"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Pernah ada kisah ketika seseorang mengalami pengalaman terpuruk sangat dalam, hingga hidup tak lagi bermakna. Sampai satu ketika, dia bertemu dengan seseorang yang bisa memberi penghiburan, sehingga dia kembali mendapat pegangan. Saat itulah, dia merasa bahwa hidup mendapat makna baru. Cara berpikir, merasa dan bertindaknya; sudah berubah.

Hari ini, Senen Biasa Pekan Paskah II, Injil Yohanes 3:1-8 mengajak kita merenung tentang makna lahir kembali. Gusti Yesus berbicara kepada Nikodemus, yang adalah pemimpin agama Yahudi, “…jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Kata-kata Gusti Yesus ini, membingungkan Nikodemus. Sebab, bagaimana mungkin seorang yang sudah tua bisa masuk kembali ke Rahim ibunya, dan dilahirkan kembali? Mungkin, kita pun juga akan bertanya dengan pertanyaan serupa: bagaimana mungkin hal itu terjadi?

Namun, yang dikehendaki oleh Gusti Yesus bukanlah lahir secara jasmani berupa daging, layaknya kelahiran yang biasa. Yang dikehendaki oleh Gusti Yesus, adalah kelahiran dari air dan roh. Dengan pencurahan air dan roh itu, kita diberi cara pandang (cara berpikir, merasa dan bertindak) yang baru.

Ajaran ini tidak mudah, bahkan sulit untuk dinalar. Namun, cara pandang baru itu menjadi kekuatan manakala kita mengalami kejatuhan. Sehingga, kendati kita terjatuh kita mendapat kekuatan untuk bangun lagi. Dan, setiap kali kita mampu untuk bangun kembali, saat itulah kita menemu makna baru tentang kehidupan. Dan, itulah arti dari lahir kembali.

Merasakan pademi COVID-19 yang terjadi, kita bisa mensikapi dengan kekawatiran, keluhan, ratapan, atau segala macam umpatan. Namun, kita juga mempunyai pilihan untuk mensikapi dengan keyakinan, solidaritas, kepedulian sembari semakin tekun dalam doa.

Maka, mari kita hadapi bersama pandemi COVID-19 ini dengan keyakinan iman kita, sembari terus membangun kepedulian. Mari kita berharap agar COVID-19 in menjadi sarana kita untuk lahir kembali. Lahir memeluk SALIB Kristus, agar kita boleh berharap untuk turut serta bangkit bersama Nya manakala saatnya tiba.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem

 

Dalam hidup ini, saya yakin bila kita pernah berjumpa dengan seseorang yang sangat mengesan sehingga sulit dilupakan, kendati sudah ada perpisahan. Memberi arti, bahwa perjumpaan itu sungguh berkualitas. Pertanyaannya adalah, apa tanda bahwa perjumpaan itu berkualitas? Jawabannya adalah ketika perjumpaan itu membawa perubahan.

Hari ini, Minggu Paskah II (Kerahiman Ilahi), mengajak kita merenungkan Yohanes 20:19-31. Dalam bacaan ini, Gusti Yesus menampakkan diri dengan sapaan: Damai sejahtera bagi kamu. Penampakan itu terjadi, dan dialami oleh para murid yang bersembuyi di sebuah tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang Yahudi. Mendapat penampakan itu, mereka bersuka cita. Namun saat itu terjadi, Tomas tak ada bersama mereka sehingga, dia tidak percaya.
Tepat 8 hari kemudian, Gusti Yesus menampakkan diri lagi dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lambung-Nya. Saat itulah, Tomas berkata: Ya Tuhanku dan Allahku dan percaya.

Penampakan ini tidak terjadi dalam durasi yang lama. Kendati demikian, perjumpaan itu sungguh berkualitas sehingga, Tomas (dan para murid) BERUBAH. Penampakan mengubah cara pandang para murid tentang salib. Salib semula berarti kesia-siaan, sekarang mereka tahu bahwa Salib menjadi jalan mulia Tuhan Yesus. Mereka yang semula sedih, kini berubah menjadi suka cita. Tomas pun kembali percaya dan suka cita, namun Gusti Yesus memberi nasehat dalam kalimat: ”Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Pengalaman ini sangat luar biasa, sehingga kalimat Tomas itu pun terus menerus kita kenangkan saat elevasi (Imam mengangkat Tubuh & Darah Kristus) dalam Ekaristi. Pada saat itu, kita juga mendaraskan (dalam hati), kalimat: Ya Tuhanku dan Allahku. Dengan kalimat itu, kita berharap jangan menjadi Tomas-Tomas lain di jaman ini.

