Yohanes K. Sugiyarta
Saat diam, merenungkan diri… tiba-tiba, dada berdesir dan terasa perih. Karena, ada pengalaman tidak menyenangkan yang lewat, dan teringat. Pengalaman yang lama sudah ingin dipendam, pengalaman yang lama ingin dilupakan. Saking marah dan sedihnya, tanpa sadar air mata lari berhamburan dan tangan mengepal meninju tembok.
Paragraph di atas adalah sebuah kisah yang bila dibayangkan membantu kita untuk membangun kesadaran, bahwa kita mempunyai pengalaman yang tak selalu bisa kita terima. Ada yang menyukakan hati sehingga terus ingin kita simpan dalam hati. Sedang, ingin rasanya membuang jauh pengalaman yang sedih tak menyukakan hati. Pengalaman yang hanya memberi luka setiap kali mengenangnya.
Bacaan hari ini, kita renungkan kebijaksanaan menurut Yesaya bahwa Allah menggunakan setiap peristiwa sebagai cara Dia berkarya (Yesaya 42:1-7). Buluh yang terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya
Sabda ini sedang memberi isyarat kepada kita, bahwa Allah tetap dan terus berkarya di dalam aneka peristiwa. Termasuk peristiwa yang menurut kita hina dan membawa aib. Di sana, Allah tetap ada dan menggunakan pengalaman itu untuk menyatakan karya-Nya.
Iman ini ditegaskan dalam Injil (Yoh 12:1-11), saat Tuhan Yesus mengetahui bahwa Yudas Iskariot yang akan menyerahkan-Nya kepada kematian.”Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.”
Seolah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita semua untuk menerima dan merangkum setiap peristiwa sambil percaya bahwa Bapa berkarya dan mengatur semua menjadi baik. Oleh sebab itu, kendati Yesus Kristus tahu bahwa Yudas Iskariot-lah yang akan menyerahkan Dia kepada maut, Tuhan Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan melayani dia dalam perjamuan malam terakhir.
Usai Minggu Palma, Gusti Yesus mengajak kita untuk turut serta menapaki hari-hari kisah sengsara. Kisah yang sebenarnya juga ingin ditolak oleh sifat manusia Yesus, biarlah piala ini lalu dari pada-Ku, namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi
Dalam situasi virus corona seperti ini, sifat manusia kita pun spontan ingin menolak nya. Bila boleh, janganlah ada virus seperti itu. Apalagi kesulitan hidup semakin tampak nyata di depan kita, membuat kita semakin sulit untuk pasrah dan percaya. Hati kita dipenuhi rasa kawatir akan hari esok.
Bacaan hari ini, mengajak kita untuk berserah dan pasrah. Agar, kita pun bisa menerima peristiwa dan merangkumnya sebagai kenyataan yang harus terjadi. Sebab, kita berusaha yakin dan percaya bahwa semua akan baik pada waktu-Nya. Bapa tetap berkarya dalam setiap peristiwa, termasuk peristiwa yang tidak menyenangkan itu.
Oleh sebab itu, mari kita pun dengan tekun terus berdoa dan bergandengan tangan. Dengan tetap waspada, kita membangun belarasa agar bisa melewati pengalaman ini bersama-sama. Sehingga yang kawatir dan merasa kesulitan dalam situasi ini, tidak merasa sendirian.
Kita percaya, Allah ada bersama kita. Dan, kita yakin bahwa semua ini akan baik pada wakt-Nya. Oleh sebab itu, semoga kita semua tetap ber-suka cita melalui semua ini bersama-sama. Amin
Berkah dalem
Hal berkumpul dan mengutarakan pendapat dilindungi oleh undang-undang di Negeri ini. Tak heran bila semangat musyarawah untuk mufakat, sudah kita pelajari sejak dari bangku Sekolah Dasar. Dari sebab itu, kita bisa berkumpul dengan siapa saja untuk membahas satu atau lebih perkara.
Semangat dari musyawarah untuk mufakat adalah menemukan kebijaksanaan dalam kebersamaan. Di sana, semua yang hadir mengemukakan yang baik menurut dia, sampai ada kata mufakat demi kebaikan semua.
