"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Hal berkumpul dan mengutarakan pendapat dilindungi oleh undang-undang di Negeri ini. Tak heran bila semangat musyarawah untuk mufakat, sudah kita pelajari sejak dari bangku Sekolah Dasar. Dari sebab itu, kita bisa berkumpul dengan siapa saja untuk membahas satu atau lebih perkara.

Semangat dari musyawarah untuk mufakat adalah menemukan kebijaksanaan dalam kebersamaan. Di sana, semua yang hadir mengemukakan yang baik menurut dia, sampai ada kata mufakat demi kebaikan semua.

Dengan demikian, tak ada yang menonjol dan memaksakan gagasannya sendiri sebagai yang terbaik. Namun, kebaikan itu dicari dalam kebersamaan. Serupa dengan beras yang ditaruh di ayakan (alat penampi), maka akan tersaringlah beras yang bagus dan ber-nas.

Hari ini, kita merenungkan Israel yang menjadi satu bangsa karena Tuhan Allah, sehingga Israel terbebaskan dari kenajisan (Bacaan I Yeh 37:21-28). Dengan cara itu, mereka mempunyai gembala yang akan menuntun langkah mereka menemukan kebenaran.

Dalam bacaan Injil (Yoh 11:45-56) kebersamaan itu masih tampak dalam diri orang Farisi, Ahli Taurat dan Mahkamah Agama. Mereka masih berkumpul untuk ber-mufakat. Namun hari ini, mereka telah bermufakat jahat sebab mereka telah sepakat untuk membunuh Yesus!

Menjadi permenungan tersediri untuk kita semua, bahwa kita berkumpul dan bermufakat tak selalu untuk menemukan kebenaran yang bijaksana. Ada pertemuan yang terselenggara, karena didorong karena rasa tidak suka yang sama. Ada pula pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang karena mempunyai niat sama, yaitu ingin menghakimi orang lain.

Manakala pertemuan itu terjadi, kita ingat pengalaman Yesus Kristus. Dia dijatuhi hukuman, karena sebelumnya sudah ada permufakatan jahat di antara beberapa orang. Dan, beberapa orang itu adalah para pemuka masyarakat dan Agama. Dengan cara itu, permufakatan yang semula hanya terdiri dari beberapa orang itu pada akhirnya bisa mempengaruhi banyak orang untuk ikut dan berteriak,”Salibkan Diaaaa…

Dalam jaman ini, bahaya untuk terlibat dalam permufakatan jahat ini tetap dan terus mengintip kita. Kebersamaan dan kedekatan kita dengan banyak orang, satu saat bisa mengajak kita masuk ke dalam permufakatan jahat itu.

Dari sebab itu, waspada dan hati-hati adalah sikap utama yang kita perlukan. Apalagi, bila kita sedang ada dalam situasi tak menentu, seperti hari ini karena virus corona. Kita perlu terus menerus hening dan bijaksana, jangan sampai ada pihak mengambil keuntungan sendiri dan yang lain dirugikan karena sebuah keputusan.

Dalam situasi tak menentu karena corona ini, mari kita saling ber-hikmat mencari petunjuk Tuhan. Agar kita bisa saling membantu dan meringankan. Sehingga, kita bersama-sama bisa melewati masa ini dengan tetap suka cita. Amin

Berkah dalem

 

Dalam keimanan Katolik, Imanuel adalah nama gelar yang disematkan untuk Tuhan Yesus. Imanuel berarti Allah beserta kita.


Iman ini mengajak kita untuk membangun keyakinan bahwa Allah baik, Allah ada, dan Allah menyertai kita semua.

Bacaan I hari ini (Yer 20:10-13), berkisah bagaimana Yeremia dibuat gentar dan takut. Setiap sudut seolah ada mata mengintai yang menunggu dia tersandung. Semua ingin mengadukannya.

Yesus dalam Injil hari ini (Yoh 10:31-42), pun dikisahkan serupa. Dia dikejar untuk dicari kesalahan-Nya lalu diadili.

Mungkin, kita juga mempunyai pengalaman yang mirip. Ketika, banyak mata mengintip, sekian telinga tertuju dan ada orang-orang yang mencari-cari kesalahan. Maka, membangun keyakinan bahwa Allah beserta kita - Imanuel, bukan perkara yang mudah.

Tak jarang pertanyaan mengapa ini terjadi, sering lebih menghantui dan menggelisahkan untuk mendapat jawaban segera. Dan akhirnya, sungguh kegelisahan itu yang memenuhi kalbu.

