"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Dalam situasi krisis karena virus corona yang semakin lama, semakin dekat rasanya; membuat kita merasa bahwa bahaya bukan lagi wacana. Bahaya itu serasa makin hari semakin nyata.

Dalam situasi ini, kita terus membangun optimisme dengan hitungan manusiawi menurut aneka sumber informasi yang kita temui. Akan tetapi, ketika optimisme itu tidak terjadi maka kita akan berubah menjadi orang-orang yang pesimis.

Oleh sebab itu, sebagai orang ber-iman, yang kita pegang adalah harapan. Harapan ada dasarnya adalah iman/keyakinan. Serupa kisah lama, kendati tak tahu apakah besok akan bangun, namun malam ini kita nyalakan alarm.

Iman kita mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Tuhan Allah yang maha baik yang meperhatikan kita manusia, ciptaan-Nya. Bahkan, kendati kematian yang kita alami, harapan itu membuat kita memandang kematian sebagai pengalaman yang membahagiakan.

Dari sebab itu, iman membuat kita tak pernah kehilangan harapan. Maka, tengah malam ini (27/3/2020) jam 24.00 wib, kita satukan seluruh diri kita bersama Bapa Paus untuk berdoa di halaman Basilika St Petrus dengan kemungkinan untuk mendapatkan indulgensi penuh (pengampunan atas dosa) serta harapan agar krisis karena corona segera bisa kita lalui, dengan tetap menggenggam harapan dalam diri kita.

Tuhan maha baik, dan tetap baik menjagai kita semua.

Amin
Berkah Dalem

 
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Siapakah Aku? Mengapa kamu tidak percaya… »