Rm Banu April 2020 (25)
USAHA & HASIL
Rabu, 19 Agustus 2020 12:01
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Ngulir budi adalah istilah Jawa yg menjadi gambaran tentang manusia yang berupaya dan terus berupaya, demi mencapai sesuatu hasil.
Memang, kita semua manusia dikaruniai akal, budi, rasa dan kehendak untuk mengatasi masalah. Selanjutnya, manusia bekerjasama satu sama lain untuk mengatasi apa yang disebut sebagai masalah bersama.
Masalah para murid usai penyaliban adalah mereka putus asa dan merasa jika semua perjalanan ini sia-sia.
Usai kematian Gusti Yesus, para murid kembali ke pekerjaan sehari-hari mereka, seperti Petrus dalam bacaan hari ini yang kembali menjadi Nelayan ( Yoh 21:1-14). Entah karena apa, semalam-malaman ia menebarkan jala namun tanpa mendapat ikan. Hingga, ada seseorang yang meminta mereka tebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Dan, dapatlah mereka ikan hingga hampir koyak jalanya. Saat itulah, mereka sadar bahwa yang di pinggir pantai itu adalah Tuhan Yesus.
Inilah cara yang dipilih oleh Gusti Yesus untuk menenguhkan iman para murid, dengan menampakkan diri dalam bacaan seminggu ini.
Membaca Injil hari ini, menjadi permenungan bagi saya, bahwa manusia boleh mengikuti rasa, akal, budi dan kehendaknya. Namun, ternyata yang berguna adalah mengikuti rasa, kehendak Dia.
Maka adalah kewajiban kita untuk mendengarkan bisikan dalam batin, dan mengarahkan budi, rasa dan kehendak kepada Nya. Dengan demikian, dari sejak awal hingga akhir, sebisa mungkin yang bekerja adalah Dia. Kita hanyalah hmba, alat Nya saja.
Ternyata hal itu tidak mudah, manakala masih ada kepentingan dalam diri untuk menonjol dan keinginan untuk dikenal. Dalam kondisi ini, kehendak kita yang dominan bekerja dan diri sendiri yang ingin diwartakan.
Dalam bacaan hari ini, Petrus pun spontan membuka baju dan berenang ke pantai karena ingin segera bertemu dengan Kristus, kekasih hati yang dirindu. Dan, nantinya kita akan melihat para murid yang ada dalam lingkar dalam Yesus Kristus menjadi rasul pewarta dan saksi kebangkitan. Sebab, kenyataan kebangkitan membuat mereka berani menyalibkan Ego mereka.
Hati mereka sudah terarah kepada langit. Sebab, mereka sada jika memiliki dunia hanyalah sia-sia belaka.
Dalam pandemi COVID-19, kita rayakan Paskah yang sederhana. Namun, justru makna Paskah semakin membuat kita bisa saling mengasihi dan berbela rasa. Ketika, kita saling peduli satu sama lain karena bencana yang sama kita rasa bersama.
Semoga Paskah ini membuat iman, harapan dan kasih kita semakin menyala dan mengecilkan ego kita masing-masing.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
SAKSI
Rabu, 19 Agustus 2020 11:58
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Pernah terjadi, kecelakaan sepeda motor di sebuah jalan raya. Polisi yang menangani kejadian, mencari di antara warga yang melihat untuk dijadikan saksi. Rerata, warga menolak permintaan ini karena, menjadi saksi itu susah, ikut semua sidang dan salah-salah malah terseret perkara. Itu adalah pikiran mereka, walau sejatinya tidak seperti itu.
Menjadi saksi, adalah posisi penting untuk memutus sebuah perkara. Saking pentingnya posisi saksi dalam sebuah perkara, ada yang sanggup berikhtiar untuk membuat atau membeli saksi-saksi palsu.
Dalam Injil hari ini (Lukas, 24:35-38), Tuhan Yesus Kristus memberi penampakan kepada murid yang lain. Ini adalah penampakan kedua setelah penampakan kepada 2 murid di Emaus, kemarin. Di akhir bacaan, Gusti Yesus mengatakan jika mereka semua adalah saksi dari semuanya ini.