Dari sebab itu, keyakinan bahwa Allah menyertai kalah dengan gelisah dalam hati.

Serupa namun tak sama, ketika Corona merebak dimana-mana; pertanyaan mengapa terjadi dan bagaimana terjadi; lebih menarik dan menuntut jawaban segera. Keterangan dari banyak ahli (dan yang ditulis sebagai ahli) yang membanjiri kita, pun tak selalu membuat kita tenang. Bahkan, sering terjadi keterangan yang muncul justru membuat kita semakin gelisah.

Akhirnya kegelisahan-kegelisahan yang menumpuk, membuat kita semakin sulit untuk yakin dan percaya bahwa Allah sungguh menyertai kita.

Bukankah sejatinya kita semua dipanggil untuk hidup dengan suka cita karena Allah beserta kita (Imanuel)? Akan tetapi, kekawatiran dan cemas dunia membuat iman kita lelah dan lemah.

Allah tak lagi menjadi pusat hidup kita. Tuhan tak lagi menjadi andalan, ketika kita gampang digelisahka oleh aneka berita dan informasi.

Mari kembali kepada doa. Mari terus membangun keyakinan kita. Karena, semakin bertambah orang yang yakin bahwa semua ini akan berakhir baik, maka terjadilah seturut iman kita bahwa semua akan kembali baik. Amin

Berkah dalem

 

Pernah satu kali, ketika menyaksikan pelantikan dokter, bapak Pendeta yang duduk di sebelah saya membisik berkata;”Lihat Romo. Mereka yang jadi dokter, bapak, ibu atau bapak-ibunya juga dokter. Tapi, anak-anak saya tak satupun yang ingin menjadi Pendeta.” Saya jawab dengan singkat,”Sama Pak…” 

“Ahh… Romo..” Kata bapak Pendeta itu sambil pelan memukul bahu saya.

Ketika ada seorang anak melakukan sesuatu yang mengagumkan, terdorong hati ini untuk bertanya: siapa orang tuanya? Siapa kakek-neneknya? Bila kita menemu garis lurus yang menurut kita bisa menjelaskan sehingga anak itu bisa melakukan sesuatu yang mengagumkan, kita lalu tenang dan maklum untuk berkata: wajarlah kalau begitu. Begitu pula sebaliknya, kita akan menjadi heran ketika melihat anak itu biasa saja sedangkan dia lahir dari sebuah keluarga yang hebat.

Bacaan hari ini (Kej 17: 3-9, Yohanes 8: 51-59) berkisah yang kurang lebih sama. Bangsa Israel sangat bangga dengan bapa leluhurnya, Abraham. Yang menerima janji dari Allah Yahwe, untuk menjadi Bapa sejumlah besar bangsa. Oleh sebab itu, mereka sangat sakit hati ketika Yesus berkata; Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu, ia telah melihatnya dan ia bersukacita.

Kita bisa membayangkan kemarahan itu. Bapa Abraham telah dicoreng dan direndahkan oleh Yesus yang menurut mereka umurnya pun belum genap 50 tahun. Akan tetapi, Abraham yang telah diakui sebagai Bapa segala Bangsa, ternyata lebih kecil dari pada Yesus. Lebih sakit lagi hati Israel, sebab mereka tahu bahwa Yesus hanyalah anak tukang kayu.

Dalam konteks hidup jaman ini, sering terdengar bahwa Gereja lambat dalam bersikap terkait sesuatu. Sikapnya tidak sigap seperti yang diharapkan oleh kebanyakan dari kita semua. Di sini, saya mengerti bahwa tidak mudah menangkap maksud Tuhan melalui peristiwa. Serupa bangsa Israel yang tergagap untuk bisa mengerti maksud dari sabda dan karya Tuhan Yesus, waktu itu. Banyak dari orang Israel yang menolak Yesus.

Bagi sebagian Israel yang menerima dengan mengikuti Yesus kemana-mana, pun mereka salah mengerti kehendak-Nya. Sehingga, ketika Yesus Kristus harus sengsara memanggul salib tak ada satu pun murid yang menemani. Hanya sang ibu, Ibu Maria yang turut sampai kaki salib.

Berada dalam situasi ketika virus Corona menjadi pandemi di seluruh dunia, membuat kita juga bertanya: apa ini? Dari mana virus ini, dari Tuhan kah? Salah dan dosa siapakah, sehingga kita mengalami ini? Tuhaaan apa mau-Mu, belum cukupkah derita ini ?

