Yohanes K. Sugiyarta
Hari ini adalah Pesta St Markus (Penulis Injil), dengan Injil dari Markus 16:15-20. Tentang Markus, lambangnya adalah Singa, raja gurun pasir, yang diambil dari permulaan Injilnya yang menyinggung soal gurun pasir.
Lebih dari pada itu, Markus juga adalah orang yang pergi ke Mesir dan disebut oleh Hieronimus sebagai bapa para pertapa di gurun pasir Mesir. Dia pergi ke Mesir setelah St Petrus dan Paulus dibunuh oleh Kaisar Nero.
Kutipan Injil hari ini, pun menggambarkan semangat (spiritualitas) dari St Markus yang sangat menghidupi semangat untuk mengabarkan Injil. ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” adalah perintah yang terus menggaung bukan hanya pada jaman Markus ada. Namun, setiap kali kita membaca kalimat itu, kita diingatkan bahwa perintah itu pun terus relevan (sesuai) untuk kita perjuangkan di Jaman ini.
Mewartakan Injil bukan soal membicarakan ayat-ayat yang tertulis di dalam Kitab Suci saja. Akan tetapi, mewartakan Injil berarti mewartakan kabar suka cita, karena Injil berarti adalah Kabar Gembira. Maka, mencari wujud kabar gembira dan mewartakannnya di jaman ini adalah adalah penting, agar kita bisa melaksanakan tugas sebagai murid-murid Nya.
Kabar gembira selalu menantang, dan menarik kita untuk melihat jauh ke masa depan. Bahkan, pandangan mata kita harus melampaui dunia. Agar, kita tidak meletakkan tujuan hidup hanya pada perkara hidup di dunia ini. Sebab, tak ada yang abadi di dunia ini. Oleh sebab itu, suka dan duka dunia ini pun tidak pernah abadi. Itulah alasannya, mengapa orientasi hidup kita terus ada dalam upaya mencari kebahagiaan yang kekal sifatnya.
”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” adalah perintah Yesus Kristus sebelum Ia naik ke surga, menurut tulisan Injil Markus dalam kutipan Injil hari ini.
Perintah Agung ini kekal selamanya. Oleh sebab itu, kita bisa menemukan jejak para pendahulu yang tekun mewartakan kebenaran, keadilan, dan cinta kasih dengan menanggung segala resiko; entah mereka itu adalah awam, imam atau uskup. Bahkan, jelas dalam kisah Santo Santa, mereka sampai menanggung resiko siksa dan kematian demi mewartakan Injil. Dan, kematian mereka menjadi warta suka cita bagi kita semua. Sebab, kematian mereka menjadi peneguh bagi kita bahwa mengabarkan Injil di jaman ini bukanlah sia-sia.
Oleh sebab itu, hari ini ketika COVID-19 masih menjadi berita yang menimbulkan ketakutan dan kekawatiran, kita diteguhkan untuk membuka dan memeluk Injil kita. Bahkan, kita semua diajak menulis kisah perjuangan hidup kita sebagai Injil kita yang hidup pada jaman ini.
Maka, bersyukurlah anda yang tetap menyalakan harapan dan membagikannya kepada banyak orang. Sehingga, banyak orang tetap mempunyai harapan akan hidup yang lebih baik kendati situasi sedang tidak menentu dengan berita PHK, krisis ekonomi, bantuan yang belum cair dari Pemerintah, larangan mudik dan seterusnya. Mari, kita terus mengabarkan kabar suka cita seperti para pendahulu kita semua.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Renungan kali ini, saya akan menyebut langsung bacaan hari ini, Jumat Pekan Paskah II ( Yohanes 6:1-15 ). Injil berisi kisah tentang mukjizat, Gusti Yesus menggandakan roti.
Mukjizat itu terjadi setelah Yesus melihat orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Dia, sampai ke seberang danau Galilea. Yesus bertanya kepada para murid,”Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?” Pertanyaan ini dijawab oleh Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup utuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!”
Dari dialog ini, kita bisa langsung menemukan perbedaan sikap dari Yesus dan para murid.
