5 jari jumlah yang ada di tangan kita. Ada 1 yang berfungsi sebagai telunjuk, yang biasa kita pakai untuk menunjuk sesuatu. Pun demikian, demi etika dan kesopanan, tak jarang kita menunjuk sesuatu menggunakan jempol dengan posisi jari yang lain terlipat ke dalam.
Hal ini seolah menjadi ajakan agar kita semua semakin bisa menyadari diri bahwa, kita semua tanpa kecuali mempunyai kecenderungan untuk menunjuk yang lain. Menunjuk kita lakukan dalam banyak perkara. Kita menunjuk yang lain, entah karena bermaksud untuk menyalahkan atau untuk memberi pekerjaan. Dengan menggunakan jempol untuk menunjuk, kita diajak untuk menimbang masak sebelum menunjuk yang lain.
Perlu kita sadari, bahwa kecenderungan menunjuk beriringan dengan kecenderungan untuk mendapatkan kenyamanan. Bila bisa dibuat mudah kenapa dibuat rumit, adalah contoh slogan yang bisa menggambarkan kecenderung kita ingin hidup nyaman. Apa lagi, bila kita bertemu dengan orang yang suka berbagi wacana namun dalam pelaksanaannya, malah dia tidak hadir. Contoh itu makin tampak jelas.
Dengan demikian, ada dua kecenderungan yang perlu kita renungkan hari ini; yaitu kecenderungan menunjuk dan kecenderungan hidup nyaman.
Bacaan hari ini, kita merenungkan tentang orang tua yang dituakan, yang seharusnya menjadi panutan namun memberi contoh yang tidak baik (Bac I: Daniel 13:1-62). Orang Tua yang dijadikan Hakim justru memberi kesaksian palsu untuk mencari keuntungan pribadi. Maka, Hakim itu sudah menggunakan kuasanya menunjuk untuk mendapatkan kenyamanan hidup.
Namun, bagi orang yang percaya, Allah peduli. Seperti kata Mzm hari ini, Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan (Mzm 23). Dan terbukti, kepada orang yang bersalah pun Gusti Yesus tidak menjatuhkan hukuman. Perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan akan dilempari batu oleh banyak orang, dibebaskan-Nya (Yoh 8:1-11). Gusti Yesus hanya berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Gusti Yesus sejatinya mempunyai kapasitas menjadi hakim kita semua. Walau demikian, kuasa itu tidak digunakan-Nya. Menjadi jelas bahwa kita pun perlu untuk merenung, mengapa kuasa saya melampaui Dia. Bahkan ketika jabatan sebagai Hakim pun tak melekat dalam diri kita, kita bertindak seolah yang maha kuasa dengan menuduh dan melempar tanggung jawab kepada orang lain.
Dalam situasi ketika corona merebak belakangan ini, kita perlu untuk lebih hati-hati. Jangan sampai kita saudari/saudara yang mempunyai gejala terjangkit, malahan tak berani mengakui. Sebab, ia sudah terlanjur merasa diri menyandang aib memalukan. Jangan sampai mereka merasa telah diputuskan nasibnya, seolah tak ada jalan keluar. Jangan sampai, mereka merasa sepi sendirian tanpa pertolongan.
Marilah terus tetap menebarkan suasana positif dalam situasi ini. Semoga dengan demikian, kita tidak kehilangan kemanusiaan kendati harus menjaga jarak satu dengan yang lain.
Berkah dalem

