"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Kita mungkin pernah melihat kesedihan yang teramat sangat, atau bahkan mungkin pernah mengalaminya sendiri. 

Kesedihan membuat seseorang enggan, malas, tak lagi semangat bergerak. Kesedihan membuat kehidupan tak lagi terasa hidup dan indah.

Dalam kisah Injil hari ini (Rabu dalam Oktaf Paskah, Injil Lukas 24:13-35), murid Emaus saking sedihnya tak lagi bisa mengenali siapa yang sedang diajak bicara. Kecewa yang besar telah menguasai batin dan pikiran mereka, sehingga Gusti Yesus yang menjadi teman perjalanan pun tak mereka kenali. Sampai tiba saatnya, Dia berdoa dan mengangkat roti. Saat itulah, 2 murid itu mengenali Dia.

Dan, saat itu pulalah tumbuh kembali api hidup dan harapan mereka. Yang semula dipandang sia-sia dan percuma, ternyata salah. Tuhan sungguh bangkit. Maka, 2 orang murid ini pun meninggalkan Emaus dan kembali ke Yerusalem.

Dalam hidup ini pun kita sering mengalami. Kita pernah ada dalam situasi ketika merasa bahwa hidup ini gelap, tak lagi ada harap. Hidup ini sepi, tak lagi ada arti. Hidup ini tak lagi ada makna untuk diperjuangkan.

Dalam situasi seperti itu, ada saja orang yang diutus Tuhan untuk menjadi rekan seperjalanan kita (seperti perjalanan ke Emaus) dan menerangkan isi Kitab Suci*. Kita yang semula gelap, tanpa harap, letih dan lesu tanpa semangat; tiba-tiba dikobarkan dan kembali bangkit menatap kehidupan. Pada saat itulah, kita merasakan pengalaman 2 murid yang ditemani Gusti Yesus dalam perjalanannya pulang ke Emaus.

Bersyukurlah kita semua, manakala ada teman, sahabat dan saudara dikirimkan kepada kita. Dan, Tuhan menggunakan mereka semua sebagai cara untuk menyapa kita. Sebab itu, dalam situasi seperti apa (termasuk COVID-19 ini), kita tetap diajak percaya bahwa Bapa terus berkarya seperti yang dialami 2 orang murid ini.
Maka, harapan tak boleh padam. Tuhan memberkati. Berkah dalem

Amin

 

Tuguran kali ini semakin terasa maknanya. Ketika Gusti Yesus yang sendirian di Taman Gestsemani, semakin terasa sepinya.

Tak seperti Kamis Putih tahun-tahun lalu, bergiliran kita berjaga di depan Sakramen Mahakudus. Malam ini, Dia tersimpan rapi di Tabernakel. Sendirian saja..

Pagi ini, Yesus Kristus dijemput paksa oleh Tentara Roma. Dibawa ke Pengadilan, tanpa kawan. Sendirian saja..

Sore hari, kita akan mengenangkan ketika Tuhan Yesus menapaki kisah sengsara; memanggul salib mendaki ke puncak Golgota. Sakit, siksa, terluka sampai wafat. Dan, sekali lagi Tuhan Yesus sendirian..

Sepi, dan sedih sekali rasanya..

Kesepian semakin menggigit tatkala melihat Gereja tanpa hiasan seperti biasa. Nada dan lagu pun tiada menghias udara. Organ dan gamelan, sejenak mengiringi keheningan perayaan.

Hari Raya tanpa perayaan.. sungguh menyedihkan.

Namun, sungguhkah Tuhan merasa sepi dan sedih seperti yang kita rasakan?

Gereja memilih kisah Sengsara versi Injil Yohanes untuk direnungkan pada Jumat Agung ini. Dalam kutipan Injil Yohanes yang menjadi bacaan Kamis Putih, dikisahkan jika Tuhan Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.

Dia sudah tahu! Artinya: semua sudah dimengerti dan diterima oleh Yesus. Semua yang akan terjadi, sudah ada dalam rencana Nya. Secara sederhana sebagai manusia, saya mengerti seperti sakit yang kita alami. Ketika tanpa sengaja pantat kita menduduki paku, kita akan berteriak kaget dan mungkin marah. Namun, saat jarum suntik menembus pantat kita untuk memasukkan obat, kita menerima sakitnya dengan tenang. Serupa sakitnya, namun beda rasanya.