Mula awal penampakan, Gusti Yesus menyapa mereka dengan kalimat, damai sejahtera bagimu. Namun, bukan damai yang mereka rasakan tetapi justru adalah ketakutan, karena mereka berpikir telah melihat hantu. Maka, Gusti Yesus meminta makanan dan diberi sepotong ikan goreng. Cara ini rupanya meyakinkan mereka bila yang ada di hadapan mereka adalah sungguh-sungguh Gusti Yesus, sehingga tenteramlah hati mereka. Maka, Gusti Yesus lalu memberi wejangan tentang isi seluruh Kitab Suci.
Gusti Yesus juga menunjukkan bahwa penderitaan dan kebangkitan ada, sebagai penggenapan isi Kitab Suci. Dengan cara itu, para Murid diyakinkan bila kesengsaraan Miseas adalah kenyataan yang harus terjadi demi terjadinya keselamatan. Gusti Yesus pun menutup wejangan dengan meminta mereka semua menjadi saksi. Kamu adalah saksi dari semuanya ini...
Hal ini menjadi renungan tersendiri bagi kita semua, yang bertekun menekuni iman dan harapan. Bahwa, penderitaan, kesusahan dan kesedihan pasti ada ujungnya. Karena kita yakin dan percaya, bahwa Allah terus bekerja dalam situasi seperti apapun. Ada kehendak Allah yang terus bekerja, melalui apapun dan siapapun demi menjadikan segala sesuatu baik. Sebab, kehendak Bapa tidak pernah menyesatkan (Providentia Dei Non Valitur).
Maka, ketika kita tahu akhir dari sebuah kisah derita, susah dan sedih, dengan suka cita kita menjadi saksi atas karya baik Allah itu. Dari sebab itu, marilah tetap bertekun dalam iman dan harapan dengan terus menekuni sabda Tuhan. Agar, kita pun menjadi saksi-saksi karya baik Allah.
Tuhan memberkati. Berkah dalem. Amin
KESEDIHAN - Emaus
Rabu, 19 Agustus 2020 11:56
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Kita mungkin pernah melihat kesedihan yang teramat sangat, atau bahkan mungkin pernah mengalaminya sendiri.
Kesedihan membuat seseorang enggan, malas, tak lagi semangat bergerak. Kesedihan membuat kehidupan tak lagi terasa hidup dan indah.
Dalam kisah Injil hari ini (Rabu dalam Oktaf Paskah, Injil Lukas 24:13-35), murid Emaus saking sedihnya tak lagi bisa mengenali siapa yang sedang diajak bicara. Kecewa yang besar telah menguasai batin dan pikiran mereka, sehingga Gusti Yesus yang menjadi teman perjalanan pun tak mereka kenali. Sampai tiba saatnya, Dia berdoa dan mengangkat roti. Saat itulah, 2 murid itu mengenali Dia.
Dan, saat itu pulalah tumbuh kembali api hidup dan harapan mereka. Yang semula dipandang sia-sia dan percuma, ternyata salah. Tuhan sungguh bangkit. Maka, 2 orang murid ini pun meninggalkan Emaus dan kembali ke Yerusalem.
Dalam hidup ini pun kita sering mengalami. Kita pernah ada dalam situasi ketika merasa bahwa hidup ini gelap, tak lagi ada harap. Hidup ini sepi, tak lagi ada arti. Hidup ini tak lagi ada makna untuk diperjuangkan.
Dalam situasi seperti itu, ada saja orang yang diutus Tuhan untuk menjadi rekan seperjalanan kita (seperti perjalanan ke Emaus) dan menerangkan isi Kitab Suci*. Kita yang semula gelap, tanpa harap, letih dan lesu tanpa semangat; tiba-tiba dikobarkan dan kembali bangkit menatap kehidupan. Pada saat itulah, kita merasakan pengalaman 2 murid yang ditemani Gusti Yesus dalam perjalanannya pulang ke Emaus.
Bersyukurlah kita semua, manakala ada teman, sahabat dan saudara dikirimkan kepada kita. Dan, Tuhan menggunakan mereka semua sebagai cara untuk menyapa kita. Sebab itu, dalam situasi seperti apa (termasuk COVID-19 ini), kita tetap diajak percaya bahwa Bapa terus berkarya seperti yang dialami 2 orang murid ini.
