"Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Yohanes K. Sugiyarta

Yohanes K. Sugiyarta

Sebagai orang Jawa (tradisi ketimuran), naluri yang ada dalam diri kita mengajak kita untuk ber-saudara dengan sebanyak mungkin orang. Maka, bila kita bertemu dengan orang yang baru, cenderung kita akan bertanya: dari mana? Kemudian di daerah yang disebutkan itu, kita akan mengingat punya kenalan siapa.

Selanjutnya, Kita akan menghubung-hubungkan garis saudara atau pertemanan kita. Dan, kita akan merasa senang bila ternyata kenalan baru ini mempunyai hubungan saudara dengan saudara kita, atau hubungan pertemanan dengan teman kita. Pada intinya, kita senang bila kita menemukan hal yang bisa membuat kedekatan kita menjadi lebih dekat lagi.

Rasanya, jiwa sosial orang Timur erat ditandai dengan mencari kesamaan di antara kita semua. Kesamaan itu lalu berlanjut dengan mencari hal lain yang serupa, semisal hobby, kesenangan, pekerjaan, atau cara pandang politik dan seterusnya.

Kesamaan yang ditemukan membuat kita merasa semakin mengenal dan dekat. Sehingga obrolan/diskusi semakin gayeng (heboh) kendati baru saja bertemu.

Hubungan pun makin meningkat sampai menjadi sebentuk relasi yang menyentuh emosi. Emosi atau rasa yang membuat kita mengakui, kita saudara dan saling peduli satu sama lain.

Sebaliknya bila tidak saling kenal, maka kita pun enggan bertegur sapa atau saling mendekat.

Pada masanya, Gusti Yesus pun mengalami hal serupa. Ada sebagian yang mengenal Dia namun banyak pula yang tidak mengenalnya. Ada yang ingin mengikuti-Nya, namun ada pula yang ingin membunuh-Nya. (Injil hari ini, Yoh 7:1-2.10.25-30)

Menjadi pertanyaan untuk kita, apakah kita pun mengenal Dia? Kita bayangkan, andai Gusti Yesus bertanya kepada kita satu-satu: Siapakah Aku?

Apakah jawab saya?

Bila saya menjawab, saya mengenal Dia; aapakah saya juga melakukan apa yang menjadi perintah Nya?

Dalam situasi saat ini, ketika banyak orang cemas dan kawatir karena COVID-19, adakan kesempatan nyata mewujudkan kasih dan persaudaraan dengan berupaya untuk membagi semangat positif untuk orang-orang terdekat dan sekitar kita. Bila ada berita yang negatif, kita coba tahan dan renungkan bila hendak membagikan berita itu. Sebab, kita sungguh perlu tahu, siapa yang akan membaca berita ini. Mari terus saling mendukung upaya menghapus COVID-19, sebagai wujud kasih dan persaudaraan di antara kita.

Mendukung dengan berdoa (entah sambil nyalakan lilin atau tidak) adalah upaya yang tak kalah pentingnya. Hari ini, berama Bapa Paus kita berdoa jam 24.00 (jam 18.00 waktu Italy) dan menerima berkat Urbi et Orbi sambil berharap kemungkinan untuk mendapat indulgensi penuh.

Tuhan menjagai kita semua, dan mari tetap membangun rasa ber-saudara kendati sudah jarang berjumpa.

Tuhan memberkati
Berkah dalem

Suatu ketika ada yang bertanya, mengapa kita harus mengikuti Yesus yang sering diajarkan sebagai jalan,kebenaran dan hidup? Bukankah kita ini dicipta bebas untuk menentukan jalan hidup kita masing-masing?

Apalagi di era komunikasi digital seperti ini. Banyak bacaan yang bisa kita pakai. Bacaan terusan dari sosial media pun banyak yang keren. Sedang, membaca Kitab Suci itu membosankan, tulisannya kecil dan tidak ada gambarnya.
*

Sebetulnya, adalah serupa jelajah alam di sebuah gunung dengan puncak gunung sebagai finish-nya.

Kita diberi kebebasan untuk menentukan arah dan jalan yang mau kita lewati. Namun, kita tidak tahu, di depan apakah ada jalan yang bisa membawa kita menuju puncak atau tidak. Apalagi gunung ini mempunyai hutan yang sangat lebat.

