"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Saat diam, merenungkan diri… tiba-tiba, dada berdesir dan terasa perih. Karena, ada pengalaman tidak menyenangkan yang lewat, dan teringat. Pengalaman yang lama sudah ingin dipendam, pengalaman yang lama ingin dilupakan. Saking marah dan sedihnya, tanpa sadar air mata lari berhamburan dan tangan mengepal meninju tembok.

Paragraph di atas adalah sebuah kisah yang bila dibayangkan membantu kita untuk membangun kesadaran, bahwa kita mempunyai pengalaman yang tak selalu bisa kita terima. Ada yang menyukakan hati sehingga terus ingin kita simpan dalam hati. Sedang, ingin rasanya membuang jauh pengalaman yang sedih tak menyukakan hati. Pengalaman yang hanya memberi luka setiap kali mengenangnya.

Bacaan hari ini, kita renungkan kebijaksanaan menurut Yesaya bahwa Allah menggunakan setiap peristiwa sebagai cara Dia berkarya (Yesaya 42:1-7). Buluh yang terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya

Sabda ini sedang memberi isyarat kepada kita, bahwa Allah tetap dan terus berkarya di dalam aneka peristiwa. Termasuk peristiwa yang menurut kita hina dan membawa aib. Di sana, Allah tetap ada dan menggunakan pengalaman itu untuk menyatakan karya-Nya.

Iman ini ditegaskan dalam Injil (Yoh 12:1-11), saat Tuhan Yesus mengetahui bahwa Yudas Iskariot yang akan menyerahkan-Nya kepada kematian.”Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.

Seolah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita semua untuk menerima dan merangkum setiap peristiwa sambil percaya bahwa Bapa berkarya dan mengatur semua menjadi baik. Oleh sebab itu, kendati Yesus Kristus tahu bahwa Yudas Iskariot-lah yang akan menyerahkan Dia kepada maut, Tuhan Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan melayani dia dalam perjamuan malam terakhir.

Usai Minggu Palma, Gusti Yesus mengajak kita untuk turut serta menapaki hari-hari kisah sengsara. Kisah yang sebenarnya juga ingin ditolak oleh sifat manusia Yesus, biarlah piala ini lalu dari pada-Ku, namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi

Dalam situasi virus corona seperti ini, sifat manusia kita pun spontan ingin menolak nya. Bila boleh, janganlah ada virus seperti itu. Apalagi kesulitan hidup semakin tampak nyata di depan kita, membuat kita semakin sulit untuk pasrah dan percaya. Hati kita dipenuhi rasa kawatir akan hari esok.

Bacaan hari ini, mengajak kita untuk berserah dan pasrah. Agar, kita pun bisa menerima peristiwa dan merangkumnya sebagai kenyataan yang harus terjadi. Sebab, kita berusaha yakin dan percaya bahwa semua akan baik pada waktu-Nya. Bapa tetap berkarya dalam setiap peristiwa, termasuk peristiwa yang tidak menyenangkan itu.

Oleh sebab itu, mari kita pun dengan tekun terus berdoa dan bergandengan tangan. Dengan tetap waspada, kita membangun belarasa agar bisa melewati pengalaman ini bersama-sama. Sehingga yang kawatir dan merasa kesulitan dalam situasi ini, tidak merasa sendirian.

Kita percaya, Allah ada bersama kita. Dan, kita yakin bahwa semua ini akan baik pada wakt-Nya. Oleh sebab itu, semoga kita semua tetap ber-suka cita melalui semua ini bersama-sama. Amin

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Permufakatan Jahat REKOLEKSI »