Maka, harapan tak boleh padam. Tuhan memberkati. Berkah dalem
Amin
TUGURAN
Rabu, 19 Agustus 2020 11:54
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Tuguran kali ini semakin terasa maknanya. Ketika Gusti Yesus yang sendirian di Taman Gestsemani, semakin terasa sepinya.
Tak seperti Kamis Putih tahun-tahun lalu, bergiliran kita berjaga di depan Sakramen Mahakudus. Malam ini, Dia tersimpan rapi di Tabernakel. Sendirian saja..
Pagi ini, Yesus Kristus dijemput paksa oleh Tentara Roma. Dibawa ke Pengadilan, tanpa kawan. Sendirian saja..
Sore hari, kita akan mengenangkan ketika Tuhan Yesus menapaki kisah sengsara; memanggul salib mendaki ke puncak Golgota. Sakit, siksa, terluka sampai wafat. Dan, sekali lagi Tuhan Yesus sendirian..
Sepi, dan sedih sekali rasanya..
Kesepian semakin menggigit tatkala melihat Gereja tanpa hiasan seperti biasa. Nada dan lagu pun tiada menghias udara. Organ dan gamelan, sejenak mengiringi keheningan perayaan.
Hari Raya tanpa perayaan.. sungguh menyedihkan.
Namun, sungguhkah Tuhan merasa sepi dan sedih seperti yang kita rasakan?
Gereja memilih kisah Sengsara versi Injil Yohanes untuk direnungkan pada Jumat Agung ini. Dalam kutipan Injil Yohanes yang menjadi bacaan Kamis Putih, dikisahkan jika Tuhan Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
Dia sudah tahu! Artinya: semua sudah dimengerti dan diterima oleh Yesus. Semua yang akan terjadi, sudah ada dalam rencana Nya. Secara sederhana sebagai manusia, saya mengerti seperti sakit yang kita alami. Ketika tanpa sengaja pantat kita menduduki paku, kita akan berteriak kaget dan mungkin marah. Namun, saat jarum suntik menembus pantat kita untuk memasukkan obat, kita menerima sakitnya dengan tenang. Serupa sakitnya, namun beda rasanya.
Maka, dalam kisah Sengsaranya, Yohanes pun mau berkisah bahwa Yesus memang terluka, terhina, dan sakit. Namun, Salib tidak membuatnya menderita. Sebab Salib adalah cara kematian yang dipilih sesuai rencana Nya. Dengan mati di kayu Salib, Dia tergantung antara langit dan bumi. Menjadi cara nyata untuk menempatkannya di tempat yang tinggi. Dia memang mati di kayu salib. Namun kemudian, Dia akan bangkit sebagai bukti bahwa Dia telah mengalahkan maut. Dan, sebagai bukti bahwa jalan kasih telah mengalahkan kegelapan.
Salib tak lagi menjadi lambang kesia-siaan yang membuat kita putus asa. Namun, memandang salib membuat kita terpesona akan rencana kasih Allah untuk menyelamatkan manusia. Dengan caranya itu, Dia telah memberikan jalan kasih untuk kita, sehingga kita bisa mengalahkan kuasa kegelapan.
Selamat merenungkan Jumat Agung, di rumah kita masing-masing. Mari kita buka Kisah Sengsara menurut Yohanes, sembari kita memandang salib yang ada di rumah kita masing-masing. Salam dan doa.
Berkah dalem
KEBERSAMAAN
Rabu, 19 Agustus 2020 11:51
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Sejak semula, manusia dicipta unik sebagai pribadi. Bahkan ketika dia adalah anak kembar, tetap saja ada yang unik; membuat yang satu berbeda dengan yang lain. Keberbedaan itu membuat kita perlu membangun hidup dalam kebersamaan. Bahkan bila seseorang sangat mampu dalam segalanya, dia tetap membutuhkan orang lain. Orang lain yang berperan sebagai asisten, karyawan, suruhan; atau orang yang menjadi partner dalam diskusi dst.
Pada hakikatnya, tidak mungkin orang bisa hidup soliter (sendiri) mutlak, dan tidak pernah berjumpa dengan orang lain sama sekali.
Namun, memang adalah benar bahwa hidup bersama tak selalu menyukakan. Ada saja hal yang bisa menjadi alasan untuk berduka dalam menekuni hidup bersama. Keunikan pribadi sering menjadi sebab adanya ketidakcocokan, yang kemudian berujung pada perpecahan.