Dari sebab itu, Tuhan Yesus memberi jalan dengan sabda: Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Barangsiapa mengikuti Aku akan menemukan hidup yang kekal

Jadi, ini adalah pilihan. Menentukan jalan sendiri yang berujung penyesalan karna sudah salah jalan. Atau, sejak sekarang terus belajar mengenali Tuhan Yesus agar kita selamat sampai tujuan. Pilih yang mana?

Kita tahu bahwa semua Agama mempunyai Kitab Suci. Kita tahu, Kitab itu disebut Suci karena menuntun manusia menuju keselamatan abadi.

Namun, tak selalu kita mau untuk membacanya demi menemu Sang Sumber Hidup itu sendiri... Janganlah kita menjadi Ahli Kitab yang ditegor Gusti Yesus dalam bacaan hari ini (Yoh 5:31-47).

Ahli Kitab itu menyelidiki Kitab Suci dan mereka menemu nubuat tentang Gusti Yesus. Namun, mereka tidak mau datang kepada-Nya. Serupa kita, yang mengenal siapa Gusti Yesus karna Baptisan, namun tidak mau datang dan mengikuti Dia.

Kita juga tahu ada aneka nasehat bijak selama Pandemi Corona (COVID-19) ini. Kita diajak menebarkan berita positif yang membangun optimisme, namun masih banyak yang posting berita menakutkan yang membesarkan ketakutan. Kita tahu dalam menggunakan sosial media, kebenaran informasi (validitas) diperlukan, namun kita kadang masih latah untuk meneruskan berita yang kita sendiri belum yakin kebenarannya.

Prapaskah 2020 ini, kita masih menggenggam semangat untuk bertobat, terlibat, dan menjadi berkat. Dari rumah kita masing-masing, kita terus berupaya berubah untuk menjadi orang yang suka membagikan semangat yang positif. Ini adalah wujud keterlibatan nyata kita. Agar semua, boleh menemukan jalan, kebenaran dan hidup: secara khusus untuk tim medis yang masih terus berupaya keras demi selamat kita semua.

Semoga Tuhan memberkati kita semua

Amiinn
Berkah dalem

Hari ini, tema renungan masih tentang suka cita. Malahan dalam liturgi, hari ini adalah Hari Raya Suka Cita.

Bila mengenang pengalaman suka cita dalam hidup kita, ditemukan banyak bentuk pengalaman suka cita berbeda-beda.

Alkisah, ada anak kecil yang yang merengek sambil mempertontonkan tangisan histeris di kampungnya. Pasalnya, di kampung sedang ada tontonan dan, seperti biasa, ada banyak penjual mainan. Anak itu merengek dibelikan mainan ke ibunya. Dan, ketika ibunya diam saja, anak itu menangis tak ketulungan sambil mengejar ibunya kemana saja si ibu pergi. Si ibu hanya berjalan tanpa menanggapi tangisan si anak.

Si ibu sebentar pergi ke satu rumah tetangga, sebentar kemudian ke rumah tetangga lainnya. Lama kemudian, si ibu mengajak anak yang menangis keini ke tukang mainan. Ini adalah tanda-tanda baik.

Tangis anak itu mereda. Dan, melihat si ibu memberikan uang ke tukang mainan, itu kabar gembira tak terkira. Apalagi saat tukang mainan mengambil mainan yang dimaui dan menyorongkan ke anak tadi, langsung wajahnya berbinar dengan suka cita.

Lalu si anak dengan gagah datang ke teman-temannya, sambil menunjukkan mainan barunya. Dia lupa bahwa tangisannya sudah menjadi tontonan gratis sepanjang waktu tadi.

Itulah suka cita yang dikabarkan dalam renungan saya. Anak yang menangis sudah gembira, dan dengan gembira pula membagi kegembiraannya ke teman-temannya. Tapi, dia tidak menceritakan bagian si ibu yang pergi dari rumah tetangga yang satu ke yang lainnya. Dia tidak tahu, untuk apa ibunya pergi ke rumah tetangga.

Dia tidak tahu bahwa, ibunya pergi ke rumah tetangga untuk mencari pinjaman uang.

