Sebagai orang Jawa (tradisi ketimuran), naluri yang ada dalam diri kita mengajak kita untuk ber-saudara dengan sebanyak mungkin orang. Maka, bila kita bertemu dengan orang yang baru, cenderung kita akan bertanya: dari mana? Kemudian di daerah yang disebutkan itu, kita akan mengingat punya kenalan siapa.
Selanjutnya, Kita akan menghubung-hubungkan garis saudara atau pertemanan kita. Dan, kita akan merasa senang bila ternyata kenalan baru ini mempunyai hubungan saudara dengan saudara kita, atau hubungan pertemanan dengan teman kita. Pada intinya, kita senang bila kita menemukan hal yang bisa membuat kedekatan kita menjadi lebih dekat lagi.
Rasanya, jiwa sosial orang Timur erat ditandai dengan mencari kesamaan di antara kita semua. Kesamaan itu lalu berlanjut dengan mencari hal lain yang serupa, semisal hobby, kesenangan, pekerjaan, atau cara pandang politik dan seterusnya.
Kesamaan yang ditemukan membuat kita merasa semakin mengenal dan dekat. Sehingga obrolan/diskusi semakin gayeng (heboh) kendati baru saja bertemu.
Hubungan pun makin meningkat sampai menjadi sebentuk relasi yang menyentuh emosi. Emosi atau rasa yang membuat kita mengakui, kita saudara dan saling peduli satu sama lain.
Sebaliknya bila tidak saling kenal, maka kita pun enggan bertegur sapa atau saling mendekat.
Pada masanya, Gusti Yesus pun mengalami hal serupa. Ada sebagian yang mengenal Dia namun banyak pula yang tidak mengenalnya. Ada yang ingin mengikuti-Nya, namun ada pula yang ingin membunuh-Nya. (Injil hari ini, Yoh 7:1-2.10.25-30)
Menjadi pertanyaan untuk kita, apakah kita pun mengenal Dia? Kita bayangkan, andai Gusti Yesus bertanya kepada kita satu-satu: Siapakah Aku?
Apakah jawab saya?
Bila saya menjawab, saya mengenal Dia; aapakah saya juga melakukan apa yang menjadi perintah Nya?
Dalam situasi saat ini, ketika banyak orang cemas dan kawatir karena COVID-19, adakan kesempatan nyata mewujudkan kasih dan persaudaraan dengan berupaya untuk membagi semangat positif untuk orang-orang terdekat dan sekitar kita. Bila ada berita yang negatif, kita coba tahan dan renungkan bila hendak membagikan berita itu. Sebab, kita sungguh perlu tahu, siapa yang akan membaca berita ini. Mari terus saling mendukung upaya menghapus COVID-19, sebagai wujud kasih dan persaudaraan di antara kita.
Mendukung dengan berdoa (entah sambil nyalakan lilin atau tidak) adalah upaya yang tak kalah pentingnya. Hari ini, berama Bapa Paus kita berdoa jam 24.00 (jam 18.00 waktu Italy) dan menerima berkat Urbi et Orbi sambil berharap kemungkinan untuk mendapat indulgensi penuh.
Tuhan menjagai kita semua, dan mari tetap membangun rasa ber-saudara kendati sudah jarang berjumpa.
Tuhan memberkati
Berkah dalem