Dengan demikian, tak ada yang menonjol dan memaksakan gagasannya sendiri sebagai yang terbaik. Namun, kebaikan itu dicari dalam kebersamaan. Serupa dengan beras yang ditaruh di ayakan (alat penampi), maka akan tersaringlah beras yang bagus dan ber-nas.
Hari ini, kita merenungkan Israel yang menjadi satu bangsa karena Tuhan Allah, sehingga Israel terbebaskan dari kenajisan (Bacaan I Yeh 37:21-28). Dengan cara itu, mereka mempunyai gembala yang akan menuntun langkah mereka menemukan kebenaran.
Dalam bacaan Injil (Yoh 11:45-56) kebersamaan itu masih tampak dalam diri orang Farisi, Ahli Taurat dan Mahkamah Agama. Mereka masih berkumpul untuk ber-mufakat. Namun hari ini, mereka telah bermufakat jahat sebab mereka telah sepakat untuk membunuh Yesus!
Menjadi permenungan tersediri untuk kita semua, bahwa kita berkumpul dan bermufakat tak selalu untuk menemukan kebenaran yang bijaksana. Ada pertemuan yang terselenggara, karena didorong karena rasa tidak suka yang sama. Ada pula pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang karena mempunyai niat sama, yaitu ingin menghakimi orang lain.
Manakala pertemuan itu terjadi, kita ingat pengalaman Yesus Kristus. Dia dijatuhi hukuman, karena sebelumnya sudah ada permufakatan jahat di antara beberapa orang. Dan, beberapa orang itu adalah para pemuka masyarakat dan Agama. Dengan cara itu, permufakatan yang semula hanya terdiri dari beberapa orang itu pada akhirnya bisa mempengaruhi banyak orang untuk ikut dan berteriak,”Salibkan Diaaaa…”
Dalam jaman ini, bahaya untuk terlibat dalam permufakatan jahat ini tetap dan terus mengintip kita. Kebersamaan dan kedekatan kita dengan banyak orang, satu saat bisa mengajak kita masuk ke dalam permufakatan jahat itu.
Dari sebab itu, waspada dan hati-hati adalah sikap utama yang kita perlukan. Apalagi, bila kita sedang ada dalam situasi tak menentu, seperti hari ini karena virus corona. Kita perlu terus menerus hening dan bijaksana, jangan sampai ada pihak mengambil keuntungan sendiri dan yang lain dirugikan karena sebuah keputusan.
Dalam situasi tak menentu karena corona ini, mari kita saling ber-hikmat mencari petunjuk Tuhan. Agar kita bisa saling membantu dan meringankan. Sehingga, kita bersama-sama bisa melewati masa ini dengan tetap suka cita. Amin
Berkah dalem
Dalam keimanan Katolik, Imanuel adalah nama gelar yang disematkan untuk Tuhan Yesus. Imanuel berarti Allah beserta kita.
Iman ini mengajak kita untuk membangun keyakinan bahwa Allah baik, Allah ada, dan Allah menyertai kita semua.
Bacaan I hari ini (Yer 20:10-13), berkisah bagaimana Yeremia dibuat gentar dan takut. Setiap sudut seolah ada mata mengintai yang menunggu dia tersandung. Semua ingin mengadukannya.
Yesus dalam Injil hari ini (Yoh 10:31-42), pun dikisahkan serupa. Dia dikejar untuk dicari kesalahan-Nya lalu diadili.
Mungkin, kita juga mempunyai pengalaman yang mirip. Ketika, banyak mata mengintip, sekian telinga tertuju dan ada orang-orang yang mencari-cari kesalahan. Maka, membangun keyakinan bahwa Allah beserta kita - Imanuel, bukan perkara yang mudah.
Tak jarang pertanyaan mengapa ini terjadi, sering lebih menghantui dan menggelisahkan untuk mendapat jawaban segera. Dan akhirnya, sungguh kegelisahan itu yang memenuhi kalbu.
Dari sebab itu, keyakinan bahwa Allah menyertai kalah dengan gelisah dalam hati.
Serupa namun tak sama, ketika Corona merebak dimana-mana; pertanyaan mengapa terjadi dan bagaimana terjadi; lebih menarik dan menuntut jawaban segera. Keterangan dari banyak ahli (dan yang ditulis sebagai ahli) yang membanjiri kita, pun tak selalu membuat kita tenang. Bahkan, sering terjadi keterangan yang muncul justru membuat kita semakin gelisah.
Akhirnya kegelisahan-kegelisahan yang menumpuk, membuat kita semakin sulit untuk yakin dan percaya bahwa Allah sungguh menyertai kita.
Bukankah sejatinya kita semua dipanggil untuk hidup dengan suka cita karena Allah beserta kita (Imanuel)? Akan tetapi, kekawatiran dan cemas dunia membuat iman kita lelah dan lemah.
Allah tak lagi menjadi pusat hidup kita. Tuhan tak lagi menjadi andalan, ketika kita gampang digelisahka oleh aneka berita dan informasi.
Mari kembali kepada doa. Mari terus membangun keyakinan kita. Karena, semakin bertambah orang yang yakin bahwa semua ini akan berakhir baik, maka terjadilah seturut iman kita bahwa semua akan kembali baik. Amin
Berkah dalem
Pernah satu kali, ketika menyaksikan pelantikan dokter, bapak Pendeta yang duduk di sebelah saya membisik berkata;”Lihat Romo. Mereka yang jadi dokter, bapak, ibu atau bapak-ibunya juga dokter. Tapi, anak-anak saya tak satupun yang ingin menjadi Pendeta.” Saya jawab dengan singkat,”Sama Pak…”
“Ahh… Romo..” Kata bapak Pendeta itu sambil pelan memukul bahu saya.
Ketika ada seorang anak melakukan sesuatu yang mengagumkan, terdorong hati ini untuk bertanya: siapa orang tuanya? Siapa kakek-neneknya? Bila kita menemu garis lurus yang menurut kita bisa menjelaskan sehingga anak itu bisa melakukan sesuatu yang mengagumkan, kita lalu tenang dan maklum untuk berkata: wajarlah kalau begitu. Begitu pula sebaliknya, kita akan menjadi heran ketika melihat anak itu biasa saja sedangkan dia lahir dari sebuah keluarga yang hebat.
Bacaan hari ini (Kej 17: 3-9, Yohanes 8: 51-59) berkisah yang kurang lebih sama. Bangsa Israel sangat bangga dengan bapa leluhurnya, Abraham. Yang menerima janji dari Allah Yahwe, untuk menjadi Bapa sejumlah besar bangsa. Oleh sebab itu, mereka sangat sakit hati ketika Yesus berkata; Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu, ia telah melihatnya dan ia bersukacita.
Kita bisa membayangkan kemarahan itu. Bapa Abraham telah dicoreng dan direndahkan oleh Yesus yang menurut mereka umurnya pun belum genap 50 tahun. Akan tetapi, Abraham yang telah diakui sebagai Bapa segala Bangsa, ternyata lebih kecil dari pada Yesus. Lebih sakit lagi hati Israel, sebab mereka tahu bahwa Yesus hanyalah anak tukang kayu.
Dalam konteks hidup jaman ini, sering terdengar bahwa Gereja lambat dalam bersikap terkait sesuatu. Sikapnya tidak sigap seperti yang diharapkan oleh kebanyakan dari kita semua. Di sini, saya mengerti bahwa tidak mudah menangkap maksud Tuhan melalui peristiwa. Serupa bangsa Israel yang tergagap untuk bisa mengerti maksud dari sabda dan karya Tuhan Yesus, waktu itu. Banyak dari orang Israel yang menolak Yesus.
Bagi sebagian Israel yang menerima dengan mengikuti Yesus kemana-mana, pun mereka salah mengerti kehendak-Nya. Sehingga, ketika Yesus Kristus harus sengsara memanggul salib tak ada satu pun murid yang menemani. Hanya sang ibu, Ibu Maria yang turut sampai kaki salib.
Berada dalam situasi ketika virus Corona menjadi pandemi di seluruh dunia, membuat kita juga bertanya: apa ini? Dari mana virus ini, dari Tuhan kah? Salah dan dosa siapakah, sehingga kita mengalami ini? Tuhaaan apa mau-Mu, belum cukupkah derita ini ?
Seliweran di telinga dan hati kita, telaah maupun tafsir dari banyak orang yang mencoba memberitahu kita apa di balik semua ini. Namun demikian, tetap tenang dan terus mengkaji dalam hening adalah langkah bijak saat ini. Kita percaya bahwa bila tiba saatnya, kita semua akan mengerti semua ini.
Lebih baik, kita menaruh perhatian bila ada saudari-saudara yang membutuhkan pertolongan yang ada di sekitar kita. Agar mereka tetap bersuka cita karena di dalam situasi yang tidak mudah ini, mereka tidak merasa sendirian. Apalagi para tenaga medis yang sampai saat ini terus bekerja melayani. Tak lupa juga para Pemimpin kita (Pemerintah & Agama), yang juga terus berupaya agar Bangsa kita bebas dari Pandemi.
Ini pesan yang paling jelas tampak dan perlu dukungan kita bersama. Mari kita semakin eratkan gandeng tangan dalam doa dan upaya. Semoga sungguh, suka cita itu bisa kita rasakan bersama-sama dengan semakin banyak orang.
Tuhan berkati
Berkah dalem
Suatu malam gelap, ada serombongan pemuda terpaksa melewati rerimbunan pohon bambu. Tak ada pilihan lain, harus lewat di situ supaya bisa segera sampai tujuan. Semua ketakutan, kecuali ada satu pemuda yang tetap teguh matanya. Tangannya mengusap dan meremas dada. Yang lain kemudian bertanya, mengapa dia lakukan itu? Ini adalah cara doa kepada Yang Mahakuasa, yang diajarkan simbahku, jawab si pemuda tadi.
Kisah itu menjadi pengingat bagi saya, bahwa kita semua sudah dikenalkan dengan Tuhan sejak kita masih kecil. Dengan cara yang berbeda, terpatri di batin ini sosok pencipta yang Agung, yang layak dimuliakan di tempat yang tinggi. Bayangan itu begitu indah dan mempesona, sehingga setiap Minggu saya turut dengan banyak saudara dari mana-mana, merayakannya di Gereja. Di sana, kisah tentang Tuhan itu dikumandangkan lagi oleh Romo.
Bacaan hari ini (Dan 3:14-28 & Yoh 8:31-42) pun berkisah tentang pergulatan memegang iman dan kebenaran.
Bacaan pertama, berkisah bagaimana Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengenangkan Tuhan yang diwariskan oleh leluhurnya ketika menghadapi api dari Raja Nebukadnezar. Mereka dibakar supaya mengkhianati Tuhannya, namun malahan mereka berjalan jalan di tengah api yang menyala.
Dalam Injil, Gusti Yesus juga menegaskan bahwa siapapun yang memegang sabda-Nya akan mengalami suka cita dan kemerdekaan. Merdeka dalam hal ini adalah bebas dari keinginan dan rasa manusia yang membuat kita tidak bebas untuk mengasihi. Orang-orang Israel yang mengaku cinta kepada Allah dan keturunan Abraham, terusik dengan kehadiran Yesus. Semua tindakan kasih Yesus pun tak sanggup meyakinkan mereka. Bahkan, tumbuh niat dalam hati mereka untuk membunuh Yesus.
Dari sejak kecil, samar-samar Allah sudah kita tahu dan kenali. Makin hari, Allah itu makin tampak dan makin jelas. Gambaran Dia yang dulu jauh, terasa semakin dekat dan nyata. Itu semua terjadi dan dialami, oleh semua yang terus bertekun dalam doa dan pasrah kepada Nya.
Dan, sebaliknya, Allah terasa semakin jauh dan tak jelas, bagi mereka yang terus memikirkan dan mendiskusikan Allah, namun tanpa berdoa.
Dalam situasi dengan Corona di seputaran kita, ada yang semakin teguh imannya namun ada pula yang semakin ragu: Tuhan ada dimana? Ada yang semakin hati-hati dan waspada dalam hidup, namun ada pula yang semakin tak peduli dengan hidupnya.
Isolasi mandiri dan corona, menjadi saat yang sungguh istimewa untuk masing-masing kita bertanya: Allah yang seperti apa yang aku Imani? Apakah Allah itu jelas dan terus aku pegang sebagai andalan, atau sesekali saja, ketika butuh aku pergi kepada-Nya? Dan, lebih lagi, apakah Allah yang kita Imani itu, pun kita wariskan kepada anak kita dengan baik? Semoga kita merasakan semakin bisa bersyukur dengan apa yang ada, berterima kasih dengan apa yang kita miliki. Dan, kita semua semakin yakin bahwa Allah sungguh beserta kita. Amin
Tuhan memberkati
Berkah Dalem