Hari ini, Kabar Suka Cita menjadi Hari Raya (Luk 1:26-38). Di balik kabar suka cita ini, kita juga perlu untuk melihat kenyataan bahwa Ibu Maria harus mengambil resiko, hamil di luar nikah. Ini adalah keputusan ber-resiko besar. Apalagi ia sudah ber-tunangan. Di bagian yang lain, kita membaca bagaimana tunangannya pun berencana meninggalkan Ibu Maria diam-diam.

Kita bisa simpulkan bahwa di balik kabar suka cita, ada korban luar biasa. Serupa korban si ibu, demi suka cita si anak di atas.

Dalam situasi terkahir ini, di balik kabar suka cita karena ada sdri/sdr yang sembuh dari COVID-19, kita juga mendengar berita kabar meninggalnya beberapa tenaga medis. Untuk upaya penemuan vaksin yang berguna untuk menangkal virus ini, ada banyak orang bekerja keras dan menanggung resiko terpapar penyakit itu.

Di balik suasana calm down atau lock down demi keselamatan banyak orang, ada banyak pribadi tetap terus bergerak secara terukur demi turut serta menjaga kesehatan dan mengurangi dampak buruk COVID-19.

Itu semua korban, yang menjadi kabar suka cita paling dekat dalam pengalaman kita saat COVID-19 mencemaskan banyak orang.

Mari, bersama Paus Fransiskus, mendoakan doa Bapa Kami pada Rabu (25/3/2020) jam 12.00 untuk mengenangkan Bunda Maria mendapat kabar suka cita bersamaan dengan doa Angelus

Semoga, kita semua disatukan dalam rasa hati yang sama yaitu, rasa kasih, sayang, persaudaraan yang universal. Semoga banyak pihak yang terlibat dikuatkan, demi menangkal COVID-19.

Doa-doa kita semua, akan menjadi pula kabar suka cita dalam bentuk yang berbeda.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Amin

Berkah Dalem

Bangunlah adalah kata pertama yang dipakai oleh Gusti Yesus ketika menyembuhkan orang lumpuh di kolam Betesda.

Mukjijat terjadi lagi hari ini, sehingga refrein suka cita menggema lagi dalam batin kita yang membaca dan merenungkan sabda. Kita semua diingatkan bahwa Gusti Allah sungguh hadir dan menemani perjalanan kita.

Dari antara kita, ada yang menghayati panggilan sebagai selibater, tidak menikah dan panggilan hidup ber-keluarga. Di atas semua itu, kita semua dipanggil untuk bahagia karena karya baiknya...

Ada kisah ketika seseorang selalu merasa hatinya teriris ketika mengingat sebuah peristiwa. Seluruh waktu terasa gelap dan sesak, manakala teringat pengalaman itu. Marah dalam hati tiba-tiba terasa menggunung seperti mau pecah. Sekian lama, dia tidak bisa melihat suka cita. Sekian lama pula hatinya tak sanggup merenung tentang Gusti Allah yang maha baik.

Namun, ketika hatinya bisa menerima dan mengampuni seketika itu pula suka cita memenuhi hati. Bagaikan taman, hatinya penuh dengan bunga warna warni dan keharuman. Dengan mudah, bibirnya menyunggingkan senyuman dan melontarkan sapaan ramah yang jenaka.

Harinya terasa ringan dan apapun yang terjadi baik yang menyenangkan maupun tidak, hatinya tak lagi gampang was-was dan kawatir..

Bangunlah adalah sabda yang membuat kita terhenyak dan bangkit. Bangunlah menjadi kata yang penuh dengan daya agar kita meninggalkan pikiran manusia kita dan mengikuti Gusti. Sebab, seperti orang lumpuh itu, ketika ia percaya dan bangkit ia disembuhkan Gusti

Sering kita mengatakan sulit. Memberi maaf seolah kita memberi anugerah tak terkira. Padahal, memberi maaf sebetulnya adalah upaya kita menyembuhkan diri sendiri.

Dalam masa pertobatan ini, pergulatan kita adalah dua (2), yaitu pertama membangun penyesalan untuk mendapat pengampunan dan kedua membangun suka cita agar bisa mengampuni.

Maka, bangunlah menjadi ajakan untuk kita semua menjadi sembuh dan mengembalikan hati kita penuh dengan suka cita. Inilah panggilan hakiki kita semua.