Ketika Gusti Yesus ingin memberi mereka makan, para murid berpikir bagaimana caranya sebab mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan yang cukup untuk orang sebanyak itu? Pikiran para murid sangat masuk akal, dan wajar sekali. Kita mungkin juga akan melontarkan gagasan serupa, bila ada di posisi mereka.
Namun, para murid ditunjukkan bila manusia Yesus yang ada di hadapan mereka bukanlah manusia biasa. Dia adalah sang Putra yang kuasa membuat mukjizat sehingga orang banyak itu bisa makan, bahkan masih ada sisa 12 bakul penuh berisi potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah semua orang itu makan.
Para murid sedang ditunjukkan bahwa dalam kekurangan dan keterbatasan mereka, tetap diajak untuk berbagi dan memikirkan nasib banyak orang. Mukjizat itu rasanya masih terus terjadi hingga hari ini, sebab kita masih suka mendengar kesaksian di jaman modern ini bagaimana orang yang berbagi namun tidak merasa berkekurangan. Sebaliknya, banyak kisah juga ketika orang yang terus berhemat dan mencoba menumpuk harta malah terus merasa kurang.
Dalam pandemi COVID-19 ini, tak dipungkiri rasa cemas dan kawatir membuat kita spontan memikirkan kebutuhan diri sendiri. Sehingga, kita paham ketika banyak orang memborong makanan seperti sebuah perlombaan. Namun, kita belajar dari Guru kita untuk tidak memikirkan nasib diri sendiri. Situasi yang tidak mudah seperti hari ini, justru menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin peka melihat tetangga kiri kanan kita. Bila sekiranya ada yang perlu mendapatkan bantuan, ini saatnya kita melakukan ajaran Guru, Tuhan kita.
Sebab, sekali lagi, kita memang tinggal di dunia namun kita bukan milik dunia. Selayaknya kita belajar mengikuti Guru dan teladan kita, yang mengajarkan hitungan dan sikap cinta kasih dalam wujud kerelaan untuk berbagi. Ini adalah bahasa Surga. Dengan demikian, semoga di atas bumi seperti di dalam Surga.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Desa mawa cara, Negara mawa tata adalah ungkapan Jawa yang kalau diterjemahkan bebas, kira-kira bunyinya adalah: Desa memiliki aturan, Negara mempunyai hukum.
Namun, ungkapan ini juga mau mengatakan bahwa tiap daerah mempunyai adat kebiasaan yang berbeda. Sebagai contoh adalah, orang Jogja dikatakan sebagai orang yang halus dalam ber-bahasa dan makanannya adalah gudeg. Padahal kita tahu, tak semua orang Jogja adalah seperti itu. Itulah stereotype atau cap atau labeling.
Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil ( Yohanes 3:31-36 ) bercerita soal kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, sebagai Dia yang berasal dari atas. Artinya adalah Dia tidak berasal dari bawah, atau bumi.
Serupa ungkapan Jawa di atas, Desa mawa cara, Negara mawa tata, berasal dari atas berarti mempunyai ciri berbeda dengan yang berasal dari bawah, atau bumi atau Dunia.
Yang berasal dari bumi/Dunia, dia termasuk pada bumi dan akan berkata-kata dalam bahasa bumi. Yang berasal dari Surga ada di atas bumi. Dan, akan memberi kesaksian tentang apa yang dilihatnya, dan yang didengarnya. Siapakah mereka yang berasal dari Surga? Mereka adalah yang menerima karunia ROH dan percaya kepada Dia.
Namun, sejatinya hal ini tidak mudah. Apalagi, ketika ada pandemi yang kita tidak tahu akan berakhir kapan. Situasi ini mudah sekali menyulut rasa takut dan kawatir kita. Kita gampang digelisahkan oleh banyak perkara. Informasi dan berita, membuat kita berpikir dan bertanya namun tak selalu menemu jawabannya. Sehingga, takut dan kawatir itu semakin besar.
Padahal, rasa takut dan kawatir itu tidak ada untungnya. Sebab, rasa takut dan kawatir itu tidak mengubah apapun. Jadi, mengapa takut dan kawatir dipelihara? Bukankah lebih baik kita mempertebal rasa percaya kita bahwa Allah akan membuat semuanya menjadi baik. Karena, kita semua mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang maharahim.