Karena perbedaan adalah kenyataan yang tak bisa kita hindarkan, apa yang perlu kita usahakan bila demikian?
Dalam bacaan I, Yesaya (50:4-9a) mengajak kita untuk berserah kepada Allah. Tuhan membuka telinga dan membuatnya peka dari waktu ke waktu, membantu kita mengerti apa yang sedang terjadi dengan bijaksana. Tuhan pula yang memberi lidah seorang murid, sehingga dengan perkataan kita bisa memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Tuhan pula yang menolong kita ketika berperkara, dan tidak mendapat malu.
Oleh sebab itu, kita perlu meneguhkan hati seperti gunung batu, karena Allah menolong kita. Sepanjang kita bertekun dalam kepasrahan dan doa.
Itu kiranya mengapa dengan tenang, Tuhan Yesus dalam INJIL (Mat 26:4-25) menunjukkan Yudas Iskariot yang akan menghantarkan Nya menjemput maut. Dan, dengan tenang pula Yesus Kristus tetap hidup bersama dengan para murid, tanpa kecuali Yudas Iskariot.
Sejak Minggu Prapaskah V, salib dan semua patung diselubungi kain ungu. Menjadi isyarat bagi kita bahwa mulai saat itu, Gusti Yesus sendirian. Sifat ke-Allah-an Nya pergi, menyisakan sifat manusiawi nya Yesus Kristus. Dengan demikian, kita bisa membayangkan pergulatan Gusti Yesus.
Sebagai manusia yang utuh dengan pikiran dan perasaan, Dia tetap hidup bersama dengan Yudas yang akan menyerahkan Nya kepada maut. Dan, kita melihat bagaimana Yesus tetap biasa, seolah tak terjadi apa-apa.
Inilah terjemahan paling nyata dari kepasrahan iman sehingga sanggup berkata, JADILAH SETURUT KEHENDAK MU. Manusia Yesus, berserah dan pasrah kepada Bapa sebab tau, kehendak Bapa adaah baik. Di balik siksa, luka, dan pedihnya Salib; ada berkat keselamatan di sana.
Kita juga mempunyai hidup bersama sebagai manusia. Di sini kita belajar, pentingnya membangun iman yang pasrah, iman yang berserah. Tak semua berjalan seperti yang kita mau. Tak semua hal terjadi seperti yang kita ingini. COVID-19 ini pun perkara yang tak pernah kita harap dan duga. Namun, semua sudah terjadi.
Maka, dalam situasi seperti ini, bukan kekawatiran dan ketakutan yang kita diskusikan. Namun, bagaimana membangun harapan yang perlu diupayakan.
Melihat banyak orang melakukan kebaikan, membuat harapan kita semakin besar sebab ternyata Allah tetap terus berkarya. Allah terus bekerja melalui banyak tangan yang ada di kiri kanan kita. Bila demikian, di balik semua ini pasti tetap ada harapan dan suka cita.
Mari, berlomba-lomba membuat kebaikan agar kita pun tak hilang harapan dan suka cita hidup ini. Amin
Berkah dalem
REKOLEKSI
Rabu, 19 Agustus 2020 11:47
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Kami para Imam di Keuskupan Agung Semarang, mengadakan rekoleksi mandiri sejak kemarin sore (6/4/2020), menggunakan bahan yang dikirimkan oleh bapa Uskup supaya nanti sore (7/4/2020) bisa mengikuti misa Krisma dan Pembaharuan Janji Imamat online.
Belum pernah, rekoleksi secara online terjadi di KAS ini. Menjadi saat istimewa untuk mengenang kembali makna rekoleksi, yang berasal dari 2 kata:re (kembali) dan koleksi (collection: mengumpulkan). Rekoleksi adalah saat penuh rahmat untuk mengumpulkan kembali, sekian pengalaman sebagai bahan pengolahan untuk pemulihan spiritual (rohani).
Menggunakan bahan yang disediakan, kami diajak memutar kembali pengalaman-pengalaman masa lalu untuk mencari makna hidup, yang membantu kami untuk menemukan kembali jejak Allah dalam hidup ini.
