjaga kesehatan namun ada yang makan karena memang senang makan. Malahan, ada yang makan sekedar untuk mencari kesenangan. Artinya, ketika stress dia akan mencari makan untuk menghibur diri.

Hari ini, Selasa Pekan Paskah III, bacaan Injil diambil dari Yohanes 6:30-35. Yang menjadi bahasan dalam Injil hari ini pun soal makanan, yaitu roti dari surga. Kepada orang banyak itu, Gusti Yesus mengatakan bila bukan Musa yang memberi mereka roti dari surga, melainkan Bapa.

Roti yang dari surga adalah roti yang berasal dari Allah dan itu memberi hidup. Ketika mereka meminta roti yang bisa memberi hidup itu, Gusti Yesus menajwab, ”Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Serupa dengan orang banyak itu, kita pun merindu untuk mendapatkan roti yang bisa memberi hidup. Sebab, makanan yang kita makan sehari-hari memang mengenyangkan akan tetapi tidak menjamin bisa memberi kita hidup selamanya. Sedangkan roti yang ditawarkan oleh Gusti Yesus adalah roti yang menjamin kita tidak akan haus dan lapar lagi.

Maka, marilah kita datang dan percaya kepada-Nya. Jangan sia-siakan hidup kita dengan menghambur-hamburkan waktu dan kesempatan, melulu hanya untuk mencari makanan yang nanti akan membuat kita lapar dan haus lagi. Sebab, segala sesuatu yang materi dan duniawi ini sifatnya hanyalah sementara saja.

Dalam pandemi COVID-19 ini pun, kita harus yakin dan percaya bahwa akan segera usai pada waktunya. Janganlah was-was dan khawatir memenuhi batin kita terus menerus. Namun, dengan kreatif kita mencari cara agar kita tetap suka cita dan terus menyala api harapan dalam diri kita. Marilah bertolong-tolongan untuk menemukan roti surga, sehingga hidup kita tetap penuh warna dan suka cita.

Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem

 

Ber-imaginasi atau mengkhayal adalah aktifitas yang saya yakin, kita semua pernah melakukannya. Entah, kita lakukan sendirian di kamar sendiri, atau mungkin kita lakukan beramai-ramai. Entah dalam lamunan, atau dengan bercanda bersama teman-teman. 

Dalam imaginasi, ada yang membayang menjadi superhero, sosok pahlawan dengan kekuatan super yang menolong banyak orang dan disegani. Atau, membayang menjadi putri cantik yang satu saat dipinang oleh pangeran kekasih hati.
Setelah sekian waktu berjalan, khayalan masa kecil itu ternyata ada yang mewujud menjadi kenyataan ketika sudah dewasa.

Pada dasarnya, kita semua suka mengkhayal. Ini kita lakukan untuk mencari sedikit kelegaan karena kita ingin sejenak keluar dari kesumpekan yang sedang kita alami saat ini. Maka, mungkin banyak dari kita sudah membayangkan akan melakukan piknik atau sekedar kuliner makanan kesukaan kita setelah COVID-19 enyah dari kita. Rasanya, menyenangkan sekali membayangkan bisa bebas melakukan apa yang kita sukai dari pada sekedar di rumah karena corona.

Imaginasi adalah daya kreatif manusia, yang membuktikan bahwa kita mempunyai daya transenden. Transenden adalah kemampuan manusia untuk berpikir mengenai segala sesuatu yang melampaui apa yang bisa kita indera saat ini. Sehingga, orang yang memegang HP bisa tertawa sendiri hanya karena sedang chatting dengan temannya. Bagi yang melihat, tentu mengherankan ada orang tertawa sendirian. Namun, bagi yang sedang chatting, obrolan di dunia maya ini terasa sangat nyata. Bahkan, seolah lawan bicara itu hadir nyata di hadapannya. Itulah transendensi, melampaui yang kasat mata, sehingga teman yang entah ada dimana seolah hadir nyata di hadapannya.

Hari ini, Senin Paskah III dengan Injil dari Yohanes 6:22-29, Gusti Yesus pun sedang mengajak semua orang untuk ber-transenden-si. Usai Gusti Yesus mempergandakan roti, esoknya banyak orang terus mengikuti Gusti Yesus. Bahkan, ketika Gusti Yesus sudah pergi pun, mereka terus mencari. Dan, setelah berjumpa, Gusti Yesus bicara:”…Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu..”

Ini adalah nasehat sekaligus teguran. Sebab, Gusti Yesus tahu bahwa mereka mencari Dia hanya untuk mendapat makanan tanpa harus bekerja. Mendapat makanan tanpa perlu bekerja, rasanya itu adalah keadaan ideal yang membahagiakan. Namun, Gusti Yesus memaksa mereka agar tidak berhenti menjadi bahagia oleh hal-hal yang sebatas bisa diindera, yaitu yang materi dan duniawi saja.

Melainkan, mereka dipaksa untuk mencari bahagia yang abadi, melampaui segala bentuk yang materi. Oleh sebab itu, mereka semua diajak untuk bekerja demi makanan yang akan bertahan sampai hidup kekal. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mengerjakan pekerjaan yang membawa kepada hidup kekal itu?

Tiada lain, caranya adalah dengan melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah, yaitu dengan percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Percaya berarti kita melakukan apa yang diajarkan oleh Dia, seperti yang dikatakan dalam bagian lain Injil kita : Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu (Yoh 13:14).

Oleh sebab itu, mari terus kreatif menggunakan daya transenden (melamun, ber-imaginasi) untuk mencari cara meraih hidup kekal dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, dari pada kita terjebak dalam dunia materi yang sering justru membuat kita was-was dan khawatir.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem