"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Injil Yohanes 5:1-16;

Saya kutipkan sebagian:

Yoh 5:2
Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya
Yoh 5:3
dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.
Yoh 5:4
Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.
Yoh 5:5
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
Yoh 5:6
Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
Yoh 5:7
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
Yoh 5:8
Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
Yoh 5:9
Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

Maukah engkau sembuh?
Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang

Saudaraku,
membaca Injil pagi ini tiba-tiba saya tertarik dengan pertanyaan Tuhan Yesus kepada orang yang lumpuh: Maukah engkau sembuh?
Alasan saya: tidak semua orang MAU berubah, walaupun sangat sadar INGIN berubah.
Pendapat saya begini:
Orang lumpuh itu memang tergantung kepada orang lain.
Ia tidak akan minum dan makan jika tidak ada yang memberinya.
Ia tidak perlu bekerja untuk itu, menunggu orang yang memberikan sedekah.
Jika tidak ada yang memberipun ia sudah terbiasa lapar.
Dan itu sudah dijalaninya bertahun-tahun.
Maka walaupun lumpuh dan menjadi gelandangan/pengemis ia tetap merasa nyaman.
Ada yang sebenarnya menyadari terikat oleh sesuatu, walaupun sadar ia bisa lebih baik tetapi ia tidak ingin lebih baik.
Misalnya: terbiasa dengan hiburan malam dan menyadari hal itu tidak ada manfaatnya, tetapi sulit melepaskannya dan justru dijadikan gaya hidup.

Lalu berikutnya, jawaban si orang lumpuh itu seakan-akan menyalahkan orang lain: Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu.
Mungkin tidak hanya satu atau dua kali saya mendengar orang yang ditanya: kamu masih gini-gini aja?
Jawabnya ya si anu bantunya gak niat, mesti begini dan begitu, si ani cuma ngomong tok, dan lain sebagainya.
Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.
Jika orang lumpuh itu tidak mau bangun dan berjalan, ia tidak akan sembuh.

Saudaraku,
mari kita melihat lagi diri kita sendiri.
Mungkin ada yang merasa nyaman dalam kelumpuhan.
Lumpuh dalam sungut-sungut dan keluh kesah, lalu tidak bisa mengucap syukur.
Selalu mengharapkan perhatian dan uluran tangan orang lain dan terasa berat mengulurkan tangan untuk orang lain.
Kita telah dipilih Allah untuk berbuah, supaya semakin banyak orang mendapatkan kasih, damai dan sukacita.
Bangkitlah angkatlah tilammu dan berjalanlah!

Terpujilah Allah sekarang dan selama-lamanya.. Amin.
Bersyukurlah kepada Tuhan karena baiklah Dia.


Doa Hari Selasa 2 April 2019

Allah Bapa kami
Selama-lamanya Engkau baik, penuh kasih, adil dan bijaksana
Ampunilah kami jika kami malas
Ampunilah kami jika kami tidak mampu mengucap syukur
Seringkali kami mengeluh karena makanan tidak enak, sedangkan masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan

Bagi-Mu ya Bapa seluruh ucapan syukur kami
Dan dengan rendah hati kami mohon kepada-Mu
Rahmat kekuatan dan kasih-Mu lah yang membuat kami hidup
Yang membuat kami berjalan
Sehingga kasih dan kebaikan-Mu semakin memancar dalam hidup kami
Dan semakin dirasakan oleh semua orang

Dengan pengantaraan Kristus dan bersama Dia dalam persekutuan dengan Roh Kudus
Kami memuliakan Dikau Allah Bapa yang Mahakuasa
Segala hormat dan kemuliaan kini dan sepanjang segala masa
Amin

Injil Yohanes 4:43-54;

Saya kutipkan sebagian:

Yoh 4:45
Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu.
Yoh 4:46
Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.
Yoh 4:47
Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.
Yoh 4:48
Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya."
Yoh 4:49
Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati."
Yoh 4:50
Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
Yoh 4:51
Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup
--------

Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup

Saudaraku,
pegawai istana pada zaman Tuhan Yesus termasuk golongan orang yang terhormat, dan sangat jelas ditulis dalam Injil pagi ini, ia mempunyai banyak pembantu atau hamba.
Ia tidak menyuruh hambanya untuk meminta Tuhan Yesus menyembuhkan anaknya yang sedang sakit, ia datang sendiri meminta kepada Tuhan Yesus.
Bukan rahasia lagi bahwa banyak orang kaya di sekitar kita yang dalam kehidupan sehari-hari selalu meminta tolong kepada pembantunya untuk hal-hal yang ringan yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.
Yang menjadi keprihatinan saya saat melihat sendiri seorang kristen memerintah pembantunya untuk mengambilkan sepatu.
Bahkan dengan berteriak menyuruh mengambilkan sepatu untuk anaknya.
Mengapa saya prihatin?
Kejadian itu disaksikan oleh anak-anaknya, bukankah Tuhan Yesus mengajarkan untuk melayani?
Ya sah-sah saja memerintah pembantu tetapi..
Bagaimana bisa memberi teladan untuk anak-anaknya jika hal-hal kecil untuk dirinya sendiri dalam keseharian saja minta dilayani?
Mungkinkan hati dan tangannya akan tergerak untuk melayani orang lain?

Saudaraku
ada banyak orang di Galelia yang menyambut kedatangan Tuhan Yesus, karena Ia pernah membuat air menjadi anggur.
Tetapi yang tercatat dalam Injil, yang datang kepada Tuhan Yesus hanya seorang pegawai istana, dia seorang Romawi bukan Yahudi.
Banyak orang mengenal Tuhan Yesus, bahkan berdoa dalam nama-Nya, namun hidupnya sama  sekali tidak membawa tanda Allah.
Jika kita ingin anak-anak kita atau saudara-saudara kita, hidup benar dalam kasih Tuhan, berilah mereka teladan kerendahan hati dan belas kasih.
Tuhan Yesus melihat kerendahan hati pegawai istana itu, maka Ia berkata kepadanya: Pergilah, anakmu hidup!
Ingin anak-anak kita hidup?
Berikanlah mereka teladan.

Terpujilah Allah sekarang dan selama-lamanya.. Amin.
Bersyukurlah kepada Tuhan karena baiklah Dia.


Doa Hari Senin 1 April 2019

Allah Bapa kami
Kepercayaan dan kesetiaan kami belum seberapa
Apabila dibandingkan dengan kasih-Mu kepada kami
Tetapi kami percaya Engkau melihat kesungguhan kami
Kami menantikan rahmat-Mu setiap pagi

Kami perlu Engkau ya Bapa
Kami membutuhkan rahmat kekuatan-Mu
Untuk menjaga hati dan pikiran kami
Agar selalu mengarah kepada-Mu

Sehingga hidup kami
Menjadi teladan yang baik
Rendah hati dan penuh belas kasih

Terpujilah Engkau ya Bapa
Kini dan sepanjang segala masa
Amin

Injil Lukas 15:1-3, 11-32;

Saya kutipkan sebagian:

Luk 15:1
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
Luk 15:2
Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
--------

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia

Saudaraku,
beruntunglah kita memiliki Allah yang penuh belas kasih.
Ia memberitahukan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup, saat kita sendiri kehilangan kasih oleh karena ketidaktaatan kita.
Kembali saya mengingatkan, apakah manusia bisa hidup sendiri?
Mungkin ada yang menjawab bisa, contohnya para pertapa yang hidup menyendiri.
Tetapi apakah pertapa itu bisa hidup tanpa alam???

Saudaraku,
Tuhan Yesus membuka pintu pertobatan, buat kebaikan kita supaya kita hidup.
ALAM menyediakan hidupnya untuk semua makhluk yang hidup didalamnya.
Katanya manusia makhluk yang paling tinggi derajatnya.
Maka jika demikian, manusia memiliki tanggung jawab yang paling besar dalam menjaga kehidupan yang baik.