Rasa saya, bacaan-bacaan hari ini pun berkisah perkara yang sama, tokoh bacaan hari ini juga sedang rekoleksi. Yesaya (Bacaan I, Yes 49:1-6) bercerita pengalaman keter-panggilan nya sejak dalam kandungan. Dan, susah payah Ia menemani Israel dan mengatakan bahwa sia-sia bila mereka hanya menegakkan suku-suku Yakub.
Tetapi, mereka harus menjadi TERANG bagi bangsa-bangsa.
Dalam bacaan Injil (Yoh 13:21-33.36-38) kembali, Yesus Kristus menunjukkan beberapa isyarat akan kisah sengsara-Nya. Banyak yang mengasihi-Nya, namun kepada murid terkasih, Yesus Kristus menunjukkan Yudas Iskariot sebagai yang akan mengkhianati. Dan, Petrus pun meyakinkan Yesus jika dia sanggup membela Yesus sampai akhir dengan menyerahkan nyawanya. Namun Yesus menanggapi niatan Petrus dengan mengatakan, jika Petrus akan menyangkal Dia sebelum ayam bekokok 3 kali.
Yesus sedang memberi isyarat, bila Dia akan sendirian saja menyambut kisah sengsara bengis itu…
Seluruh bacaan ini membuat kita merenung, apakah memang akhir dari semua kisah adalah sia-sia belaka? Sungguhkah, semua tiada arti?
Hari ini Gereja juga mengenangkan St Yohanes Pembaptis de la Salle. Dikisahkan bahwa beliau keturunan bangsawan kaya raya. Namun, harta tak membelenggunya untuk memikir melulu diri sendiri dan perkara duniawi.
Dia terpanggil untuk memberikan diri secara lebih lagi. Dan, itulah yang dilakukannya dengan melayani mereka yang membutuhkan, secara khusus dengan pelayanan pendidikan, karya mendesak pada waktu itu.
Dalam situasi ketika COVID-19 seliweran di sekitar kita, kita juga masih menemukan kisah mereka yang berbelarasa. Bahkan, kita pun turut peduli dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sama seperti yang dilakukan oleh St Yohanes Pembaptis, dalam wujud yang berbeda.
Pertanyaannya, mengapa kita perlu peduli dan berbagi dalam situasi ini? Kita lakukan semua itu, karena Kita semua sedang berusaha meneladan ajaran Sang Guru Sejati: mengasihi sesama..
Bila sampai dengan hari ini, kita masih melihat wujud nyata kepeduliaan dan kasih, maka tanpa ragu kita mengatakan bahwa tiada yang sia-sia. Bahkan, kematian Yesus Kristus di kayu Salib, tidak membuat ajaran CINTA itu menjadi padam. Tak pula membuat ajaran untuk TOLONG MENOLONG menjadi sirna. Justru, adalah sia-sia hidup mereka yang tak pernah sempat memikirkan orang lain dan ber-belarasa...
Semoga, nama Tuhan dimuliakan dalam semua upaya baik kita semua. Amin
Berkah dalem
Penerimaan Diri
Rabu, 19 Agustus 2020 11:45
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Saat diam, merenungkan diri… tiba-tiba, dada berdesir dan terasa perih. Karena, ada pengalaman tidak menyenangkan yang lewat, dan teringat. Pengalaman yang lama sudah ingin dipendam, pengalaman yang lama ingin dilupakan. Saking marah dan sedihnya, tanpa sadar air mata lari berhamburan dan tangan mengepal meninju tembok.
Paragraph di atas adalah sebuah kisah yang bila dibayangkan membantu kita untuk membangun kesadaran, bahwa kita mempunyai pengalaman yang tak selalu bisa kita terima. Ada yang menyukakan hati sehingga terus ingin kita simpan dalam hati. Sedang, ingin rasanya membuang jauh pengalaman yang sedih tak menyukakan hati. Pengalaman yang hanya memberi luka setiap kali mengenangnya.
Bacaan hari ini, kita renungkan kebijaksanaan menurut Yesaya bahwa Allah menggunakan setiap peristiwa sebagai cara Dia berkarya (Yesaya 42:1-7). Buluh yang terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya
Sabda ini sedang memberi isyarat kepada kita, bahwa Allah tetap dan terus berkarya di dalam aneka peristiwa. Termasuk peristiwa yang menurut kita hina dan membawa aib. Di sana, Allah tetap ada dan menggunakan pengalaman itu untuk menyatakan karya-Nya.