Oleh sebab itu, kita semua pun berupaya membuat kebaikan dalam situasi tak menentu ini. Kita saling berlomba melakukan kebaikan, dengan peduli dan rela berbagi. Alasannya adalah, karena Allah yang kita Imani telah lebih dahulu mengasihi kita sehingga, kita mengikuti ajaran-Nya dengan mengasihi sesama.
Itu juga alasannya, kendati Misa terselenggara online, kita tetap setia mengikuti dengan rasa haru. Karena kita tidak mau, obor iman kita kehabisan minyak. Dan, nyala apinya mati tertiup angin ketakutan dan kekhawatiran.
Saudari dan saudara, kita semua berasal dari atas. Maka, marilah kita berpikir dan bertindak dengan cara dari atas. kita bukan dari bumi, maka janganlah ketakutan dan kekhawatiran Dunia menghanyutkan kita hingga tenggelam. Seolah-olah, kita kita tidak mengenal Tuhan.
Mari terus eratkan gandeng tangan kita, siapapun kita, dimanapun berada. Agar nyala api iman dan harapan ini tak pernah padam. Amin
Tuhan memberkati
Berkah dalem
Kita melihat bahwa segala sesuatu ada ber-pasangan, dalam hidup ini. Ada kiri, maka ada kanan. Ada terang, maka ada gelap. Ada siang, maka ada malam. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada kebaikan, dan ada yang kejahatan dst.
Hal serupa juga menjadi pembicaraan Gusti Yesus dengan Nikodemus, sebagai kelanjutan kisah kemarin dalam Injil hari ini: Yohanes 3:16-21 (Rabu biasa Pekan Paskah II).
Bila kenyataan hidup ini adalah berpasangan, jelas artinya bahwa hidup manusia selalu berhadapan dengan pilihan. Dan, pilihan seperti apa yang dibuat oleh manusia, itulah yang akan menyelamatkan atau membinasakannya. Namun, sudah menjadi kecenderungan umum bahwa manusia memilih hal yang menguntungkannya atau memudahkannya. Sehingga, kalau bisa duduk santai, mengapa harus berkeringat dan bersusah payah? Bila memikirkan diri sendiri lebih enak, ngapain perlu memikirkan nasib orang lain?
Dalam perbincangan antara Gusti Yesus dengan Nikodemus, kita diajak naik level dalam melhat kenyataan hidup ini. Pilihan bukan diletakkan, hanya pada perkara senang dan tidak senang saja. Tetapi, pilihan dilihat dalam kerangka tujuan akhir hidup manusia, yaitu pada perkara BENAR dan TIDAK BENAR.
Sebab, melakukan yang benar di hadapan Allah adalah pilihan yang akan membawa manusia pada terang. Supaya manusia tahu mana yang benar dan salah, Anak-Nya yang tunggal dikaruniakan kepada kita. Dialah terang yang diutus ke tengah kita, agar kita yang percaya kepada Nya memperoleh hidup kekal, dan tidak binasa.
Kendati demikian, kita semua tetap ada dalam bayang-bayang kebinasaan. Kita masih menyukai kegelapan dari pada pergi kepada terang itu. Sepanjang kita masih menyukai yang jahat, kita akan membenci terang supaya perbuatan yang jahat itu tetap tersembunyi. Itulah mengapa, ketika manusia berpindah ke kehidupan kekal dikatakan ada sukma yang tinggal di tempat gelap. Karena ketika masih ada di dunia, dia lebih menyukai kegelapan dari pada terang.
Dari sini, kita mengerti bahwa kegelapan setelah kematian bukanlah hukuman dari Allah, namun karena manusia itu sendiri dari semula tidak menyukai terang. Sedangkan Allah adalah sumber terang itu sendiri. Bagaimana mungkin, seseorang yang biasa tinggal dalam kegelapan bisa nyaman berjumpa dengan yang terang benderang? Bukankah, ia harus belajar mengenal terang itu dari sejak sekarang, agar nanti pun bisa tinggal bersama dengan Sang Terang Sejati dalam keabadian?