Saudaraku,
jika manusia tumbuh seperti pohon, artinya tidak dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu keserakahan, kehidupan di bumi ini pasti sangat indah.
Manusia diciptakan oleh Allah untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Bahkan Allah menyertai masing-masing pribadi dengan setia.
Mari saya ajak memeriksa kembali perjalanan hidup kita, perhatikanlah bahwa di setiap waktu dan dalam segala hal, Allah selalu berbicara kepada kita dengan berbagai cara.
Perhatikanlah perbuatan buruk yang pernah kita lakukan, mungkinkah tanpa alasan? Mungkinkah tanpa sebab?
Sebabnya adalah kurangnya keberanian kita untuk melepaskan diri dari jerat yang dipasang oleh hawa nafsu.
Memandang lagi masa lalu itu sangat diperlukan, untuk mendapatkan pelajaran yang bermanfaat.
Sekaligus untuk mengucap syukur kepada Allah sebab kita memiliki Allah yang penuh belas kasih.
Allah yang tidak menghukum, tidak melempar batu, tidak menghukum cambuk, dan lain-lain.
Dan dengan penuh belas kasih Ia selalu menantikan pertobatan.

Terpujilah Allah sekarang dan selama-lamanya.. Amin.
Bersyukurlah kepada Tuhan karena baiklah Dia.


Doa Hari Minggu 31 Maret 2019

Bapa
Hanya Engkaulah pengharapan kami
Hanya Engkaulah yang berkuasa atas hidup kami
Telinga kami telah Engkau buat mendengar
Tetapi terkadang dengan tangan kami menutupinya

Allah Bapa kami
Kami mohon berilah kami kekuatan dan keberanian untuk menyelidiki hati kami
Dan ajarilah kami untuk rendah hati mengakui kesalahan dan dosa kami
Dan kami mohon belas kasih-Mu tinggal dalam hidup kami

Dengan pengantaraan Kristus dan bersama Dia dalam persekutuan dengan Roh Kudus
Kami memuliakan Dikau Allah Bapa yang Mahakuasa
Segala hormat dan kemuliaan kini dan sepanjang segala masa
Amin

Injil Lukas 18:9-14;

Luk 18:9
Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
Luk 18:10
"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
Luk 18:11
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
Luk 18:12
aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Luk 18:13
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Luk 18:14
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
---------

karena aku tidak sama seperti semua orang lain, aku berpuasa dua kali seminggu

Saudaraku,
sudah menjadi tontonan sehari-hari ada banyak orang yang bertopeng agama untuk berbagai macam kepentingan.
Politisi untuk meraih suara dan ada yang usaha/bsinis berlabel agama, ada juga topeng agama untuk menutupi kedegilannya.
Atau ada yang menjadi sangat religius saat mengalami kesulitan, bahkan ada yang disertai dengan sumpah.
Dan paling banyak adalah hidup munafik dan berlagak suci.
Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi perbuatan mereka durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.(Bdk Titus 1:16)
Belum lagi yang menjual ayat-ayat Kitab Suci, mencari keuntungan dari Firman Allah.

Saudaraku,
lalu pertanyaannya: seberapa jujurkah iman kita?
Apakah kita sungguh-sungguh mengenal diri kita sendiri?
Mari kita masing-masing menjawab dan untuk mencari jawabannya tidak perlu membandingkan dengan siapapun, tetapi nilailah diri kita dengan menggunakan firman Tuhan.
Maka pasti kita akan melihat kelemahan-kelemahan kita, akuilah itu dan jangan cari-cari alasan untuk membela diri, apalagi menyalahkan orang lain.

Saudaraku,
pohon dikenal dari buahnya, dan Tuhan Yesus telah mengajarkan bagaimana caranya supaya iman kita berbuah dan bukan untuk pamer, tetapi supaya setiap orang mengalami kasih Allah.
Semoga kita semua dikenal sebagai anak-anak Allah, bukan karena nama baptis, bukan karena pakai kalung salib, bukan karena label agama, bukan karena cara berdoa atau ibadat atau bukan karena berteriak-teriak.
Namun kita dikenal oleh karena kehadiran kita selalu membawa damai dan sukacita, rendah hati dan penuh belas kasih.

Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?(Luk 6:46)
Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.(Bdk Yes 58:3)

Terpujilah Allah sekarang dan selama-lamanya.. Amin.
Bersyukurlah kepada Tuhan karena baiklah Dia.


Doa Hari Sabtu 30 Maret 2019

Allah Bapa Kami
Dengan berbagai cara Engkau berbicara kepada kami
Dengan berbagai cara Engkau mengingatkan kami
Saat hati kami menjauh dari-Mu

Bapa
Kami mendengar suara-Mu
Kami melihat teladan-Mu
Namun kecemasan dan kekuatiran lah yang menghalangi kami untuk melakukan perintah-Mu
Kami mohon ampunilah kami ya Bapa
Dan kami tetap memohon didikan-Mu
Bukan untuk berbicara secara ajaib
Tetapi supaya hidup kami berbuah

Dengan pengantaraan Kristus dan bersama Dia dalam persekutuan dengan Roh Kudus
Kami memuliakan Dikau Allah Bapa yang Mahakuasa
Segala hormat dan kemuliaan kini dan sepanjang segala masa
Amin

Injil Markus 12:28-34;

Saya kutipkan sebagian:

Mrk 12:28
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"
Mrk 12:29
Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Mrk 12:30
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Mrk 12:31
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
---------

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri

Saudaraku,
pagi ini tiba-tiba terlintas dipikiran saya:
Bukankah ada orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri?
Ada banyak cerita dan berita tentang orang yang menyesali keadaannya, menganggap hidup tidak lagi berarti lalu hidup semau-maunya.
Tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, bahkan ada yang lalu mengakhiri hidupnya.
Ada pula orang yang tidak bisa mensyukuri dirinya sendiri, sehingga menyiksa dan menghibur dirinya sendiri dengan angan-angan.

Saudaraku,
akan ada banyak ucapan syukur apabila kita mampu melihat diri kita sendiri apa adanya.
Kesampingkan pilihan, kesampingkan kehendak, maka kita akan melihat diri kita telanjang.
Lalu ingatlah kedua orang tua kita, bagaimana mereka memberikan hatinya kepada kita.
Maka dengan demikian hilanglah angan-angan yang sia-sia dan perasaan-perasaan yang salah.
Karena itulah yang sebenarnya menjadi beban berlebihan, lalu tidak pernah bisa melihat hal yang baik.

Saudaraku,
memang secara kodrati, manusia mengikuti kemauannya sendiri, berharap atas balas jasa dan bernafsu untuk memperoleh keuntungan.
Maka walaupun kata kasih itu terdengar setiap hari, melihat perbuatan kasih setiap hari.
Tidak semua orang bisa melakukannya tanpa Roh Allah yang hidup dalam dirinya.
Tanpa Allah, mengasihi itu lalu hanya seperti *timbangan*, yang diterapkan dalam aturan agama.
Misalnya dengan mempersembahkan hewan, membayar sedekah, dan lainnya.

Saudaraku,
mengkritik atau bahkan mecela itu pekerjaan yang tidak sulit, semua orangpun bisa.
Tetapi membangun membutuhkan kerja keras dan keahlian.
Dan kasih itu harus dibangun setiap hari, maka mari mengusahakannya dan menambah keahlian kita tentang kasih.

Terpujilah Allah sekarang dan selama-lamanya.. Amin.
Bersyukurlah kepada Tuhan karena baiklah Dia.


Doa Hari Jumat 29 Maret 2019

Kasih-Mu yang besar itu selalu menyertaiku ya Bapa
Puji dan syukur kami haturkan kepada-Mu
Namun kami juga memohon pengampunan-Mu
Sebab masih ada banyak kekurangan-kekurangan kami
Ataupun kemalasan-kemalasan kami

Kami mohon ya Bapa
Kekuatan Roh-Mu menguasai keinginan kami
Sehingga kami semakin peduli
Dan rasa belas kasih kami kepada sesama semakin besar

Terpujilah Engkau ya Bapa
Kini dan sepanjang segala masa
Amin