"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Hal berkumpul dan mengutarakan pendapat dilindungi oleh undang-undang di Negeri ini. Tak heran bila semangat musyarawah untuk mufakat, sudah kita pelajari sejak dari bangku Sekolah Dasar. Dari sebab itu, kita bisa berkumpul dengan siapa saja untuk membahas satu atau lebih perkara.

Semangat dari musyawarah untuk mufakat adalah menemukan kebijaksanaan dalam kebersamaan. Di sana, semua yang hadir mengemukakan yang baik menurut dia, sampai ada kata mufakat demi kebaikan semua.

Dengan demikian, tak ada yang menonjol dan memaksakan gagasannya sendiri sebagai yang terbaik. Namun, kebaikan itu dicari dalam kebersamaan. Serupa dengan beras yang ditaruh di ayakan (alat penampi), maka akan tersaringlah beras yang bagus dan ber-nas.

Hari ini, kita merenungkan Israel yang menjadi satu bangsa karena Tuhan Allah, sehingga Israel terbebaskan dari kenajisan (Bacaan I Yeh 37:21-28). Dengan cara itu, mereka mempunyai gembala yang akan menuntun langkah mereka menemukan kebenaran.

Dalam bacaan Injil (Yoh 11:45-56) kebersamaan itu masih tampak dalam diri orang Farisi, Ahli Taurat dan Mahkamah Agama. Mereka masih berkumpul untuk ber-mufakat. Namun hari ini, mereka telah bermufakat jahat sebab mereka telah sepakat untuk membunuh Yesus!

Menjadi permenungan tersediri untuk kita semua, bahwa kita berkumpul dan bermufakat tak selalu untuk menemukan kebenaran yang bijaksana. Ada pertemuan yang terselenggara, karena didorong karena rasa tidak suka yang sama. Ada pula pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang karena mempunyai niat sama, yaitu ingin menghakimi orang lain.

Manakala pertemuan itu terjadi, kita ingat pengalaman Yesus Kristus. Dia dijatuhi hukuman, karena sebelumnya sudah ada permufakatan jahat di antara beberapa orang. Dan, beberapa orang itu adalah para pemuka masyarakat dan Agama. Dengan cara itu, permufakatan yang semula hanya terdiri dari beberapa orang itu pada akhirnya bisa mempengaruhi banyak orang untuk ikut dan berteriak,”Salibkan Diaaaa…

Dalam jaman ini, bahaya untuk terlibat dalam permufakatan jahat ini tetap dan terus mengintip kita. Kebersamaan dan kedekatan kita dengan banyak orang, satu saat bisa mengajak kita masuk ke dalam permufakatan jahat itu.

Dari sebab itu, waspada dan hati-hati adalah sikap utama yang kita perlukan. Apalagi, bila kita sedang ada dalam situasi tak menentu, seperti hari ini karena virus corona. Kita perlu terus menerus hening dan bijaksana, jangan sampai ada pihak mengambil keuntungan sendiri dan yang lain dirugikan karena sebuah keputusan.

Dalam situasi tak menentu karena corona ini, mari kita saling ber-hikmat mencari petunjuk Tuhan. Agar kita bisa saling membantu dan meringankan. Sehingga, kita bersama-sama bisa melewati masa ini dengan tetap suka cita. Amin

Berkah dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Imanuel Penerimaan Diri »