Sehingga, dalam pembicaraan dengan Nikodemus pun, Gusti Yesus mengatakan jika Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Dari sebab itu, marilah sejenak kita merenungkan hidup kita masing-masing. Menilik diri kita dalam keheningan yang dalam. Melihat kembali semua pilihan yang telah kita lakukan. Apakah saya lebih menyukai terang dari pada gelap, atau justru sebaliknya saya lebih memilih yang jahat?
Dalam situasi pandemi COVID-19 ini pun, pilihan itu tetap terbuka bagi kita semua. Dan, marilah kita memohon kepada Allah sang Terang Sejati; agar kita mencari dan tetap memilih yang benar dan yang baik, dari pada yang menyenangkan dan yang kita sukai. Kendati, untuk memilih yang benar dan yang baik, kita perlu berkeringat dan berlelah-lelah. Sebab kita tahu, dengan memilih yang benar, kita sedang menuju kepada Terang yang abadi.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah Dalem
Satu ketika, ada sebuah toko yang padat pembeli sedang memilah dan memilih barang jualannya. Sementara banyak orang mengernyit heran, karena menurut mereka barang yang dijual di toko itu harganya adalah mahal. Rupanya, sudah beberapa waktu sebelumnya, toko itu memberitakan akan adanya diskon besar untuk semua item.
Dari contoh ini, kita diingatkan akan adanya kecenderungan dalam diri kita untuk mempercayai kabar yang diharapkan. Serupa dengan mereka yang hobby belanja, akan sangat peka dengan berita diskon. Sehingga, spontan ada dorongan untuk segera membeli barang yang sudah sekian lama diamati. Dan, tak sempat mengkritisi apakah memang harga yang disematkan adalah harga yang wajar. Atau, harga tersebut telah dinaikkan dulu sebelum di-diskon?
Hal ini juga berlaku untuk perkara yang berbeda. Sebab, sekali lagi, kita semua mempunyai kecenderungan untuk segera mempercayai kabar yang kita harapkan terjadi. Sehingga, ada banyak kisah orang tertipu dengan SMS yang memberitahu bahwa kita mendapat undian berhadiah.
Hari ini, Selasa Biasa Pekan Paskah II, kita diajak merenungkan Yohanes 3:7-15, yang menjadi kelanjutan kisah kemarin tentang Nikodemus sebagai Pemimpin Agama Yahudi yang bingung dengan kabar dari Gusti Yesus. Bagaimana mungkin, seseorang yang sudah tua dilahirkan kembali?
Dalam Injil hari ini, Gusti Yesus menandaskan kembali bahwa ajaran itu berasal dari apa yang Dia lihat. Namun, Nikodemus tetap tidak percaya. Sehingga, Gusti Yesus pun menegaskan lagi dengan pernyataan: bagaimana mungkin Nikodemus percaya akan perkara surgawi, andai untuk perkara duniawi saja Nikodemus tidak percaya?
Kita pun kemudian perlu merenungkan, sejauh mana kita telah memeluk iman kepercayaan kita? Apakah sungguh kita sudah percaya kepada-Nya? Sebab, bagi yang percaya kepada-Nya, akan menyerahkan dirinya seutuhnya dalam penyelenggaraan Allah. Mereka yang percaya kiranya dimampukan untuk menepis ketakutan dan kekhawatiran, supaya hatinya dipenuhi damai sejahtera. Dan, pada akhirnya kita pun beroleh hidup yang kekal.
Dalam pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, tidak mudah untuk mengembangkan kepercayaan dan kepasrahan sebagai wujud orang ber-IMAN. Namun, situasi ini membuat kita tertantang untuk terus menerus memperbaharui iman kita. Walau hati kita jenuh karena terbatasi perjumpaannya, tak bisa menyambut komuni kudus, tak bisa bekerja seperti biasa; namun berkat IMAN yang kita pegang, kita tidak kehilangan harapan.
Kita terus kreatif menghadapi situasi ini dengan memegang kidung harapan dan iman. Kita terus menatap masa depan dengan harapan agar hidup kita lebih baik dari saat ini. Mari kita eratkan gandeng tangan kita, sebab Tuhan terus berkarya melalui siapapun kita yang terus berharap dalam iman.
Tuhan memberkati kita semua. Amin
Berkah dalem