Maka sebagai orang Katolik, kita pun ingin berjumpa dengan Gusti Yesus. Sehingga kita berusaha tekun berdoa, ber-devosi, membaca Kitab Suci, merayakan Sakramen dan lainnya. Bahkan, kita juga membiasakan diri untuk berjiarah di tempat-tempat yang dianggap suci oleh Gereja. Walau tak jarang bosan yang melanda batin kita. Namun, begitu Allah menyapa maka rasa batin kita penuh dengan suka cita tak terkira. Itulah penghiburan rohani kita saat ini. Hati ini penuh dengan damai sejahtera, serupa kalimat sapaan Gusti Yesus ketika menampakkan diri kepada para murid.


Maka, kendati pandemi COVID-19 masih berseliweran, kita terus menjaga hati kita penuh dengan percaya. Kita tidak ingin menjadi Tomas-Tomas di jaman ini yang meragukan kebangkitan, agar hati kita pun penuh dengan damai sejahtera seperti sapaan Gusti Yesus dalam penampakan hari ini.

Semoga kita saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain, berbagi damai sejahtera satu dengan lainnya. Amin

Berkah dalem

 

Pernah punya pengalaman diutus? Pasti kita semua pernah. Entah untuk tugas penting yang rahasia sifatnya, seperti memesan kue ulang tahun; atau sekedar pergi ke warung untuk membeli bumbu dapur. Apapun itu, perutusan adalah tugas yang menempatkan kita sebagai utusan.

Menjadi utusan, berarti kita telah dipilih karena dianggap bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Dan demi tugas itu, kita juga dibekali untuk menggenapi apa yang sudah kita miliki.

Hari ini, Gusti Yesus menampakkan diri kepada 11 murid yang lain ( Mrk 16:9-15), karena kesebelas murid itu tidak percaya dengan cerita Maria Magdalena, dan juga cerita dari 2 murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus. Kesebelas murid itu sedang berkabung dan menangis, sehingga kisah dari teman mereka seolah dongeng di siang bolong. Maka, Gusti Yesus mencela kedegilan hati mereka, yang tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Tak kita pungkiri bahwa kebangkitan orang mati adalah keelokan yang sulit terselami, manakala hati dipenuhi dengan sedih dan duka. Berita gembira kebangkitan seolah bertemu pintu rapat terkunci, sehingga tak bisa menepis rasa sedih yang sedang menyelimuti hati.

Serupa dengan pengalaman sehari-hari kita. Saat hati ini dirundung duka, berita gembira tidak bisa kita terima dengan lapang dada. Justru kegembiraan malah membuat semakin sesak dada yang sedang penuh dengan tangisan duka.

Di sini kita belajar, bahwa mengubah duka menjadi gembira adalah lompatan sikap dari kita. Serupa dengan lompatan-lompatan lainnya, perlu banyak energy kita keluarkan dan gerak kaki yang kuat, dan mungkin kita akan mendarat dengan sakit karena kaki terantuk batu atau tangan harus mencengkeram apapun yang ada di depan kita. Namun bagi yang berani melompat, akan sadar bahwa dia sudah berpindah tempat. Berpindah dari duka kepada suka cita.

Gusti Yesus menampakkan diri kepada para murid dalam rentetan berbeda, untuk menarik mereka melompat keluar dari duka menuju pada suka cita. Memelekkan mata agar tak berhenti pada ratapan sedih karena kehilangan, namun menjadi nyanyian suka cita karena harapan yang terus menyala. Sebab, Kristus disalib untuk bangkit mulia, bukan untuk mati sia-sia.

Sebab itu, di akhir Injil hari ini, Gusti Yesus mengutus mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injjil (kabar gembira) kepada segala makhluk!

Dalam situasi yang membosankan karena wajah tertutup masker, dan berjarak karena physical distancing; kita tetap diutus untuk melompat dari rasa tidak berdaya menjadi pribadi yang penuh suka cita dan mewartakannya kemana-mana. Mari bergandengan tangan menebarkan suka cita Injil. Membagi gembira di manapun kita ada. Tuhan memberkati.

Amin

Berkah dalem

Ngulir budi adalah istilah Jawa yg menjadi gambaran tentang manusia yang berupaya dan terus berupaya, demi mencapai sesuatu hasil.

Memang, kita semua manusia dikaruniai akal, budi, rasa dan kehendak untuk mengatasi masalah. Selanjutnya, manusia bekerjasama satu sama lain untuk mengatasi apa yang disebut sebagai masalah bersama.

Masalah para murid usai penyaliban adalah mereka putus asa dan merasa jika semua perjalanan ini sia-sia.

Usai kematian Gusti Yesus, para murid kembali ke pekerjaan sehari-hari mereka, seperti Petrus dalam bacaan hari ini yang kembali menjadi Nelayan ( Yoh 21:1-14). Entah karena apa, semalam-malaman ia menebarkan jala namun tanpa mendapat ikan. Hingga, ada seseorang yang meminta mereka tebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Dan, dapatlah mereka ikan hingga hampir koyak jalanya. Saat itulah, mereka sadar bahwa yang di pinggir pantai itu adalah Tuhan Yesus.