Iman ini ditegaskan dalam Injil (Yoh 12:1-11), saat Tuhan Yesus mengetahui bahwa Yudas Iskariot yang akan menyerahkan-Nya kepada kematian.”Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.”
Seolah Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita semua untuk menerima dan merangkum setiap peristiwa sambil percaya bahwa Bapa berkarya dan mengatur semua menjadi baik. Oleh sebab itu, kendati Yesus Kristus tahu bahwa Yudas Iskariot-lah yang akan menyerahkan Dia kepada maut, Tuhan Yesus tetap membasuh kaki Yudas dan melayani dia dalam perjamuan malam terakhir.
Usai Minggu Palma, Gusti Yesus mengajak kita untuk turut serta menapaki hari-hari kisah sengsara. Kisah yang sebenarnya juga ingin ditolak oleh sifat manusia Yesus, biarlah piala ini lalu dari pada-Ku, namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi
Dalam situasi virus corona seperti ini, sifat manusia kita pun spontan ingin menolak nya. Bila boleh, janganlah ada virus seperti itu. Apalagi kesulitan hidup semakin tampak nyata di depan kita, membuat kita semakin sulit untuk pasrah dan percaya. Hati kita dipenuhi rasa kawatir akan hari esok.
Bacaan hari ini, mengajak kita untuk berserah dan pasrah. Agar, kita pun bisa menerima peristiwa dan merangkumnya sebagai kenyataan yang harus terjadi. Sebab, kita berusaha yakin dan percaya bahwa semua akan baik pada waktu-Nya. Bapa tetap berkarya dalam setiap peristiwa, termasuk peristiwa yang tidak menyenangkan itu.
Oleh sebab itu, mari kita pun dengan tekun terus berdoa dan bergandengan tangan. Dengan tetap waspada, kita membangun belarasa agar bisa melewati pengalaman ini bersama-sama. Sehingga yang kawatir dan merasa kesulitan dalam situasi ini, tidak merasa sendirian.
Kita percaya, Allah ada bersama kita. Dan, kita yakin bahwa semua ini akan baik pada wakt-Nya. Oleh sebab itu, semoga kita semua tetap ber-suka cita melalui semua ini bersama-sama. Amin
Berkah dalem
Permufakatan Jahat
Rabu, 19 Agustus 2020 11:41
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Hal berkumpul dan mengutarakan pendapat dilindungi oleh undang-undang di Negeri ini. Tak heran bila semangat musyarawah untuk mufakat, sudah kita pelajari sejak dari bangku Sekolah Dasar. Dari sebab itu, kita bisa berkumpul dengan siapa saja untuk membahas satu atau lebih perkara.
Semangat dari musyawarah untuk mufakat adalah menemukan kebijaksanaan dalam kebersamaan. Di sana, semua yang hadir mengemukakan yang baik menurut dia, sampai ada kata mufakat demi kebaikan semua.
Dengan demikian, tak ada yang menonjol dan memaksakan gagasannya sendiri sebagai yang terbaik. Namun, kebaikan itu dicari dalam kebersamaan. Serupa dengan beras yang ditaruh di ayakan (alat penampi), maka akan tersaringlah beras yang bagus dan ber-nas.
Hari ini, kita merenungkan Israel yang menjadi satu bangsa karena Tuhan Allah, sehingga Israel terbebaskan dari kenajisan (Bacaan I Yeh 37:21-28). Dengan cara itu, mereka mempunyai gembala yang akan menuntun langkah mereka menemukan kebenaran.
Dalam bacaan Injil (Yoh 11:45-56) kebersamaan itu masih tampak dalam diri orang Farisi, Ahli Taurat dan Mahkamah Agama. Mereka masih berkumpul untuk ber-mufakat. Namun hari ini, mereka telah bermufakat jahat sebab mereka telah sepakat untuk membunuh Yesus!
Menjadi permenungan tersediri untuk kita semua, bahwa kita berkumpul dan bermufakat tak selalu untuk menemukan kebenaran yang bijaksana. Ada pertemuan yang terselenggara, karena didorong karena rasa tidak suka yang sama. Ada pula pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang karena mempunyai niat sama, yaitu ingin menghakimi orang lain.