Maka, dalam kisah Sengsaranya, Yohanes pun mau berkisah bahwa Yesus memang terluka, terhina, dan sakit. Namun, Salib tidak membuatnya menderita. Sebab Salib adalah cara kematian yang dipilih sesuai rencana Nya. Dengan mati di kayu Salib, Dia tergantung antara langit dan bumi. Menjadi cara nyata untuk menempatkannya di tempat yang tinggi. Dia memang mati di kayu salib. Namun kemudian, Dia akan bangkit sebagai bukti bahwa Dia telah mengalahkan maut. Dan, sebagai bukti bahwa jalan kasih telah mengalahkan kegelapan.

Salib tak lagi menjadi lambang kesia-siaan yang membuat kita putus asa. Namun, memandang salib membuat kita terpesona akan rencana kasih Allah untuk menyelamatkan manusia. Dengan caranya itu, Dia telah memberikan jalan kasih untuk kita, sehingga kita bisa mengalahkan kuasa kegelapan.

Selamat merenungkan Jumat Agung, di rumah kita masing-masing. Mari kita buka Kisah Sengsara menurut Yohanes, sembari kita memandang salib yang ada di rumah kita masing-masing. Salam dan doa.

Berkah dalem

 

Sejak semula, manusia dicipta unik sebagai pribadi. Bahkan ketika dia adalah anak kembar, tetap saja ada yang unik; membuat yang satu berbeda dengan yang lain. Keberbedaan itu membuat kita perlu membangun hidup dalam kebersamaan. Bahkan bila seseorang sangat mampu dalam segalanya, dia tetap membutuhkan orang lain. Orang lain yang berperan sebagai asisten, karyawan, suruhan; atau orang yang menjadi partner dalam diskusi dst.

Pada hakikatnya, tidak mungkin orang bisa hidup soliter (sendiri) mutlak, dan tidak pernah berjumpa dengan orang lain sama sekali.

Namun, memang adalah benar bahwa hidup bersama tak selalu menyukakan. Ada saja hal yang bisa menjadi alasan untuk berduka dalam menekuni hidup bersama. Keunikan pribadi sering menjadi sebab adanya ketidakcocokan, yang kemudian berujung pada perpecahan.

Karena perbedaan adalah kenyataan yang tak bisa kita hindarkan, apa yang perlu kita usahakan bila demikian?

Dalam bacaan I, Yesaya (50:4-9a) mengajak kita untuk berserah kepada Allah. Tuhan membuka telinga dan membuatnya peka dari waktu ke waktu, membantu kita mengerti apa yang sedang terjadi dengan bijaksana. Tuhan pula yang memberi lidah seorang murid, sehingga dengan perkataan kita bisa memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Tuhan pula yang menolong kita ketika berperkara, dan tidak mendapat malu.

Oleh sebab itu, kita perlu meneguhkan hati seperti gunung batu, karena Allah menolong kita. Sepanjang kita bertekun dalam kepasrahan dan doa.

Itu kiranya mengapa dengan tenang, Tuhan Yesus dalam INJIL (Mat 26:4-25) menunjukkan Yudas Iskariot yang akan menghantarkan Nya menjemput maut. Dan, dengan tenang pula Yesus Kristus tetap hidup bersama dengan para murid, tanpa kecuali Yudas Iskariot.

Sejak Minggu Prapaskah V, salib dan semua patung diselubungi kain ungu. Menjadi isyarat bagi kita bahwa mulai saat itu, Gusti Yesus sendirian. Sifat ke-Allah-an Nya pergi, menyisakan sifat manusiawi nya Yesus Kristus. Dengan demikian, kita bisa membayangkan pergulatan Gusti Yesus.

Sebagai manusia yang utuh dengan pikiran dan perasaan, Dia tetap hidup bersama dengan Yudas yang akan menyerahkan Nya kepada maut. Dan, kita melihat bagaimana Yesus tetap biasa, seolah tak terjadi apa-apa.

Inilah terjemahan paling nyata dari kepasrahan iman sehingga sanggup berkata, JADILAH SETURUT KEHENDAK MU. Manusia Yesus, berserah dan pasrah kepada Bapa sebab tau, kehendak Bapa adaah baik. Di balik siksa, luka, dan pedihnya Salib; ada berkat keselamatan di sana.

