"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Ingatan saya menerawang ketika keluarga kami mendapat ater-ater, yaitu makanan lengkap dalam ceting bambu berisi nasi lengkap dengan sayur kentang-krecek, tempe, bihun goring, telur, dan ayam goreng. Ater-ater adalah makanan yang dikirim dari keluarga yang sedang hajatan, setelah keluarga kita menyumbang. Itu adalah kebiasaan yang sudah diwarisi lama sebagai bagian dari tradisi jawa, ketika mempunyai hajat (ewuh).

Entah ingatan saya tiba-tiba ke sana. Mungkin karena suatu ketika, kami se-keluarga makan bersama dengan menu ater-ater itu. Dan, di atas amben (bale bambu) kami duduk mengelilingi menu yang ada. Pada kesempatan itu, bapak, sebagai kepala keluarga, dipersilahkan mengambil makanan terlebih dahulu.

Melihat bapak mengambil lebih dahulu menjadi sebuah kewajaran yang biasa, bahkan dengan rasa kerelaan sepenuhnya. Sebuah pengakuan tanpa perlu penjelasan bahwa bapak layak mendapat kesempatan lebih dahulu, karena bapak adalah bapak keluarga. Beliau adalah kepala keluarga kami.

Dalam tata kehidupan sosial yang lebih luas, kita melihat “bapak-bapak” yang lain, yang tak selalu pria. Yang kita akui dan dengan rela hati kita dahulukan. Beliau-beliau adalah para pemimpin yang kita pilih dengan gembira dan diutus untuk didaulat menjadi pengayom kita semua. Maka, dalam aneka acara formal maupun informal, kita terdorong untuk tetap mendahulukan beliau.

Mengapa kita melakukan itu? Karena kita ingin menghormati, dan lebih lagi karena kita ingin memuliakan beliau. Bahkan, secara terbuka dalam aneka sambutan pun istilah itu tampak tiap kali yang berbicara menyebut kalimat: kepada yang terhormat ….. yang kami muliakan.

Kadar rasa memuliakan beliau yang kita anggap sebagai pengayom ini yang muncul ketika merenungkan seluruh bacaan hari ini (Bil 21:4-9 & Yph 8:21-30). Umat Israel yang semakin kelelahan dalam perjalanan keluar dari Mesir mulai mengeluh, sehingga disuruh ular-ular tedung memagut mereka. Maka, Musa membuat ular tedung dari tembaga yang ditinggikan. Sehingga, Israel yang terpagut ular menjadi sembuh tiap kali memandang ular itu. Dalam bacaan Injil, kita pun diingatkan perlunya meninggikan Dia supaya kita tahu bahwa Dia-lah utusan Tuhan.

Dalam rumah kita pun, salib atau gambar Dia kita pasang tinggi sebagai tanda kita memuliakan Allah.

Menjadi renungan tersendiri di jaman yang semakin maju ini, banyak wajah kita pajang di applikasi social media kita. Wajah itu adalah artis, idola atau bahkan foto kita sendiri. Dengan cara tertentu, kita pun melakukannya karena ingin memuliakan, yang berarti menempatkan di tempat yang istimewa. Apakah salah? Tentu bukan soal salah dan benar renungan kita. Hanya sebuah pertanyaan, bila sedemikian besar kagum kita pada mereka, apakah demikian besar pula kagum kita kepada Dia? Dan, apakah kita telah memberi tempat mulia dengan pantas untuk Nya?

Dalam situasi hari ini yang rawan karena COVID-19, kita menemu situasi istimewa dimana kita semua mengalami isolasi mandiri. Yang biasa aktif dan bekerja, pun tiba-tiba seolah menjadi pengangguran. Semua orang tiba-tiba merasa tak berdaya dengan keadaan ini. Namun, situasi ini juga menjadi saat istimewa untuk mengolah secara spiritual kenyataan, bahwa memang kita hanyalah ciptaan yang tak berdaya tanpa Dia. Bukankah selayaknya kita memuliakan Nya?

Dengan tetap tekun mendoakan para pemimpin, tenaga medis, dan semua relawan atau bahkan turut serta menjadi relawan yang terukur (siap dengan kondisi dan situasi yang dihadapi, siap dengan segala kelengkapan yang diperlukan) adalah cara kita memuliakan Dia sebagai orang ber-iman. Sebab, dengan cara itu, kita terus membangun percaya bahwa Tuhan bekerja dan menggunakan kita sebagai alat-Nya.

Tetap kreatif, tinggal di rumah, Tuhan memberkati

Berkah Dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Telunjuk di antara 5 jari