Seliweran di telinga dan hati kita, telaah maupun tafsir dari banyak orang yang mencoba memberitahu kita apa di balik semua ini. Namun demikian, tetap tenang dan terus mengkaji dalam hening adalah langkah bijak saat ini. Kita percaya bahwa bila tiba saatnya, kita semua akan mengerti semua ini.

Lebih baik, kita menaruh perhatian bila ada saudari-saudara yang membutuhkan pertolongan yang ada di sekitar kita. Agar mereka tetap bersuka cita karena di dalam situasi yang tidak mudah ini, mereka tidak merasa sendirian. Apalagi para tenaga medis yang sampai saat ini terus bekerja melayani. Tak lupa juga para Pemimpin kita (Pemerintah & Agama), yang juga terus berupaya agar Bangsa kita bebas dari Pandemi.

Ini pesan yang paling jelas tampak dan perlu dukungan kita bersama. Mari kita semakin eratkan gandeng tangan dalam doa dan upaya. Semoga sungguh, suka cita itu bisa kita rasakan bersama-sama dengan semakin banyak orang.
Tuhan berkati
Berkah dalem

 

Suatu malam gelap, ada serombongan pemuda terpaksa melewati rerimbunan pohon bambu. Tak ada pilihan lain, harus lewat di situ supaya bisa segera sampai tujuan. Semua ketakutan, kecuali ada satu pemuda yang tetap teguh matanya. Tangannya mengusap dan meremas dada. Yang lain kemudian bertanya, mengapa dia lakukan itu? Ini adalah cara doa kepada Yang Mahakuasa, yang diajarkan simbahku, jawab si pemuda tadi.

Kisah itu menjadi pengingat bagi saya, bahwa kita semua sudah dikenalkan dengan Tuhan sejak kita masih kecil. Dengan cara yang berbeda, terpatri di batin ini sosok pencipta yang Agung, yang layak dimuliakan di tempat yang tinggi. Bayangan itu begitu indah dan mempesona, sehingga setiap Minggu saya turut dengan banyak saudara dari mana-mana, merayakannya di Gereja. Di sana, kisah tentang Tuhan itu dikumandangkan lagi oleh Romo.

Bacaan hari ini (Dan 3:14-28 & Yoh 8:31-42) pun berkisah tentang pergulatan memegang iman dan kebenaran.
Bacaan pertama, berkisah bagaimana Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengenangkan Tuhan yang diwariskan oleh leluhurnya ketika menghadapi api dari Raja Nebukadnezar. Mereka dibakar supaya mengkhianati Tuhannya, namun malahan mereka berjalan jalan di tengah api yang menyala.
Dalam Injil, Gusti Yesus juga menegaskan bahwa siapapun yang memegang sabda-Nya akan mengalami suka cita dan kemerdekaan. Merdeka dalam hal ini adalah bebas dari keinginan dan rasa manusia yang membuat kita tidak bebas untuk mengasihi. Orang-orang Israel yang mengaku cinta kepada Allah dan keturunan Abraham, terusik dengan kehadiran Yesus. Semua tindakan kasih Yesus pun tak sanggup meyakinkan mereka. Bahkan, tumbuh niat dalam hati mereka untuk membunuh Yesus.

Dari sejak kecil, samar-samar Allah sudah kita tahu dan kenali. Makin hari, Allah itu makin tampak dan makin jelas. Gambaran Dia yang dulu jauh, terasa semakin dekat dan nyata. Itu semua terjadi dan dialami, oleh semua yang terus bertekun dalam doa dan pasrah kepada Nya.

Dan, sebaliknya, Allah terasa semakin jauh dan tak jelas, bagi mereka yang terus memikirkan dan mendiskusikan Allah, namun tanpa berdoa.

Dalam situasi dengan Corona di seputaran kita, ada yang semakin teguh imannya namun ada pula yang semakin ragu: Tuhan ada dimana? Ada yang semakin hati-hati dan waspada dalam hidup, namun ada pula yang semakin tak peduli dengan hidupnya.

Isolasi mandiri dan corona, menjadi saat yang sungguh istimewa untuk masing-masing kita bertanya: Allah yang seperti apa yang aku Imani? Apakah Allah itu jelas dan terus aku pegang sebagai andalan, atau sesekali saja, ketika butuh aku pergi kepada-Nya? Dan, lebih lagi, apakah Allah yang kita Imani itu, pun kita wariskan kepada anak kita dengan baik? Semoga kita merasakan semakin bisa bersyukur dengan apa yang ada, berterima kasih dengan apa yang kita miliki. Dan, kita semua semakin yakin bahwa Allah sungguh beserta kita. Amin

Tuhan memberkati
Berkah Dalem

Ingatan saya menerawang ketika keluarga kami mendapat ater-ater, yaitu makanan lengkap dalam ceting bambu berisi nasi lengkap dengan sayur kentang-krecek, tempe, bihun goring, telur, dan ayam goreng. Ater-ater adalah makanan yang dikirim dari keluarga yang sedang hajatan, setelah keluarga kita menyumbang. Itu adalah kebiasaan yang sudah diwarisi lama sebagai bagian dari tradisi jawa, ketika mempunyai hajat (ewuh).