Inilah cara yang dipilih oleh Gusti Yesus untuk menenguhkan iman para murid, dengan menampakkan diri dalam bacaan seminggu ini.

Membaca Injil hari ini, menjadi permenungan bagi saya, bahwa manusia boleh mengikuti rasa, akal, budi dan kehendaknya. Namun, ternyata yang berguna adalah mengikuti rasa, kehendak Dia.

Maka adalah kewajiban kita untuk mendengarkan bisikan dalam batin, dan mengarahkan budi, rasa dan kehendak kepada Nya. Dengan demikian, dari sejak awal hingga akhir, sebisa mungkin yang bekerja adalah Dia. Kita hanyalah hmba, alat Nya saja.

Ternyata hal itu tidak mudah, manakala masih ada kepentingan dalam diri untuk menonjol dan keinginan untuk dikenal. Dalam kondisi ini, kehendak kita yang dominan bekerja dan diri sendiri yang ingin diwartakan.

Dalam bacaan hari ini, Petrus pun spontan membuka baju dan berenang ke pantai karena ingin segera bertemu dengan Kristus, kekasih hati yang dirindu. Dan, nantinya kita akan melihat para murid yang ada dalam lingkar dalam Yesus Kristus menjadi rasul pewarta dan saksi kebangkitan. Sebab, kenyataan kebangkitan membuat mereka berani menyalibkan Ego mereka.

Hati mereka sudah terarah kepada langit. Sebab, mereka sada jika memiliki dunia hanyalah sia-sia belaka.

Dalam pandemi COVID-19, kita rayakan Paskah yang sederhana. Namun, justru makna Paskah semakin membuat kita bisa saling mengasihi dan berbela rasa. Ketika, kita saling peduli satu sama lain karena bencana yang sama kita rasa bersama.

Semoga Paskah ini membuat iman, harapan dan kasih kita semakin menyala dan mengecilkan ego kita masing-masing.

Tuhan memberkati. Amin

Berkah dalem

Pernah terjadi, kecelakaan sepeda motor di sebuah jalan raya. Polisi yang menangani kejadian, mencari di antara warga yang melihat untuk dijadikan saksi. Rerata, warga menolak permintaan ini karena, menjadi saksi itu susah, ikut semua sidang dan salah-salah malah terseret perkara. Itu adalah pikiran mereka, walau sejatinya tidak seperti itu. 

Menjadi saksi, adalah posisi penting untuk memutus sebuah perkara. Saking pentingnya posisi saksi dalam sebuah perkara, ada yang sanggup berikhtiar untuk membuat atau membeli saksi-saksi palsu.

Dalam Injil hari ini (Lukas, 24:35-38), Tuhan Yesus Kristus memberi penampakan kepada murid yang lain. Ini adalah penampakan kedua setelah penampakan kepada 2 murid di Emaus, kemarin. Di akhir bacaan, Gusti Yesus mengatakan jika mereka semua adalah saksi dari semuanya ini.

Mula awal penampakan, Gusti Yesus menyapa mereka dengan kalimat, damai sejahtera bagimu. Namun, bukan damai yang mereka rasakan tetapi justru adalah ketakutan, karena mereka berpikir telah melihat hantu. Maka, Gusti Yesus meminta makanan dan diberi sepotong ikan goreng. Cara ini rupanya meyakinkan mereka bila yang ada di hadapan mereka adalah sungguh-sungguh Gusti Yesus, sehingga tenteramlah hati mereka. Maka, Gusti Yesus lalu memberi wejangan tentang isi seluruh Kitab Suci.

Gusti Yesus juga menunjukkan bahwa penderitaan dan kebangkitan ada, sebagai penggenapan isi Kitab Suci. Dengan cara itu, para Murid diyakinkan bila kesengsaraan Miseas adalah kenyataan yang harus terjadi demi terjadinya keselamatan. Gusti Yesus pun menutup wejangan dengan meminta mereka semua menjadi saksi. Kamu adalah saksi dari semuanya ini...

Hal ini menjadi renungan tersendiri bagi kita semua, yang bertekun menekuni iman dan harapan. Bahwa, penderitaan, kesusahan dan kesedihan pasti ada ujungnya. Karena kita yakin dan percaya, bahwa Allah terus bekerja dalam situasi seperti apapun. Ada kehendak Allah yang terus bekerja, melalui apapun dan siapapun demi menjadikan segala sesuatu baik. Sebab, kehendak Bapa tidak pernah menyesatkan (Providentia Dei Non Valitur).

Maka, ketika kita tahu akhir dari sebuah kisah derita, susah dan sedih, dengan suka cita kita menjadi saksi atas karya baik Allah itu. Dari sebab itu, marilah tetap bertekun dalam iman dan harapan dengan terus menekuni sabda Tuhan. Agar, kita pun menjadi saksi-saksi karya baik Allah.

Tuhan memberkati. Berkah dalem. Amin