Manakala pertemuan itu terjadi, kita ingat pengalaman Yesus Kristus. Dia dijatuhi hukuman, karena sebelumnya sudah ada permufakatan jahat di antara beberapa orang. Dan, beberapa orang itu adalah para pemuka masyarakat dan Agama. Dengan cara itu, permufakatan yang semula hanya terdiri dari beberapa orang itu pada akhirnya bisa mempengaruhi banyak orang untuk ikut dan berteriak,”Salibkan Diaaaa…”
Dalam jaman ini, bahaya untuk terlibat dalam permufakatan jahat ini tetap dan terus mengintip kita. Kebersamaan dan kedekatan kita dengan banyak orang, satu saat bisa mengajak kita masuk ke dalam permufakatan jahat itu.
Dari sebab itu, waspada dan hati-hati adalah sikap utama yang kita perlukan. Apalagi, bila kita sedang ada dalam situasi tak menentu, seperti hari ini karena virus corona. Kita perlu terus menerus hening dan bijaksana, jangan sampai ada pihak mengambil keuntungan sendiri dan yang lain dirugikan karena sebuah keputusan.
Dalam situasi tak menentu karena corona ini, mari kita saling ber-hikmat mencari petunjuk Tuhan. Agar kita bisa saling membantu dan meringankan. Sehingga, kita bersama-sama bisa melewati masa ini dengan tetap suka cita. Amin
Berkah dalem
Imanuel
Rabu, 19 Agustus 2020 11:39
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Dalam keimanan Katolik, Imanuel adalah nama gelar yang disematkan untuk Tuhan Yesus. Imanuel berarti Allah beserta kita.
Iman ini mengajak kita untuk membangun keyakinan bahwa Allah baik, Allah ada, dan Allah menyertai kita semua.
Bacaan I hari ini (Yer 20:10-13), berkisah bagaimana Yeremia dibuat gentar dan takut. Setiap sudut seolah ada mata mengintai yang menunggu dia tersandung. Semua ingin mengadukannya.
Yesus dalam Injil hari ini (Yoh 10:31-42), pun dikisahkan serupa. Dia dikejar untuk dicari kesalahan-Nya lalu diadili.
Mungkin, kita juga mempunyai pengalaman yang mirip. Ketika, banyak mata mengintip, sekian telinga tertuju dan ada orang-orang yang mencari-cari kesalahan. Maka, membangun keyakinan bahwa Allah beserta kita - Imanuel, bukan perkara yang mudah.
Tak jarang pertanyaan mengapa ini terjadi, sering lebih menghantui dan menggelisahkan untuk mendapat jawaban segera. Dan akhirnya, sungguh kegelisahan itu yang memenuhi kalbu.
Dari sebab itu, keyakinan bahwa Allah menyertai kalah dengan gelisah dalam hati.
Serupa namun tak sama, ketika Corona merebak dimana-mana; pertanyaan mengapa terjadi dan bagaimana terjadi; lebih menarik dan menuntut jawaban segera. Keterangan dari banyak ahli (dan yang ditulis sebagai ahli) yang membanjiri kita, pun tak selalu membuat kita tenang. Bahkan, sering terjadi keterangan yang muncul justru membuat kita semakin gelisah.
Akhirnya kegelisahan-kegelisahan yang menumpuk, membuat kita semakin sulit untuk yakin dan percaya bahwa Allah sungguh menyertai kita.
Bukankah sejatinya kita semua dipanggil untuk hidup dengan suka cita karena Allah beserta kita (Imanuel)? Akan tetapi, kekawatiran dan cemas dunia membuat iman kita lelah dan lemah.
Allah tak lagi menjadi pusat hidup kita. Tuhan tak lagi menjadi andalan, ketika kita gampang digelisahka oleh aneka berita dan informasi.