Entah ingatan saya tiba-tiba ke sana. Mungkin karena suatu ketika, kami se-keluarga makan bersama dengan menu ater-ater itu. Dan, di atas amben (bale bambu) kami duduk mengelilingi menu yang ada. Pada kesempatan itu, bapak, sebagai kepala keluarga, dipersilahkan mengambil makanan terlebih dahulu.

Melihat bapak mengambil lebih dahulu menjadi sebuah kewajaran yang biasa, bahkan dengan rasa kerelaan sepenuhnya. Sebuah pengakuan tanpa perlu penjelasan bahwa bapak layak mendapat kesempatan lebih dahulu, karena bapak adalah bapak keluarga. Beliau adalah kepala keluarga kami.

Dalam tata kehidupan sosial yang lebih luas, kita melihat “bapak-bapak” yang lain, yang tak selalu pria. Yang kita akui dan dengan rela hati kita dahulukan. Beliau-beliau adalah para pemimpin yang kita pilih dengan gembira dan diutus untuk didaulat menjadi pengayom kita semua. Maka, dalam aneka acara formal maupun informal, kita terdorong untuk tetap mendahulukan beliau.

Mengapa kita melakukan itu? Karena kita ingin menghormati, dan lebih lagi karena kita ingin memuliakan beliau. Bahkan, secara terbuka dalam aneka sambutan pun istilah itu tampak tiap kali yang berbicara menyebut kalimat: kepada yang terhormat ….. yang kami muliakan.

Kadar rasa memuliakan beliau yang kita anggap sebagai pengayom ini yang muncul ketika merenungkan seluruh bacaan hari ini (Bil 21:4-9 & Yph 8:21-30). Umat Israel yang semakin kelelahan dalam perjalanan keluar dari Mesir mulai mengeluh, sehingga disuruh ular-ular tedung memagut mereka. Maka, Musa membuat ular tedung dari tembaga yang ditinggikan. Sehingga, Israel yang terpagut ular menjadi sembuh tiap kali memandang ular itu. Dalam bacaan Injil, kita pun diingatkan perlunya meninggikan Dia supaya kita tahu bahwa Dia-lah utusan Tuhan.

Dalam rumah kita pun, salib atau gambar Dia kita pasang tinggi sebagai tanda kita memuliakan Allah.

Menjadi renungan tersendiri di jaman yang semakin maju ini, banyak wajah kita pajang di applikasi social media kita. Wajah itu adalah artis, idola atau bahkan foto kita sendiri. Dengan cara tertentu, kita pun melakukannya karena ingin memuliakan, yang berarti menempatkan di tempat yang istimewa. Apakah salah? Tentu bukan soal salah dan benar renungan kita. Hanya sebuah pertanyaan, bila sedemikian besar kagum kita pada mereka, apakah demikian besar pula kagum kita kepada Dia? Dan, apakah kita telah memberi tempat mulia dengan pantas untuk Nya?

Dalam situasi hari ini yang rawan karena COVID-19, kita menemu situasi istimewa dimana kita semua mengalami isolasi mandiri. Yang biasa aktif dan bekerja, pun tiba-tiba seolah menjadi pengangguran. Semua orang tiba-tiba merasa tak berdaya dengan keadaan ini. Namun, situasi ini juga menjadi saat istimewa untuk mengolah secara spiritual kenyataan, bahwa memang kita hanyalah ciptaan yang tak berdaya tanpa Dia. Bukankah selayaknya kita memuliakan Nya?

Dengan tetap tekun mendoakan para pemimpin, tenaga medis, dan semua relawan atau bahkan turut serta menjadi relawan yang terukur (siap dengan kondisi dan situasi yang dihadapi, siap dengan segala kelengkapan yang diperlukan) adalah cara kita memuliakan Dia sebagai orang ber-iman. Sebab, dengan cara itu, kita terus membangun percaya bahwa Tuhan bekerja dan menggunakan kita sebagai alat-Nya.

Tetap kreatif, tinggal di rumah, Tuhan memberkati

Berkah Dalem