Kita juga mempunyai hidup bersama sebagai manusia. Di sini kita belajar, pentingnya membangun iman yang pasrah, iman yang berserah. Tak semua berjalan seperti yang kita mau. Tak semua hal terjadi seperti yang kita ingini. COVID-19 ini pun perkara yang tak pernah kita harap dan duga. Namun, semua sudah terjadi.

Maka, dalam situasi seperti ini, bukan kekawatiran dan ketakutan yang kita diskusikan. Namun, bagaimana membangun harapan yang perlu diupayakan.

Melihat banyak orang melakukan kebaikan, membuat harapan kita semakin besar sebab ternyata Allah tetap terus berkarya. Allah terus bekerja melalui banyak tangan yang ada di kiri kanan kita. Bila demikian, di balik semua ini pasti tetap ada harapan dan suka cita.

Mari, berlomba-lomba membuat kebaikan agar kita pun tak hilang harapan dan suka cita hidup ini. Amin

Berkah dalem

 

Kami para Imam di Keuskupan Agung Semarang, mengadakan rekoleksi mandiri sejak kemarin sore (6/4/2020), menggunakan bahan yang dikirimkan oleh bapa Uskup supaya nanti sore (7/4/2020) bisa mengikuti misa Krisma dan Pembaharuan Janji Imamat online.

Belum pernah, rekoleksi secara online terjadi di KAS ini. Menjadi saat istimewa untuk mengenang kembali makna rekoleksi, yang berasal dari 2 kata:re (kembali) dan koleksi (collection: mengumpulkan). Rekoleksi adalah saat penuh rahmat untuk mengumpulkan kembali, sekian pengalaman sebagai bahan pengolahan untuk pemulihan spiritual (rohani).

Menggunakan bahan yang disediakan, kami diajak memutar kembali pengalaman-pengalaman masa lalu untuk mencari makna hidup, yang membantu kami untuk menemukan kembali jejak Allah dalam hidup ini.

Rasa saya, bacaan-bacaan hari ini pun berkisah perkara yang sama, tokoh bacaan hari ini juga sedang rekoleksi. Yesaya (Bacaan I, Yes 49:1-6) bercerita pengalaman keter-panggilan nya sejak dalam kandungan. Dan, susah payah Ia menemani Israel dan mengatakan bahwa sia-sia bila mereka hanya menegakkan suku-suku Yakub.

Tetapi, mereka harus menjadi TERANG bagi bangsa-bangsa.

Dalam bacaan Injil (Yoh 13:21-33.36-38) kembali, Yesus Kristus menunjukkan beberapa isyarat akan kisah sengsara-Nya. Banyak yang mengasihi-Nya, namun kepada murid terkasih, Yesus Kristus menunjukkan Yudas Iskariot sebagai yang akan mengkhianati. Dan, Petrus pun meyakinkan Yesus jika dia sanggup membela Yesus sampai akhir dengan menyerahkan nyawanya. Namun Yesus menanggapi niatan Petrus dengan mengatakan, jika Petrus akan menyangkal Dia sebelum ayam bekokok 3 kali.

Yesus sedang memberi isyarat, bila Dia akan sendirian saja menyambut kisah sengsara bengis itu…

Seluruh bacaan ini membuat kita merenung, apakah memang akhir dari semua kisah adalah sia-sia belaka? Sungguhkah, semua tiada arti?

Hari ini Gereja juga mengenangkan St Yohanes Pembaptis de la Salle. Dikisahkan bahwa beliau keturunan bangsawan kaya raya. Namun, harta tak membelenggunya untuk memikir melulu diri sendiri dan perkara duniawi.

Dia terpanggil untuk memberikan diri secara lebih lagi. Dan, itulah yang dilakukannya dengan melayani mereka yang membutuhkan, secara khusus dengan pelayanan pendidikan, karya mendesak pada waktu itu.

Dalam situasi ketika COVID-19 seliweran di sekitar kita, kita juga masih menemukan kisah mereka yang berbelarasa. Bahkan, kita pun turut peduli dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sama seperti yang dilakukan oleh St Yohanes Pembaptis, dalam wujud yang berbeda.