Mari kembali kepada doa. Mari terus membangun keyakinan kita. Karena, semakin bertambah orang yang yakin bahwa semua ini akan berakhir baik, maka terjadilah seturut iman kita bahwa semua akan kembali baik. Amin
Berkah dalem
Garis Keturunan
Rabu, 19 Agustus 2020 11:38
Ditulis oleh Yohanes K. Sugiyarta
Pernah satu kali, ketika menyaksikan pelantikan dokter, bapak Pendeta yang duduk di sebelah saya membisik berkata;”Lihat Romo. Mereka yang jadi dokter, bapak, ibu atau bapak-ibunya juga dokter. Tapi, anak-anak saya tak satupun yang ingin menjadi Pendeta.” Saya jawab dengan singkat,”Sama Pak…”
“Ahh… Romo..” Kata bapak Pendeta itu sambil pelan memukul bahu saya.
Ketika ada seorang anak melakukan sesuatu yang mengagumkan, terdorong hati ini untuk bertanya: siapa orang tuanya? Siapa kakek-neneknya? Bila kita menemu garis lurus yang menurut kita bisa menjelaskan sehingga anak itu bisa melakukan sesuatu yang mengagumkan, kita lalu tenang dan maklum untuk berkata: wajarlah kalau begitu. Begitu pula sebaliknya, kita akan menjadi heran ketika melihat anak itu biasa saja sedangkan dia lahir dari sebuah keluarga yang hebat.
Bacaan hari ini (Kej 17: 3-9, Yohanes 8: 51-59) berkisah yang kurang lebih sama. Bangsa Israel sangat bangga dengan bapa leluhurnya, Abraham. Yang menerima janji dari Allah Yahwe, untuk menjadi Bapa sejumlah besar bangsa. Oleh sebab itu, mereka sangat sakit hati ketika Yesus berkata; Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu, ia telah melihatnya dan ia bersukacita.
Kita bisa membayangkan kemarahan itu. Bapa Abraham telah dicoreng dan direndahkan oleh Yesus yang menurut mereka umurnya pun belum genap 50 tahun. Akan tetapi, Abraham yang telah diakui sebagai Bapa segala Bangsa, ternyata lebih kecil dari pada Yesus. Lebih sakit lagi hati Israel, sebab mereka tahu bahwa Yesus hanyalah anak tukang kayu.
Dalam konteks hidup jaman ini, sering terdengar bahwa Gereja lambat dalam bersikap terkait sesuatu. Sikapnya tidak sigap seperti yang diharapkan oleh kebanyakan dari kita semua. Di sini, saya mengerti bahwa tidak mudah menangkap maksud Tuhan melalui peristiwa. Serupa bangsa Israel yang tergagap untuk bisa mengerti maksud dari sabda dan karya Tuhan Yesus, waktu itu. Banyak dari orang Israel yang menolak Yesus.
Bagi sebagian Israel yang menerima dengan mengikuti Yesus kemana-mana, pun mereka salah mengerti kehendak-Nya. Sehingga, ketika Yesus Kristus harus sengsara memanggul salib tak ada satu pun murid yang menemani. Hanya sang ibu, Ibu Maria yang turut sampai kaki salib.
Berada dalam situasi ketika virus Corona menjadi pandemi di seluruh dunia, membuat kita juga bertanya: apa ini? Dari mana virus ini, dari Tuhan kah? Salah dan dosa siapakah, sehingga kita mengalami ini? Tuhaaan apa mau-Mu, belum cukupkah derita ini ?
Seliweran di telinga dan hati kita, telaah maupun tafsir dari banyak orang yang mencoba memberitahu kita apa di balik semua ini. Namun demikian, tetap tenang dan terus mengkaji dalam hening adalah langkah bijak saat ini. Kita percaya bahwa bila tiba saatnya, kita semua akan mengerti semua ini.
Lebih baik, kita menaruh perhatian bila ada saudari-saudara yang membutuhkan pertolongan yang ada di sekitar kita. Agar mereka tetap bersuka cita karena di dalam situasi yang tidak mudah ini, mereka tidak merasa sendirian. Apalagi para tenaga medis yang sampai saat ini terus bekerja melayani. Tak lupa juga para Pemimpin kita (Pemerintah & Agama), yang juga terus berupaya agar Bangsa kita bebas dari Pandemi.
Ini pesan yang paling jelas tampak dan perlu dukungan kita bersama. Mari kita semakin eratkan gandeng tangan dalam doa dan upaya. Semoga sungguh, suka cita itu bisa kita rasakan bersama-sama dengan semakin banyak orang.
Tuhan berkati
Berkah dalem