Banyak karya baik Gusti Allah mengalir bagaikan air (bacaan I, Yeh 47:1-9.12) yang membuat kita ber suka cita. Namun, penderitaan manusia (Yoh 5:1-16) membuat kita sulit bersuka cita mengidungkan pujian Mazmur hari ini

Sdri/sdr... Kendati Corona masih meliputi media sosial dan berita, mari bangunlah jangan kehilangan suka cita. Agar hati kita tidak dipenuhi rasa was-was dan kawatir. Kita doakan para pejuang kita, tim medis yang berjibaku demi kesehatan kita semua kendati kelelahan dan minim alat perlindungan diri. Kita doakan juga semua saudara yang bekerja harian, yang membuat mereka terpaksa pergi dari rumah. Semoga semua mengupayakan PHBS (Pola Hidup Bersih & Sehat) dengan baik.

Dengan percaya dan suka cita, kita doakan semua agar tetap bergembira dan sehat menjalani semua tugas dan pekerjaan agar Corona segera dituntaskan.

Tuhan memberkati kita semua

Berkah dalem

Bagi orang kebanyakan, sinyal adalah hal pertama yang dicari ketika berada di tempat yang baru sebab, pada hakikatnya semua orang ingin terhubung dengan yang lain.
Update status, komen, like maupun subscribe adalah cara yang dipakai sebagai penanda bahwa kita sudah terhubung. Dan, ada yang sangat gelisah dan kesepian manakala signal tidak ada, walaupun dia sedang berada dalam kerumunan keluarganya.
Sinyal atau signal berarti adalah tanda atau isyarat. Ternyata dari dulu, manusia memang sudah akrab dengan tanda-tanda. Bahkan, untuk mengingat sebuah peristiwa manusia menciptakan manumen, prasasti, atau tugu dsb sebagai tanda. Nama pun diberikan kadang mencerminkan terjadinya proses kelahiran yang empunya nama. Foto yang dipajang di dinding pun ada menjadi tanda.
Semua tanda itu, menjadi penghubung kita dengan peristiwa yang pernah terjadi entah berapa lama yang lalu. Tanda itu membuat kenangan, bayangan, dan imaginasi kita bertaburan dengan leluasa memenuhi kerinduan batin. Tanda yang tanpa dimaui membuat kita tertawa sendiri atau, tiba-tiba menitikkan air mata.
Mengait pada COVID-19 yang merebak belakangan ini, kita juga meraba tanda apakah di balik semua ini? Ada rasa ngeri, kawatir, takut dan was-was melihat banyaknya korban. Namun, ada pula rasa haru, tangis dan kepedulian melihat tim kesehatan yang bekerja keras menjalankan tugas.
Hari ini, Hari Biasa Pekan Prapaskah IV, Gusti Yesus dikisahkan pergi lagi ke Kana dan Galilea. Dua tempat dimana Gusti Yesus pernah membuat tanda dan mukjizat. “JIka kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”, kata Gusti Yesus…
Dalam masa krisis seperti ini, rasanya sulit menahan kalimat permohonan agar Tuhan membuat mujizat, tidak keluar dari mulut dan batin kita. Inginnya, kita memohon terus agar mujizat itu terjadi lagi dan segeralah krisis ini pergi. Tetapi, kenapa rasanya malu merengek mujizat itu kepada Tuhan ya?
Seolah meminta tanda membuat saya merasa malu bila nanti dikatakan sebagai orang yang kurang percaya. Kurang percaya bahwa Gusti ada bersama saya, entah apapun situasinya. Seperti pegawa istana dalam bacaan hari ini, dia memohon agar anaknya dihidupkan. Gusti hanya bersabda dan pegawai istana itu percaya, maka sembuhlah anaknya dan hidup!
Saya seperti sedang diingatkan untuk percaya saja. Terus berupaya dan berdoa, dan terus percaya. Gusti juga turut bekerja bagi mereka yang bekerja. Gusti juga turut mencari, bagi mereka yang mencari solusi. Gusti juga turut menangis, bagi mereka yang sedang dilanda kesedihan. Gusti ada bersama kita.
Saudari-saudara, janganlah kecemasan dan ketakutan membuat kita lupa bersuka cita, sebab sesungguhnya Tuhan menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorai, dan penduduknya penuh kegirangan (Yes 65:17-21)
Mari saling mendoakan dan membagi semangat penuh sorak sorai dari rumah kita masing-masing, sebab Tuhan beserta kita.
Amin
Berkah Dalem