Pertanyaannya, mengapa kita perlu peduli dan berbagi dalam situasi ini? Kita lakukan semua itu, karena Kita semua sedang berusaha meneladan ajaran Sang Guru Sejati: mengasihi sesama..

Bila sampai dengan hari ini, kita masih melihat wujud nyata kepeduliaan dan kasih, maka tanpa ragu kita mengatakan bahwa tiada yang sia-sia. Bahkan, kematian Yesus Kristus di kayu Salib, tidak membuat ajaran CINTA itu menjadi padam. Tak pula membuat ajaran untuk TOLONG MENOLONG menjadi sirna. Justru, adalah sia-sia hidup mereka yang tak pernah sempat memikirkan orang lain dan ber-belarasa...

Semoga, nama Tuhan dimuliakan dalam semua upaya baik kita semua. Amin

Berkah dalem

 

Saat diam, merenungkan diri… tiba-tiba, dada berdesir dan terasa perih. Karena, ada pengalaman tidak menyenangkan yang lewat, dan teringat. Pengalaman yang lama sudah ingin dipendam, pengalaman yang lama ingin dilupakan. Saking marah dan sedihnya, tanpa sadar air mata lari berhamburan dan tangan mengepal meninju tembok.

Paragraph di atas adalah sebuah kisah yang bila dibayangkan membantu kita untuk membangun kesadaran, bahwa kita mempunyai pengalaman yang tak selalu bisa kita terima. Ada yang menyukakan hati sehingga terus ingin kita simpan dalam hati. Sedang, ingin rasanya membuang jauh pengalaman yang sedih tak menyukakan hati. Pengalaman yang hanya memberi luka setiap kali mengenangnya.

Bacaan hari ini, kita renungkan kebijaksanaan menurut Yesaya bahwa Allah menggunakan setiap peristiwa sebagai cara Dia berkarya (Yesaya 42:1-7). Buluh yang terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya

Sabda ini sedang memberi isyarat kepada kita, bahwa Allah tetap dan terus berkarya di dalam aneka peristiwa. Termasuk peristiwa yang menurut kita hina dan membawa aib. Di sana, Allah tetap ada dan menggunakan pengalaman itu untuk menyatakan karya-Nya.

Iman ini ditegaskan dalam Injil (Yoh 12:1-11), saat Tuhan Yesus mengetahui bahwa Yudas Iskariot yang akan menyerahkan-Nya kepada kematian.”Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.

Seolah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita semua untuk menerima dan merangkum setiap peristiwa sambil percaya bahwa Bapa berkarya dan mengatur semua menjadi baik. Oleh sebab itu, kendati Yesus Kristus tahu bahwa Yudas Iskariot-lah yang akan menyerahkan Dia kepada maut, Tuhan Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan melayani dia dalam perjamuan malam terakhir.

Usai Minggu Palma, Gusti Yesus mengajak kita untuk turut serta menapaki hari-hari kisah sengsara. Kisah yang sebenarnya juga ingin ditolak oleh sifat manusia Yesus, biarlah piala ini lalu dari pada-Ku, namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi

Dalam situasi virus corona seperti ini, sifat manusia kita pun spontan ingin menolak nya. Bila boleh, janganlah ada virus seperti itu. Apalagi kesulitan hidup semakin tampak nyata di depan kita, membuat kita semakin sulit untuk pasrah dan percaya. Hati kita dipenuhi rasa kawatir akan hari esok.

Bacaan hari ini, mengajak kita untuk berserah dan pasrah. Agar, kita pun bisa menerima peristiwa dan merangkumnya sebagai kenyataan yang harus terjadi. Sebab, kita berusaha yakin dan percaya bahwa semua akan baik pada waktu-Nya. Bapa tetap berkarya dalam setiap peristiwa, termasuk peristiwa yang tidak menyenangkan itu.

Oleh sebab itu, mari kita pun dengan tekun terus berdoa dan bergandengan tangan. Dengan tetap waspada, kita membangun belarasa agar bisa melewati pengalaman ini bersama-sama. Sehingga yang kawatir dan merasa kesulitan dalam situasi ini, tidak merasa sendirian.

Kita percaya, Allah ada bersama kita. Dan, kita yakin bahwa semua ini akan baik pada wakt-Nya. Oleh sebab itu, semoga kita semua tetap ber-suka cita melalui semua ini bersama-sama. Amin

Berkah dalem